Peneliti BRIN dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Joko Ridho Witono, mengungkap temuan terbaru terkait keberadaan Rafflesia hasseltii di Sumatera Barat. Temuan ini merupakan bagian dari riset kolaboratif dengan Universitas Bengkulu dan Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu dalam proyek The First Regional Pan-Phylogeny for Rafflesia.
Riset tersebut bertujuan merekonstruksi hubungan filogenetik seluruh jenis Rafflesia di Asia Tenggara. Penelitian mendapat dukungan dari University of Oxford Botanic Garden and Arboretum serta Program RIIM Ekspedisi BRIN.
Menurut Joko, Indonesia dan Filipina merupakan negara dengan keanekaragaman Rafflesia tertinggi di dunia. Hingga kini, tercatat 16 jenis Rafflesia di Indonesia dan tim BRIN telah mengumpulkan 13 sampel untuk analisis DNA.
Ia menegaskan bahwa penelitian ini membantu memahami hubungan kekerabatan antarjenis Rafflesia. Upaya itu juga memastikan konservasi bunga langka tersebut tetap mengacu pada habitat asli.
Penelitian yang dimulai awal 2025 ini melibatkan kolaborasi lintas negara. Tim BRIN memegang kendali penuh atas pengumpulan dan analisis sampel di Indonesia.
Negara lain seperti Malaysia dan Filipina turut melakukan riset paralel. Joko menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan secara legal dan tidak ada material genetik yang keluar dari Indonesia.
Salah satu momen penting terjadi saat survei di Bengkulu dan Sumatera Barat. Di Sijunjung, Sumatra Barat, tim berhasil mendokumentasikan Rafflesia hasseltii yang sedang mekar di hutan kelola masyarakat.
Temuan ini menunjukkan bahwa habitat bunga tersebut tidak berada di kawasan konservasi. Lokasinya berada di hutan yang dikelola Lembaga Pengelola Hutan Nagari.
Joko menjelaskan banyak populasi Rafflesia ditemukan di luar kawasan konservasi. Beberapa bahkan tumbuh di kebun kopi dan sawit milik masyarakat.
Hal ini menunjukkan pentingnya konservasi berbasis masyarakat. Tanpa edukasi yang baik, keberadaan Rafflesia berpotensi hilang akibat aktivitas manusia.
Fenomena menarik terjadi saat dokumentasi lapangan berlangsung. Seorang anggota Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu, Septian Riki, menangis haru saat melihat Rafflesia hasseltii mekar di habitat aslinya.
Video emosional tersebut viral di media sosial. Momen itu sekaligus meningkatkan perhatian publik pada pelestarian flora langka ini.
Joko menjelaskan bahwa riset ini menggunakan metode Whole Genome Sequencing (WGS). Pendekatan ini memetakan keseluruhan gen Rafflesia secara utuh.
Selama ini penelitian DNA Rafflesia hanya meneliti potongan gen berukuran kecil. WGS memberikan gambaran genom lengkap hingga jutaan pasangan basa.
Metode tersebut membuka peluang ditemukannya spesies baru. Perbedaan signifikan pada data WGS dapat menjadi indikasi jenis baru Rafflesia.
Namun, riset lapangan Rafflesia menghadapi banyak tantangan. Bunga ini hanya mekar beberapa hari dan banyak tumbuh di lokasi terpencil.
Menemukan Rafflesia dalam kondisi mekar atau berbentuk knop tidaklah mudah. Informasi akurat dari masyarakat lokal sangat dibutuhkan.
Joko juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dan masyarakat. Tim BRIN akan menyusun naskah kebijakan sebagai rekomendasi konservasi nasional.
Sebagai scientific authority, BRIN memiliki tanggung jawab menyediakan dasar ilmiah bagi pelestarian hayati Indonesia. Rekomendasi itu akan menjadi rujukan pengelolaan jangka panjang.
Selain temuan Rafflesia hasseltii, penelitian ini membuka peluang penemuan spesies baru. Indonesia diharapkan menjadi pusat penelitian dan konservasi Rafflesia dunia.
Dengan kolaborasi internasional dan pendekatan sains yang kuat, pelestarian bunga langka ini dapat terjamin. Joko menegaskan pentingnya keberlanjutan riset tersebut.
Melalui penelitian ini, BRIN memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi ilmiah global. Temuan tersebut membuktikan pentingnya kolaborasi berbasis data genetik untuk keberlanjutan lingkungan.
