Monday, November 28, 2022

Pengorbanan Monyet Tak Berujung

Rekomendasi

Itu obat penenang dan pencegah mual bikinan Grunenthal. Padahal, sebelum beredar di pasaran pada 1953 – 1958, produsen obat di Jerman itu menguji praklinis talidomid dengan jasa mencit, kelinci, kucing, dan anjing.

 

Dari uji ilmiah itu terbukti, talidomid aman dikonsumsi dan tanpa efek samping. Oleh karena itu Grunenthal yang bermarkas di Stolberg, Jerman, mengedarkannya ke sejumlah negara di Eropa. Namun, akhirnya obat yang juga berefek pada kesemutan dan kelainan serabut saraf tepi itu ditarik. Produsen pun menguji ulang. Bukan pada mencit atau kelinci, tetapi memanfaatkan jasa monyet. Hasilnya, mengejutkan: bayi monyet lahir cacat persis anak manusia yang ibunya mengkonsumsi talidomid saat hamil.

‘Monyet memang hewan percobaan yang paling dekat dengan manusia,’ kata Dr Muhammad Ahkam Subroto, ahli peneliti utama Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Sejak saat itu monyet banyak dimanfaatkan sebagai hewan percobaan. Menurut Dr Entang Iskandar, ahli primatologi dari Institut Pertanian Bogor, secara anatomi dan fi siologi monyet mirip manusia. Sebagai gambaran, jumlah kromosom monyet 42. Malahan monyet mangabey Lophocebus albigena berkromosom 44, selisih 2 ketimbang manusia. DNA simpanse 98% identik dengan DNA manusia.

Karena monyet mirip manusia, ‘Untuk pengujian suatu obat atau bahan biologis, akan mendapatkan gambaran klinis dan fi siologis yang mirip jika digunakan pada manusia,’ kata Dr dr Irma H. Suparto dari Pusat Studi Satwa Primata. Dr Jatna Supriatna, ketua Asosiasi Primatologi Asia Tenggara menuturkan, ‘Monyet disebut photohuman, apa yang ada di manusia, primitifnya seperti hierarki kepemimpinan, sistem sosial, dan peperangan ada pada monyet. Bahkan, cinta sejenis dan perkosaan juga kerap terjadi pada monyet.’

Sebutan monyet mengacu pada primata berekor panjang; kera, tanpa ekor seperti orangutan. Dari 35 spesies primata di Indonesia, yang sohor sebagai satwa percobaan adalah beruk Macaca nemestrina dan monyet ekor panjang Macaca fascicularis. Yang memberi nama itu Sir Thomas Stamford Raffl es ketika usianya 40 tahun pada 1821. Macaca pinjaman dari bahasa Portugis: macaco berarti monyet. Fascicularis boleh jadi mengacu pada kelompok kecil, 5 – 6 ekor per grup. Memang anggota famili Cercopithecidae itu ada juga yang berkelompok hingga 50 ekor.

Monyet-monyet itulah yang akhirnya menjadi hewan percobaan dalam riset biomedis seperti penelitian HIV-AIDS, produksi vaksin polio, kardiovaskuler, dan gastoenterik. Singkat kata monyet ekor panjang khususnya, amat berjasa menguak kesehatan manusia. Para ahli acap meminta tolong Macaca artoides untuk menguji obat kardiovaskuler, arteriosklerosis, hipertensi, dan pulmonal. Sedangkan kerabatnya, Macaca nigra tak cuma jago memanjat pohon kelapa. Ia juga berjasa dalam riset diabetes mellitus dan reproduksi terapan.

Obat untuk mengatasi filariasis alias kaki gajah diuji coba di lutung Presbytis cristata. Polio pernah menjadi epidemi di Amerika Serikat yang merenggut ribuan jiwa. Berkat jasa monyet rhesus Macaca mulatta, pada 1982 cuma ada 7 kasus polio di negeri Abang Sam itu. Gibon atau wau-wau Hylobates lar menjadi hewan percobaan hepatitis dan tingkah laku. Tingkah laku? Harus juga diingat, manusia belajar tingkah laku dari monyet.

Sebelum 1970-an, dokter-dokter memisahkan bayi yang baru lahir dari ibunya. Ternyata pemisahan itu memicu stres bayi. Para ahli kemudian mengamati tingkah laku monyet setelah persalinan. Bayi merah itu didekapnya dan induk memberikan ASIM alias air susu ibu monyet. Sejak itulah dokter-dokter manusia menganjurkan untuk mendekatkan ibu yang baru melahirkan dan bayinya. Daftar jasa monyet terhadap manusia bakal kian panjang jika menyebut satu per satu. Sekadar menyebut contoh lain adalah riset malaria, AIDS, efek alkohol terhadap ibu hamil, dan lupus. Dunia ramai memanfaatkan jasa baik monyet sejak 1970. Padahal, 61 tahun sebelumnya Landsteiner menggunakan monyet rhesus untuk mengetahui reaksi imunologi penyakit polio. Pada 1940 – 1950 vaksin poliomyelitis baru diproduksi. Berkat jasa baik monyet asal India itu.

