Saturday, June 22, 2024

Penghias Teras dari Negeri Antah Berantah

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Anggota Cucurbitaceae itu kian menarik lantaran pangkal batangnya besar, mirip bonggol adenium. Dari bonggol itu tumbuh cabang kecil yang terus merambat. Bila dibiarkan, panjang ranting bermeter-meter. Agar tidak berantakan, Husny melilitkan ranting membentuk lingkaran di atas tajuk.

Sosoknya yang unik membuat pengusaha sarung itu kesengsem mengoleksi, meski nama dan asal-usulnya tak jelas. Ia pun membeli 2 batang. Ternyata sukulen penyuka sinar matahari itu tahan dipajang dalam ruangan. Biar tetap elok, tanaman yang diperoleh dari salah satu nurseri di Surabaya itu secara periodik dibawa keluar ruangan. Itu supaya ranting tidak kurus karena mengalami etiolasi.

Euodia sp

Yang jatuh cinta pada tanaman tak bernama bukan hanya Husny. Henry M. Yamin, pemilik kavling 12 & 14 di Taman Anggrek Ragunan, Jakarta Selatan, juga mengoleksi tanaman berdaun seperti tercabik-cabik. Tepi daun meruncing.

Ia mendapatkannya waktu berjalanjalan ke sentra tanaman hias di Puncak, Cipanas. Kontan, daun yang unik ditingkahi buah kecil-kecil seperti anggur tapi tegak itu menyita perhatian Yamin—panggilan akrabnya. Tak banyak cingcong, ia nekat membeli. Sampai beberapa waktu tanaman itu tetap tak bernama. Maklum setali tiga uang, rekan-rekan Yamin sesama hobiis pun tak pernah menjumpai tanaman itu sebelumnya.

Nama Euodia ridleyi diketahui setelah Trubus bertemu Gregori Hambali. Pakar botani itu mengenalinya sebagai tanaman perdu asli Asia Tenggara, kerap juga disebut evodia. Tanaman beranak daun 3 dan tersusun menjari itu rupanya masih sekerabat dengan jeruk—anggota famili Rutaceae. Menurut Greg sapaan Gregori Hambali evodia memang cocok untuk penghias ruangan maupun di tempat terbuka.

Pohon mauritius

Masih banyak tanaman hias tanpa nama dan asal-usul yang seolah datang dari negeri antah berantah. Toh, di mata kolektor itu justru menarik. Sebut saja pohon mauritius koleksi Chandra Gunawan. Sepintas tanaman yang diperoleh dari seorang kolega di Thailand itu biasa saja.

Ia jadi istimewa kala tajuk sudah merimbun dari pangkal batang hingga pucuk membentuk kerucut. Dikombinasikan dengan pot indah, ia jadi tambah menarik. Dengan sosok seperti itu ia menarik dipajang di ruangan atau taman. Pohon mauritius didatangkan sang teman dari negara kecil di timur Afrika.

Trevesia palmata

Koleksi Chandra yang lain ialah Trevesia palmata ‘Micholitzii’ dikenal dengan sebutan snowfl ake plant. Diameter daun mencapai 40 cm dan bentuknya menjari. Tanaman itu diperoleh dari Thailand.

Spesies yang ada di Indonesia Trevesia sundaica, dikenal dengan sebutan panggang atau panggang cucuk di daerah Sunda, atau borang, gabus, dan gorang di Jawa. Perbedaan keduanya, takik T. palmata lebih dalam.

Sosok daun kedua tanaman itu seolah 2 tingkat. Di ujung daun yang menjari, tumbuh daun baru yang bercangap. Warnanya hijau kebiruan dan mengkilap. Ranting agak berduri, meski tidak berbahaya. Tinggi batang mencapai 4—8 m. Di Jawa, ia ditemukan di daerah pada ketinggian 300—1.500 m dpl. Travesia lebih pas diletakkan di pojok teras lantaran lebih senang pada area ternaungi. Bila di pot, ia membutuhkan pot besar karena sosok juga besar.

Uvaria rufa

Koleksi lain, Uvaria rufa milik Soeroso Soemapawiro. Di Jawa anggota famili Anonaceae disebut kalak; Lampung; rarap nyapu. Buahnya bulat kecil, berdiameter 1 cm, tersusun dalam dompolan. Ia kerap dipakai mainan anak-anak di Jawa. Ketika matang, buah yang merah cerah rasanya manis bercampur asam.

Di habitatnya tinggi uvaria mencapai 8 m. Karena kemeriahan buah saat matang, kolektor bonsai di Pondok Indah, Jakarta Selatan, itu tertarik mengoleksi. Ia menanam tanaman setinggi 100 cm dalam pot berdiameter 40 cm. Ketika buah matang, jadilah pohon kecil yang menarik dipajang.

Lepisanthes sp

Gregrorio Hambali pun tak ketinggalan mengoleksi tanaman langka yang diperoleh dari hasil perburuan di hutan-hutan Kalimantan. Sepintas ia mirip pakis-pakisan lantaran susunan daunnya membentuk lingkaran. Daunnya terdiri dari anak daun yang tersususn amat rapat, melingkari batang.

Pada bagian pucuk muncul bunga mirip bunga bayam. Warnanya cokelat, seukuran buah lengkeng. Sayang daun terendah gampang rontok, sehingga bila makin tinggi, keindahan berkurang. Lepisanthes sp—nama yang akhirnya ditemukan— itu kini sudah melanglangbuana ke mancanegara. (Syah Angkasa/Peliput: Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berbisnis Olahan Bayam, Anak Muda Asal Tasikmalaya Raup Omzet Puluhan Juta

Trubus.id—Bayam tidak hanya menjadi sumber zat besi, tetapi juga bisa menjadi sumber cuan bagi  Filsya Khoirina Fildzah, S.Kep., Ners...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img