Friday, August 19, 2022

Pencuri Laba Pekebun Ros

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Akibat serangan tumor yang kini mewabah, produksi mawar turun hingga 75%.

Sayadi Wibowo tengah resah. Maklum, sejak 2007 pendapatan pekebun mawar di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, itu berkurang hingga 20-75%. Sebelumnya Sayadi meraup omzet hingga Rp75-juta per bulan dari hasil panen 5.000 tangkai mawar setiap hari dari lahan 2 ha. “Saat ini hanya bisa panen 4.000 tangkai,” katanya. Sayadi kehilangan pendapatan akibat serangan penyakit “pentol”.

Begitulah para pekebun mawar di Batu menyebut penyakit berupa benjolan yang muncul di batang mawar. Semakin lama ukuran benjolan itu kian membesar menyerupai tumor. “Diameter benjolan bisa mencapai lebih dari 3 cm,” kata Sayadi. Akibat benjolan itu produksi mawar Sayadi anjlok. Produksi tanaman 3-4 tangkai bunga setiap pekan. Gara-gara serangan pentol, tanaman hanya memproduksi setangkai bunga.

Menyebar

Tumor pada mawar bukan hanya menurunkan produksi, tetapi juga mutu, yakni mahkota bunga kecil. Ayah dua anak itu menghadapi serangan terhebat pada 2009 ketika produksi anjlok hingga 75%. Itulah sebabnya, ia menempuh beragam cara untuk mengatasi tumor.

Ia mengatasi dengan menyemprot pestisida berbahan aktif abamectin. Dua pekan pascapenyemprotan benjolan itu membusuk, lalu rontok. Namun, lagi-lagi benjolan muncul di bagian tanaman yang lain. “Bila serangan bisa dikendalikan penurunan produksi hanya 20%,” ujarnya. Sayadi menuturkan serangan tumor batang itu kini mulai meresahkan pekebun mawar lainnya.

Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Hias, Cianjur, Jawa Barat, Dr Ika Djatnika, penyebab munculnya benjolan di permukaan batang mawar itu adalah bakteri Agrobacterium tumefasiens. “Penyakit itu bukan dari Indonesia. Kemungkinan besar penyakit itu terbawa ke Indonesia melalui bibit yang terinfeksi dari daerah endemis seperti Eropa dan Amerika Serikat,” kata Djatnika. Di Eropa penyakit itu populer dengan sebutan crown gall.

Djatnika mengatakan penyakit itu dapat menular melalui tanah dan menyebar melalui bibit tanaman. Kisaran inang penyakit itu cukup luas, yakni lebih dari 160 spesies tanaman dikotil seperti krisan, apel, dan pir. Di kebun Sayadi crown gall sebagian besar menyerang tanaman berumur produktif, yakni umur 2-3 tahun.

Karena pupuk

Menurut Djatnika serangan crown gall sebetulnya bermula sejak bibit. Proses pembentukan benjolan itu memerlukan waktu panjang sehingga seolah-olah baru muncul serangan pada masa tanaman produktif. Celakanya serangan crown gall tidak pandang bulu. Ia dapat menyerang semua jenis mawar. “Sampai saat ini belum ada laporan mengenai varietas yang resisten terhadap crown gall,” kata Djatnika.

Di kebun Sayadi penyakit itu banyak menyerang jenis mawar varietas lawas seperti pergiwo dan pergiwati. Djatnika menduga bakteri itu sudah beradaptasi dengan mawar jenis lama itu. Menurut Djatnika pemicu munculnya crown gall adalah kelembapan udara tinggi. Daerah Batu yang berketinggian 800-1.000 meter di atas permukaan laut berkelembapan tinggi sehingga tanaman lebih rentan terkena serangan.

Pemicu lain, pemberian pupuk nitrogen (N) yang berlebih. Sayadi memang kerap memberikan pupuk nitrogen lebih banyak menjelang hari Valentine pada Februari untuk menggenjot produksi. “Pada bulan itu permintaan mawar paling ramai,” katanya. Sayadi memberikan pupuk nitrogen berupa Urea berdosis 50 kg per 1.000 m2 atau setara 3 gram per tanaman. Jika biasanya pemupukan 6 pekan sekali, menjelang “panen raya” meningkat menjadi 2 pekan sekali selama dua bulan. Ia juga menambahkan pupuk kandang atau kompos dengan dosis 12 kg/m2 setiap enam bulan. Cara itu sukses mendongkrak produksi hingga 35%.

Djatnika menuturkan pemberian pupuk nitrogen tinggi memang dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman. Namun, asupan nitrogen berlebih membuat rongga sel tanaman membesar dan dinding sel menipis. Akibatnya, tanaman lebih rentan terserang penyakit. Bakteri membutuhkan nitrogen lebih tinggi sebagai sumber protein. Pemupukan yang ideal semestinya berupa NPK 15 : 15 : 15 dengan dosis 5 gram per tanaman. Interval pemupukkan setiap 14 hari selama 4 bulan.

 

Kutu putih

Untuk mengatasi tumor mawar, Djatnika menyarankan untuk memotong tanaman yang terserang 10 cm dari lokasi tumor, lalu oleskan antibiotik pada bekas potongan. Namun, Djatnika tidak menjamin cara itu ampuh karena serangan tumor bersifat sistemik. Itulah sebabnya untuk menghadapi serangan penyakit itu lebih baik mencegah daripada mengobati.

Pencegahan tumor harus sejak masih bibit, terutama pada tanaman introduksi. Sebelum menanam, celupkan bibit dalam bakterisida yang mengandung antibiotik streptomisin dan tetrasiklin. Selain itu sterilkan media tanam dengan mengukus media selama 2 jam setelah air mendidih. Setelah itu kering anginkan selama satu malam dan media tanam pun siap digunakan.

Djatnika mewanti-wanti agar pekebun menjaga gunting pemotong tangkai bunga tetap steril. Celupkan gunting dalam air detergen sebelum digunakan kemudian bilas dengan air bersih. Selain tumor, pekebun mawar juga tengah menghadapi serangan kutu putih yang mewabah di berbagai sentra seperti di Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Di lahan Solihin, pekebun di Cihideung, kutu putih itu begerombol pada pangkal batang, pucuk, dan tangkai bunga. Serangan kutu putih itu meninggalkan jejak berupa bercak hitam di tangkai sehingga penampilan bunga kurang menarik saat panen. Hanya gara-gara bercak hitam, Solihin kehilangan pendapatan hingga 15% karena bunga potong yang terserang tidak laku dijual.

Untuk mengatasinya, Djatnika menyarankan agar pekebun menyemprotkan insektisida yang bersifat kontak, misalnya berbahan aktif triazofos atau deltametrin. Dosisnya sesuaikan dengan petunjuk dalam kemasan. Tambahkan pula 1 sendok makan detergen yang dilarutkan dalam 10 liter air. Semprotkan larutan ke gerombolan kutu putih. Dengan begitu kutu pergi dan tak kembali. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Bondan Setyawan dan Imam Wiguna)

Keterangan Foto :

  1. Permintaan bunga mawar naik menjelang perayaan Valentine
  2. Sayadi Wibowo, penyakit tumor mulai menyerang kebun mawarnya sejak 5 tahun silam
  3. Tanaman mawar terserang crown gall
  4. Semua jenis mawar dapat terserang crown gall
  5. Kutu putih biasanya bersarang di buku-buku batang dan permukaan daun muda
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img