Friday, December 2, 2022

Pengering Gabah Tenaga Surya

Rekomendasi

Hujan menjadi hambatan besar bagi petani untuk mengeringkan gabah. Menurut Dr Agus Setyono, periset Balai Penelitian Tanaman Padi, potensi kerugian akibat gabah tak kering mencapai 100%. Artinya gabah petani terancam tak bisa dijual. Jika beruntung petani hanya mampu menjual 40% volume panen. Karena ketiadaan sinar matahari, gabah hanya ditumpuk dalam karung. Padahal proses pemecahan energi masih berlangsung di gabah.

Karbohidrat dipecah menjadi karbondioksida, air, dan panas. Panas itulah yang kemudian mendorong timbulnya cendawan pada gabah. Akibatnya gabah berwarna hitam dan beras menjadi kusam seperti dialami Hambali. Panas yang keluar pun menyebabkan percepatan proses biokimia yaitu aktivasi enzim yang berakibat menurunnya mutu gabah. Selain itu rendemen gabah pun akan turun akibat banyak yang berkecambah.

Tenaga surya

Andai saja memanfaatkan mesin pengering, Hambali tak akan pernah menghadapi hambatan seperti itu. Meski hujan turun sepanjang hari, ia tetap dapat mengeringkan gabah. Maklum, mesin pengering bikinan Prof Dr Kamaruddin Abdullah MS itu memanfaatkan energi terbarukan seperti biomassa, sinar matahari, dan angin sebagai sumber energi.

Ahli mekanisasi pertanian itu mengeringkan gabah dengan memanfaatkan perbedaan kandungan uap air antara gabah dengan udara. Dampaknya terjadi penguapan uap air dari gabah ke udara. Oleh karena itu kelembapan nisbi udara relatif rendah daripada gabah sehingga air dalam gabah menguap ke udara dan gabah pun kering.

Ketika cuaca terang, mesin pengering bekerja dengan menangkap sinar matahari. Abdullah melengkapi mesin dengan struktur transparan berbahan polikarbonat sebagai penyerap sinar matahari. Penangkap sinar matahari itu kemudian digabungkan dengan ruang pengering. Di sanalah panas sinar matahari diembuskan untuk mengeringkan gabah. Posisi mesin pengering menghadap arah utara-selatan agar proses penyerapan sinar matahari maksimal.

Mesin pengering gabah itu berukuran panjang 6 m, lebar 6 m, dan tinggi 3,5 m. Di dalamnya terdapat 2 bak pengering masing-masing berukuran 2 m x 1 m yang mampu menampung total 500 kg gabah. Abdullah menyarankan ketebalan gabah maksimal 30 cm. Dengan ketebalan itu, petani tak perlu membolak-balik gabah selama proses pengeringan. Namun, jika ketebalan gabah lebih dari 30 cm, pengering harus membalik gabah 1 jam sejak awal pengeringan. Pembalikan hanya sekali dilakukan bertujuan agar gabah kering merata.

Sebuah blower berkekuatan 2 x 0,5 kW terpasang untuk mengembuskan energi panas surya yang dihubungkan dengan bak pengering. Abdullah melengkapi mesin pengering dengan kipas sirkulasi untuk mengalirkan udara panas. Selama 2 hari mesin mampu mengeringkan 2 ton gabah dengan kadar air 14%.

Sumber energi lain adalah udara kering. Itu didapat dari proses pemanasan air yang ditampung dalam tangki berkapasitas 200 liter. Air dipanaskan menggunakan biomassa pengganti sinar matahari. Fungsinya sebagai sumber udara kering yang digunakan sebagai pengering gabah. Proses pengeringan ini bisa dilakukan malam hari.

Setelah gabah dimasukkan ke dalam bak, segera tutup plastik polikarbonat. Dengan menekan tombol, mesin akan bekerja mengeringkan gabah selama 10 jam. Doktor teknik pertanian alumnus Tokyo Agricultural University, Jepang itu mengatakan suhu pengering mencapai 40-50oC. Itu jika kelembapan relatif udara di dalamnya mencapai 30-60%, iradiasi matahari rata-rata 500 watt per m2, dan suhu lingkungan 30oC.

Rumah kaca

Abdullah menyebut mesin bikinannya sebagai pengering surya efek rumah kaca. Efek rumah kaca yang ditemukan oleh Jean Baptiste Joseph Fourier, matematikawan dan fisikawan masyhur dari Perancis, menengarai bahwa akumulasi gas, terutama karbondioksida, meningkatkan suhu permukaan bumi. Ia memanfaatkan fenomena itu untuk mengeringkan gabah atau bahan lain seperti jagung, bawang merah, kakao, dan rumput laut.

Radiasi panas surya terdiri atas inframerah berukuran 10-1-10-2 alias gelombang panjang dan gelombang pendek berupa cahaya tampak berukuran 10-1-1 m. Keduanya mampu menembus media ruang tembus cahaya. Bedanya gelombang panjang tidak bisa keluar ruangan dan mengakibatkan suhu ruangan meningkat dibanding suhu luar ruangan.

Itu menyebabkan penguapan tinggi. Agar penguapan tetap berlangsung, kelembapan harus dijaga dengan mengaktifkan kipas angin. Meski cuaca mendung, bahkan hujan deras petani tetap dapat mengeringkan gabah. Sebab, petani dapat memanfaatkan beragam biomassa seperti sekam, arang, atau tempurung kelapa sebagai sumber pemanas. Bila suhu air dalam tangki melebihi 50oC segera nyalakan pompa air dan kipas angin. Tujuannya agar suhu kembali ke angka 45oC. Itu suhu untuk pengeringan gabah, lebih dari itu gabah akan pecah.

Menurut Ir Khoirul Anam, penangkar benih di Sukamandi, Subang, pengeringan dengan mesin sangat efisien. ‘Hujan yang turun terus-menerus menyebabkan gabah sulit kering dan mengganggu kelangsungan gabah menjadi bibit. Hujan yang turun pun mengancam gabah berkecambah,’ kata Anam. Dengan mesin, petani dapat mengeringkan gabah kapan pun ia mau, siang atau malam, bahkan ketika hujan sekalipun. (Faiz Yajri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img