Sunday, November 27, 2022

Pendekar Turun Gunung

Rekomendasi

Di awal Februari 2009 tapa raksasa dari Afrika itu usai sudah. Ia dibenamkan ke dalam kardus lalu dibawa ke sebuah tempat: area pameran flora dan fauna di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta Timur. Di sana kardus dibuka lalu humiflora dipajang bersama 49 sansevieria lain. Perjalanan ‘turun gunung’ sansevieria asal Afrika itu tak sia-sia. Ia dinobatkan sebagai kampiun sansevieria di kelas pipih tebal di ajang Kontes Sansevieria Trubus Agro Expo 2009.

Di ajang kontes itu humiflora membuktikan layak sebagai juara. ‘Sosoknya paling kompak dibanding peserta lain,’ kata Sentot Pramono, juri kontes. Pertumbuhan daun pun stabil, berukuran seragam. Koleksi Herman Widjaja dari Jakarta Utara itu terlihat lebih matang ketimbang 2 saingan terberatnya: horwood milik Tangerang Sansevieria Club dan sansevieria hibrid koleksi nurseri Aristokrat Sansevieria.

Menurut Sentot, stabilnya pertumbuhan daun hawaiian star karena kondisi lantai 30 apartemen disukai sansevieria. ‘Embusan angin kencang, jadi media tidak pernah tergenang air,’ kata Herman. Selama 2 tahun Herman pun tak pernah mengganti media dan pot. Akibatnya pertumbuhan sansevieria tak pernah terganggu. Laju pertumbuhan daun sansevieria memang gampang berubah. Ia cepat merespon perubahan komposisi hara di media. Misal, daun menjadi cepat tumbuh karena kandungan hara bertambah.

Setara

Sejatinya horwood, pesaing terberat hawaiian star tak kalah menawan. ‘Sepintas kualitasnya setara. Daun sehat dan sosoknya matang,’ kata Yayan Pribadi, juri kontes. Sayang, ada beberapa ruang yang tidak ditumbuhi daun sehingga terlihat kosong. Horwood pun mesti puas di posisi runner up. Di posisi ketiga sansevieria hibrid terlihat cantik meski kurang matang karena masih muda.

Persaingan sengit juga terjadi di kelas daun bulat. Di kelas bergengsi itu Sansevieria burdettii bersaing keras dengan Sansevieria cylindrica ‘all night star’. ‘Keduanya sama-sama langka dan matang. Mungkin keduanya paling prima di antara jenis serupa yang beredar saat ini,’ ungkap Sentot. Akhirnya burdettii koleksi B’Green Garden, Bekasi, menang tipis atas all night star milik Duta Ong, Tangerang.

All night star menyerah karena ada titik kering di bagian bawah daun yang mengurangi penampilan. Di posisi ketiga bertengger samurai dwarf dari Tangerang Sansevieria Club. Di kelas lain yaitu daun pipih tipis, juara ke-1-3 berturut-turut diraih hahnii streaker koleksi Iwan Rassat; golden wendy, Azira Farhan; dan black brazilian, Jihan Florist. ‘Ketiganya benar-benar prima dan sulit dirawat,’ ujar Idariani Tahir. Hahnii menjadi yang terbaik karena selain sulit dirawat sosoknya kompak.

Berkualitas

Menurut Sentot, secara umum kualitas peserta kontes membaik dari sebelumnya. Hanya saja peserta yang baru turun gunung-kecuali hawaiian star-banyak gagal menjadi kandidat juara karena para mantan juara turut bersaing. Sebut saja di kelas daun pipih tipis. Sang jawara, hahnii streaker, pernah merebut 2 kali jawara pertama dan sekali juara ke-2 di kontes yang digelar di Jabodetabek.

Contohnya pada kontes yang digelar di Pondoklabu, Jakarta Selatan, 2 minggu sebelumnya. Hahnii menaklukkan 16 pesaingnya di kelas trifasciata. Ketika itu 3 juri-Sentot Pramono, Anna Sylvana, dan Imam Wiguna-menobatkannya sebagai yang terbaik. ‘Induknya betul-betul sehat dengan anakan di sekelilingnya yang prima,’ kata Anna. Dengan tampilan itu sulit bagi sansevieria lain-terutama yang tumbuh tunggal-untuk mengalahkannya. Di kontes itu tercatat 30 sansevieria berduel menjadi yang terbaik. (Destika Cahyana/Peliput:Lastioro Anmi Tambunan dan Tri Susanti)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img