Peneliti di Universitas Samudra Teliti Keanekaragaman Spesies Sayuran Liar : Perlu Langkah Penyelamatan untuk Ketahanan Pangan

0
sayuran liar
Para peneliti mengidentifikasi sayuran liar di lokasi penelitian. ( Dok. Adnan)

Trubus.id—Mempertahankan keberagaman sumber daya genetik tanaman merupakan hal penting untuk perbaikan dan pengembangan tanaman budidaya. Pasalnya saat ini sekitar 90% produksi makanan dunia berasal dari sekitar 30 spesies tanaman.

Sementara 12 spesies domestikasi merupakan sumber kalori. Kondisi itu berpotensi memberikan tekanan pada faktor biotik dan abiotik pertanian modern di masa mendatang.

Alternatif lain memanfaatkan tanaman liar yang bisa dimakan berkontribusi terhadap pertanian dengan meminimalisir ketergantungan kita terhadap komoditas pangan tertentu.

Sekitar 7.000 tanaman dibudidayakan sebagai pangan atau pengobatan dari vegetasi alami di seluruh dunia. Tanaman liar menyediakan nutrien penting sebagai sumber pangan alternatif yang dapat dikonsumsi mentah atau diproses menjadi bahan pangan.

Kehadiran tanaman liar penting untuk memastikan ketahanan pangan global. Tanaman liar juga menyediakan beragam sumber genetik untuk produksi tanaman budidaya. Karakter unggul tanaman liar antara lain resisten penyakit dan hama serta lingkungan yang marginal.

Semua keunggulan itu bisa diturunkan pada tanaman budidaya sehingga lebih kuat dan produktif melalui persilangan. Spesies sayuran liar yang dapat dimakan atau wild edible vegetable species (WEVs) mengacu pada tanaman yang tumbuh secara alami dan dapat dikonsumsi sebagai makanan.

Masyarakat tidak membudidayakan sayuran liar karena tanaman itu lazimnya berada di hutan atau area terbuka lainnya. Meskipun kurang populer, sayuran liar menyediakan nutrisi bagi mereka yang tertarik dengan sumber pangan alami.

Namun keberadaannya di alam terancam oleh berbagai faktor. Salah satu ancaman yang paling serius yaitu perusakan habitat yang disebabkan oleh urbanisasi, penggundulan hutan, dan ekspansi pertanian, yang mengurangi area alami tempat tanaman itu hidup.

Pemanenan sayuran liar secara berlebihan untuk tujuan komersial juga mengurangi populasi dan mengganggu keseimbangan alam. Ir. Adnan M.P., dosen di Departemen Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Samudra meneliti keanekaragaman spesies sayuran liar.

Ia meneliti sayur liar yang dapat dimakan dan potensinya sebagai bahan pangan di Kabupaten Aceh Selatan dan Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). 

Penelitian etnobotani yang berlangsung pada Mei—Juni 2023 itu melibatkan 383 responden yang dipilih secara acak dari 10 desa. Semua responden berasal dari masyarakat adat.

Hasil penelitian yang termaktub dalam Ethnobotany Research and Applications itu menunjukkan terdapat 86 spesies liar yang terdiri dari 35 famili dan 67 genus sebagai sayuran liar yang konsumsi penduduk setempat di daerah penelitian.

Jumlah itu lebih banyak daripada 55 sayuran liar di Pakistan bagian barat laut hasil penelitian Abbas dan rekan, 50 spesies di Maroko (penelitian Powell pada 2014), dan 10 spesies di Jawa Barat (penelitian Kodir dan rekan pada 2022).

Namun jumlah itu lebih kecil dibandingkan dengan 253 sayuran liar yang dapat dikonsumsi yang dilaporkan di Sisilia, Italia, hasil penelitian Geraci dan rekan pada 2018 dan 158 spesies di Lebanon (penelitian Baydoun pada 2023).

Terdapat 10 sayuran liar yang disukai hampir semua responden Terdapat 10 sayuran liar yang disukai hampir semua responden. Baca selengkapnya pada Majalah Edisi 653 April 2024 mengupas tuntas Harga Meroket: Bisnis Kakao Bergairah. Dapatkan Majalah Trubus Edisi 653 April 2024 di Trubus Online Shop atau hubungi WhatsApp admin pemasaran Majalah Trubus