Friday, December 2, 2022

Pemangsa Cantik Bernama Embun Matahari

Rekomendasi

Begitu kaki-kaki serangga mungil itu mendarat, drosera pun beraksi. Daun sang pemangsa cantik itu perlahan menggulung berikut lalat yang terperangkap di dalamnya.

Begitulah cara drosera memikat mangsa. Titik-titik air bak embun pagi nan berkilauan itu sebetulnya semacam perekat. Fungsinya, memerangkap serangga yang mendekat sehingga tidak bisa melepaskan diri dari jeratan cairan lengket seperti lem itu. Saat mangsa berada dalam genggaman, titiktitik air pada ujung-ujung tentakel daun itu kembali bekerja. Perlahan cairan tubuh sang korban diisap. Itulah sumber nutrisi buat sang pemangsa nan cantik.

Itu berbeda dengan “modus operasi” jenis-jenis nepenthes. Si periuk monyet menggoda calon korban dengan aroma yang menguar dari kantong. Begitu mendarat di bibir kantong, serangga yang terpikat tergelincir ke dalam genangan air. Di sana sang mangsa pun meregang nyawa.

Kehadiran tentakel alias tangan-tangan kecil pada lembaran daun memang ciri khas anggota famili Droseraceae. Ciri lain, ya titiktitik air bak embun pagi yang terlihat kemilau saat tertimpa sinar matahari itu—makanya disebut sundew alias si embun matahari.

Tanaman yang namanya dalam bahasa Latin berarti berembun itu jenis karnivora dengan penyebaran paling luas. Drosera ditemukan hampir di seluruh benua, kecuali Antartika. Mulai dari Alaska, Rusia, dan negara-negara Skandinavia di bagian utara hingga ujung selatan Cili, Tanjung Harapan di Afrika Selatan, dan Selandia Baru di belahan bumi bagian selatan.

Si embun matahari terdiri dari sekitar 130 spesies. Dari habitatnya, dikelompokkan menjadi drosera daerah tropis dan subtropis. Si pemangsa cantik itu tumbuh roset, tegak, merayap, hingga menjalar. Beberapa memiliki masa dormansi pada musim panas dan dingin.

Punggu api

Di Indonesia, tumbuh Drosera burmanii. Ukurannya sangat mini. Diameter “tajuk” hanya sekitar 3 cm, dengan bentuk daun seperti baji. Pantas di alam punggu api—nama di daerah Sumatera—kerap terlewatkan oleh para penjelajah hutan. Di habitat aslinya D. burmanii tumbuh baik di dataran rendah dengan tanah berpasir yang berair sebagai tanaman semusim. Sang pemangsa beranak-pinak melalui biji.

Bagi para penggemar pemula tanaman karnivora, drosera merupakan pilihan terbaik. Jenis-jenis tertentu seperti Drosera capensis, D. spathulata, D. binata, dan D. adelae tumbuh menahun dan tanpa masa dormansi. Cukup tanam pada media yang dapat memegang banyak air seperti spagnum moss atau cocopeat. Media pasir yang porus juga bisa dipakai asalkan selalu basah. Caranya dengan menggunakan tatakan pot berisi air.

Tanaman mesti mendapat cukup sinar matahari supaya tidak pucat dan lemah. Air yang dipakai sebaiknya air hujan karena kurang sadah. Air sadah—EC lebih dari 0,1—menyebabkan keracunan pada tanaman. Pemilik tak perlu repotrepot memupuk karena sang pemangsa mendapat pasokan nutrisi dari serangga yang ditangkap. Tertarik memiliki? Inilah drosera-drosera yang layak dicari.

Drosera capensis

Tanaman asal Afrika Selatan itu salah satu jenis drosera yang paling banyak penggemarnya karena paling mudah dirawat. Ada 4 varietas yang sangat populer berdasarkan warna dan bentuk daun, yaitu tipe umum, alba, merah, dan daun sempit. Lazimnya daun memanjang dan memiliki bunga indah berwarna merah muda atau putih dengan diameter 4 cm. Diameter tanaman dewasa mencapai 20 cm. D. capensis tumbuh di daerah dengan temperatur mulai dari 4—40oC.

Drosera spathulata

Jenis ini memiliki penyebaran yang sangat luas, mulai dari kepulauan Jepang hingga Selandia Baru. Wajar varietasnya pun sangat banyak. Si embun matahari itu berbentuk roset dengan daun menyerupai sendok. Bunganya berwarna merah muda atau putih. Diameter tanaman dewasa sekitar 5 cm.

Drosera binata

Drosera ini berasal dari Australia dan Selandia Baru. Bentuk daun menyerupai garpu menjadi ciri khasnya. Diameter tanaman dewasa mencapai 30 cm. Jenis ini cukup beragam, misal berdaun cabang dua, empat, dan delapan dengan ukuran bervariasi. Bunga D. binata berwarna putih.

Drosera adelae

Si embun matahari asal Queensland, Australia, itu memiliki ukuran daun lebih besar dibandingkan 3 saudaranya di atas. Panjang daun tanaman dewasa mencapai 10 cm dengan lebar 2 cm. Bunganya berbentuk bintang berwarna merah. (M. Apriza Suska, penggemar tanaman hias di Bogor)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img