Saturday, August 13, 2022

Penawaran Spesial H Arif

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Senja telah jatuh di Baros, Serang, kala Trubus tiba di kedai H Arif. Udara siang yang cukup menyengat, kini berganti sejuk ditingkahi semilir angin. Di ufuk barat, matahari hampir tenggelam. Namun, bukannya sepi, jongko durian milik ayah 7 anak itu justru kian riuh oleh pembeli.

Setidaknya ada 5 mobil terparkir di dekat kedai. Agak terpisah, beberapa motor dengan helm menggantung di setang berbaris rapi. Kendaraan bermotor itu ditinggal para penumpangnya yang berjejalan di dalam saung bambu berukuran 3 m x 9 m itu. Trubus pun ikut bergabung.

Hm…enak

Suasana berubah riuh kala H Arif keluar dari “gudang penyimpanan” sembari menenteng sebutir durian. “Ini tanpa nama, tapi silakan coba rasanya,” tutur pria berkopiah putih itu. Dalam hitungan detik durian berdaging pucat itu hilang d a r I pandangan. Meski tak bernama, Durio zibethinus itu legit dan terasa lengket di lidah.

Puas melihat pelanggannya antusias, pria 75 tahun itu lantas mengeluarkan andalan-andalannya. Empat jenis durian dijejerkan di tengah-tengah meja. Sang juragan kadu (kadu = durian, bahasa Sunda, red) itu meminta kami mencicipi dari jenis paling kanan ke arah kiri. “Biar makin lama makin enak,” tuturnya.

Benar saja. Si trem—durian paling kanan—berdaging lembut, tebal dengan rasa legit, seperti menyantap cake. Warnanya kuning dan tidak benyek. Satu juring berisi 3 pongge yang lumayan tebal. Penampilan fi siknya pun menarik, duri besar-besar berwarna keemasan.

Di sebelahnya ada si dempok yang berbentuk seperti channee. Pongge yang gendut-gendut terlihat menumpuk di tiap juring. Warnanya benar-benar menarik: kuning cerah, kontras dengan duri yang hijau terang. Rasanya? Ehm…, seperti ada citarasa santan menyergap lidah.

Kuras dompet

Berikutnya giliran si gembok yang dicicipi. Begitu buah dibelah terlihat daging berwarna kuning yang kencang. Aroma harum pun menguar. Ada 2—3 pongge di dalam setiap juring. Begitu masuk ke mulut, rasa manis legit dari daging bertekstur halus langsung terasa. “Uenak tenan,” ujar Suci Puji Suryani, rekan Trubus. Saking liketnya, daging buah seperti menempel di tenggorokan.

L i d a h p u n k i a n dimanjakan waktu si hauk disantap. Durian asal Kampung Simayeng, Desa Kaducokro, Kecamatan Baros, itu bercitarasa susu. Belum lagi saat si dompet disuguhkan. Sekali mencicipi, pasti ketagihan rasa durian berdaging kuning dan legit itu. “Pantas dinamai si dompet. Saking enaknya mesti merogoh dompet terus karena mau makan lagi,” seloroh JK Soetanto, pemilik perusahaan pertanian PT Bogatani yang mania durian itu.

Pantaslah dengan suguhan seperti itu kedai H Arif tak pernah sepi pengunjung. Pelanggannya dari pegawai biasa yang membonceng kendaraan umum hingga pejabat di kantor pemerintahan. “Pak Gubernur kemarin sempat memesan, tapi belum kebagian,” tutur Atmawijaya, putra H Arif. Maklum 100—200 buah per hari pasti ludes di kedai. Artis sekaliber pedangdut A Rafi q dan Masyur S pun kerap berkunjung.

Si potret

Durian-durian istimewa di kedai yang mangkal di tepi jalan antara Serang—Pandeglang sejak 1999 itu diseleksi dari ratusan pohon warisan di seputaran Baros. Namun menurut Aat—sapaan Atmawijaya, ada 5 desa yang kesohor sebagai penghasil raja buah unggul: Kaducokro, Sukacai, Panyirapan, Tamansari, dan Curugagung.

Dari desa yang disebut pertama muncul si kandel tali yang sesuai namanya berdaging tebal (kandel = tebal, bahasa Sunda, red). Atau si mega dengan citarasa santan, si lodong yang seperti ditambahkan susu, dan si bolu wartawan—konon yang pertama kali makan seorang kulitinta—nan memabukkan.

Yang paling istimewa justru kadu asal Sukacai. Si potret—begitu namanya— tebal, luar biasa manis, dan tanpa biji. Pantas durian yang awalnya bernama si bujal itu merebut kampiun kontes durian di Jakarta pada 1972. Kilatan blitz dari kamera para wartawan saat itu membuatnya bersalin nama menjadi si potret. Lantaran unggul, harganya pun selangit. Buah berbobot 3—5 kg dibandrol Rp250.000. Meski begitu, si potret tetap jadi rebutan. Sayang, umurnya tidak panjang. “Tahun ini pohonnya mati tersambar petir,” sambat Aat.

Toh, para mania durian tak perlu kecewa urung mencicipi si potret. Masih ada si onder yang manis, legit, dan lengket tanpa biji; si kokosoyan yang pahang alias pahit; atau si lodong yang juga tak kalah kelas.

Para mania tinggal menyebutkan rasa kegemaran atau harga sesuai budget di kantong. Kedai bambu sang juragan kadu siap menerima tamu selama 24 jam mulai November hingga Maret. (Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img