Kementerian Ekonomi Kreatif menegaskan penguatan sektor hilir kopi sebagai prioritas dalam percepatan pengembangan ekonomi kreatif nasional. Upaya ini diarahkan untuk mempercepat tumbuhnya usaha kopi olahan dan meningkatkan daya saing kuliner berbasis kopi.
Direktur Pengembangan Sistem Pemasaran dan Hubungan Kelembagaan Kemenparekraf, Radi Manggala, menyebut Indonesia memiliki keunggulan geografis yang memungkinkan kopi tumbuh dari Sabang hingga Merauke. Namun, daya saing kopi nasional masih menghadapi berbagai tantangan di lini hilir.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Sri Nuryanti, menegaskan Indonesia tetap berada dalam lima besar negara pengekspor kopi dunia. Meski demikian, keunggulan ini belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan petani dan ekonomi daerah.
Melalui webinar “Peningkatan Daya Saing Produk Unggulan Daerah Berbasis Kopi”, ia berharap muncul rumusan kebijakan baru untuk memperkuat ekosistem kopi nasional. Webinar ini juga diharapkan mendorong diseminasi teknologi dan kolaborasi lintas sektor.
Peneliti BRIN, Nendyo Adhi Wibowo, mengulas inovasi teknologi untuk meningkatkan daya saing kopi daerah. Ia menyebut penurunan luas perkebunan kopi hingga 2025 tidak sebanding dengan tingginya permintaan dunia.
Meski demikian, produktivitas kopi rakyat menunjukkan peningkatan berkat perbaikan pengelolaan di tingkat on-farm. Namun, peningkatan nilai kopi dunia belum diimbangi dengan produktivitas nasional yang memadai.
Nendyo menyoroti bahwa nilai impor kopi pada 2023 lebih tinggi dibanding ekspor, meski Robusta tetap mendominasi pengiriman ke luar negeri. Kondisi ini menunjukkan perlunya standardisasi mutu dan pemilihan biji berdasarkan grade serta penerapan SNI.
Ia mengulas integrasi agrowisata kopi yang menghubungkan perkebunan, industri olahan, dan sektor wisata. Konsep ini dinilai mampu memperkuat ekonomi daerah melalui diversifikasi kegiatan berbasis kopi.
Seluruh anatomi buah kopi, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi. Produk turunan seperti teh cascara, lulur ampas kopi, hingga partikel board menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman teknologi pengolahan dari green bean hingga kopi bubuk karena berpengaruh pada karakter rasa. Arabika, Robusta, dan Liberika memiliki profil rasa berbeda yang harus dipahami produsen.
Nendyo menekankan perlunya pendampingan dan kolaborasi daerah untuk memastikan teknologi pengolahan dapat diterapkan optimal. Ia juga mendorong adanya pertemuan teknis lanjutan di tingkat daerah sebagai bentuk penguatan hilirisasi riset.
Radi Manggala menambahkan bahwa percepatan hilirisasi kopi selaras dengan arah RPJMN 2025–2029. Ia menyebut subsektor kuliner termasuk kopi merupakan prioritas pemerintah karena kontribusinya terus meningkat.
Data BPS menunjukkan nilai tambah PDB, ekspor, dan tenaga kerja ekonomi kreatif hampir dua kali lipat dibanding 2013. Bahkan, capaian tenaga kerja sektor ini telah melampaui target 2025.
Kemenparekraf memiliki delapan klaster unggulan Asta Ekraf untuk mendukung tumbuhnya usaha hilir kopi. Klaster ini mencakup penguatan data, kebijakan, talenta, infrastruktur kreatif, KI, pembiayaan, akses pasar, dan sinergi ekraf.
Konsep kolaborasi hexa helix juga dikembangkan dengan menambahkan lembaga keuangan sebagai penyedia akses pembiayaan. Upaya ini diharapkan memperkuat ekosistem kreatif di seluruh subsektor termasuk kopi.
Radi menyebut nilai pasar kopi dunia pada 2025 mencapai 369 miliar USD, dengan lebih dari separuh pendapatan berasal dari kopi sangrai. Angka ini menunjukkan besarnya peluang bisnis kuliner berbasis kopi.
Konsumsi kopi global juga meningkat pesat dalam satu dekade terakhir termasuk di Tiongkok. Sementara itu, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa masih menjadi pasar utama kopi Indonesia.
Indonesia memiliki keragaman kopi dari Aceh hingga Papua dengan 38 produk berstatus indikasi geografis. Namun, strategi pemasarannya masih dinilai belum terstruktur dan berjalan sendiri-sendiri.
Kemenparekraf kini tengah menyusun identitas pemasaran nasional untuk produk kreatif termasuk kopi. Inisiatif Creative by Indonesia menjadi langkah awal dalam membangun branding nasional tersebut.
Pemerintah juga menggandeng jenama kopi nasional yang telah berekspansi ke luar negeri untuk memperkuat rantai pasok. Kerja sama ini diharapkan membuka peluang bagi merek lain untuk menembus pasar global.
Promosi offline melalui festival kopi dan business matching terus dilakukan. Pada saat yang sama, Direktorat Kuliner juga menjalankan misi promosi kopi di Sydney.
Melansir pada laman BRIN, Kemenparekraf membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mempromosikan produk kopi olahan melalui platform resmi mereka. Radi menyebut produk yang siap dipasarkan dapat dibantu promosinya lewat website dan media sosial Creative by Indonesia.
Radi berharap hilirisasi kopi menjadi wajah kekuatan ekonomi kreatif Indonesia di pasar global. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi riset, pemasaran, dan inovasi untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri kopi dunia.