Pantas jika kebutuhan dunia akan bangsa primata semakin besar. Pada 1977 saja Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 30.000 primata antara lain 14.015 monyet rhesus, 6.005 monyet ekor panjang, 995 Macaca sp, 4.445 Saimiri sciureus, dan 2.075 Cercopithecus aethiops. Satu dasawarsa berselang kebutuhan negeri itu lebih dari 105.000 primata yang didominasi oleh monyet ekor panjang, mencapai 80.000 ekor. Indonesia salah satu eksportir monyet terbesar, mencapai 24.000 ekor per tahun. Menurut Jatna harga seekor monyet mencapai US$300 setara Rp3-juta.

Celakanya negara-negara maju yang memerlukan monyet untuk riset biomedis, malah tak punya primata. Itulah sebabnya penangkapan monyet di hutan cenderung meningkat. Pada saat bersamaan hutan yang menjadi habitat monyet rusak akibat penebangan liar dan alih fungsi. ‘Jika tempat hidupnya rusak, maka terjadi gangguan terhadap ketersediaan pakan, tempat berlindung, dan berbagai hal yang mendukung kelangsungan monyet ekor panjang,’ kata Asep R Purnama dari ProFauna Indonesia.

Kebutuhan untuk riset itu mesti ‘bersaing’ dengan urusan perut. Maksudnya, monyet juga dijajakan sebagai makanan. Menurut Purnama monyet diperdagangkan untuk dikonsumsi daging dan otaknya. ‘Setiap tahun diperkirakan 3.000 monyet dibantai untuk dikonsumsi dagingnya. Sebagian orang percaya bahwa daging dan otak monyet berkhasiat sebagai obat kuat. Anggapan yang tidak ada dasar ilmiahnya,’ kata Purnama.

Hasil investigasi ProFauna Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Alas Indonesia pada 2001 di Lampung ditemukan perburuan monyet ekor panjang lebih dari 3.000 ekor. Padahal kuota tangkap untuk daerah Lampung cuma 500 ekor. Memang Sejak 1994 Indonesia membuat regulasi, monyet untuk riset biomedis harus hasil penangkaran.

Dalam 3 tahun terakhir kuota tangkap monyet ekor panjang meningkat. Kuota tangkap monyet ekor panjang dari alam pada 2006 hanya 2.000 ekor, 2007 (4.100 ekor), dan 2008 (5.100 ekor). Di Indonesia ada 7 lokasi penangkaran. Yang terbesar dikelola oleh Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) Institut Pertanian Bogor. Lembaga itu mengelola penangkaran monyet ekor panjang di Pulau Tinjil, Provinsi Banten. Itulah satu-satunya penangkaran monyet di sebuah pulau yang terpisah dari kehidupan manusia.

Menurut Dr Entang Iskandar, kepala penangkaran, saat ini populasi monyet di pulau seluas 600 ha itu mencapai 603 ekor dari 2.000 ekor daya dukung lahan. Penghuni pulau berjarak 16 km dari daratan Jawa itu didatangkan dari hutan-hutan di Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jawa Barat. Sebelum ditempatkan di sana, para monyet menjalani pemeriksaan kesehatan dan fi sik selama 3 – 6 bulan. Ukuran tubuh harus proporsional dengan umur. Jika ada monyet berumur 4 tahun, tetapi ukuran tubuh relatif kecil, langsung diapkir. Yang jantan malah dites jumlah dan mutu sperma dengan ekstraejakulator.

Singkat kata hanya monyet unggul dan sehat yang ditempatkan di sana. Itulah sebabnya, pengunjung pulau itu mesti menjalani tes kesehatan. Maaf, pengidap tuberkulosis terlarang datang karena berpotensi menulari para monyet. PSSP memanen perdana pada 1990. Dalam 3 tahun terakhir, lembaga menuai rata-rata 200 ekor per tahun.

Monyet-monyet top itu lalu diseleksi ulang sebelum dimanfaatkan sebagai satwa percobaan. Meski sebagai hewan percobaan, mereka diperlakukan sangat ‘manusiawi’.

‘Ada komisi etik – Komisi Pengawas Kesejahteraan dan Penggunaan Hewan Percobaan – yang menjamin monyet sebagai hewan model hidup nyaman dan sejahtera,’ kata dr Irma H Suparto. Sebelum percobaan dimulai pun, komisi itu berhak tahu – misalnya soal takaran dosis pembiusan. Jangan heran jika di kandang-kandang penangkaran, para monyet disediakan puzzle berbentuk bulat. Di dalamnya terdapat makanan kesukaan monyet. Kadang disediakan bola karet, boneka, bahkan televisi. Tujuannya cuma satu: agar monyet nyaman dan sejahtera. Begitu banyak jasa baik monyet terhadap manusia. Pantaskah kita menjadikan satwa itu sebagai umpatan untuk melampiaskan kekesalan? (Sardi Duryatmo)

Previous articleEksplorasi Bangka
Next articleBahan Bakar dari Limbah
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img