Thursday, December 8, 2022

Penyuling dari Titik Nol

Rekomendasi

 

Produksi 5.000-6.000 kg minyak pala itu untuk memasok 6 eksportir yang tersebar di Medan, Jakarta, dan Padang. Penyuling di Cikereteg, Kabupaten Bogor, itu mengatakan permintaan riil mereka, ‘Tak terbatas.’ Selama ini ia tak pernah kesulitan memasarkan minyak asiri.

Bahkan, minyak asiri produksinya yang berkualitas menjadi rebutan eksportir. Itulah sebabnya posisi tawar Rahmad saat menentukan harga jual cukup kuat. Dengan harga jual minimal Rp450.000 per kg, omzet Rahmad Rp2,25-miliar-Rp2,70-miliar sebulan. Menurut Rahmad biaya produksi per kg minyak Rp340.000 sehingga laba bersihnya mencapai Rp350-juta sebulan.

Tekanan tinggi

Rahmad Hidayat Syam memperoleh rendemen rata-rata 14%, malahan kadang-kadang hingga 15%. Menurut Ir Antonius Dian Adhy Feryanto, penyuling pala, rendemen rata-rata penyulingan pala di Indonesia 14%. Minyak pala yang ia hasilkan juga bermutu tinggi dengan kadar miristin 8-10; sabinen, 18-20. Bandingkan dengan rata-rata kadar miristin minyak pala produksi penyuling yang cuma 8-9; sabinen, 15-18.

Menurut Rahmad rendahnya kadar sabinen antara lain karena proses produksi yang keliru. Banyak penyuling meningkatkan tekanan hingga 3 bar; idealnya 2 bar. Itu dilakukan untuk mempercepat penyulingan menjadi 21 jam dari rata-rata sebelumnya 24 jam.

Celakanya cara itu justru berdampak buruk, anjloknya bilangan sabinen. Selain itu aroma minyak juga tak sedap, seperti gosong. Dengan tekanan 3 bar-berarti suhu mencapai 160oC-menyebabkan gugus sabinen pecah. Padahal, idealnya penyulingan pala secara bertahap seperti ditempuh Rahmad. Ia meningkatkan tekanan menjadi 3 bar hanya dalam 4 jam terakhir.

‘Setelah minyak muda habis, barulah tekanan ditingkatkan untuk mengambil minyak berat,’ kata Sarjana Ekonomi itu. Minyak muda yang ia maksudkan adalah sabinen; minyak berat, miristin. Rahmad juga menggunakan uap basah pada 3 jam pertama penyulingan. Uap basah adalah uap hasil pembakaran boiler yang langsung disalurkan ke tangki bahan baku. Jika uap panas itu disalurkan ke ruang lain untuk dipanaskan sekali lagi, disebut superheated alias uap panas.

Uap basah berfungsi untuk melayukan bahan sehingga pori-pori biji pala mengembang. Dampaknya minyak lebih mudah keluar dan terbawa uap panas. Setelah 3 jam, ia menggunakan uap panas hingga proses penyulingan berakhir. Uap panas mempercepat keluarnya minyak. Rahmad menerapkan teknik uap tak langsung. Sejak 1,5 tahun lampau ketika pemerintah mencabut subsidi harga minyak tanah, ia memanfaatkan batubara sebagai sumber panas.

Dalam sekali proses penyulingan-selama 21 jam-ia menghabiskan 1.000 kg batubara berkalori 5.500 kkal. Dengan harga Rp750 per kg, ia hanya memerlukan Rp750.000 untuk sekali proses penyulingan. Bila memanfaatkan minyak tanah, Rahmad menghabiskan 20 liter per jam atau total 420 liter untuk sekali penyulingan. Saat ini harga seliter minyak tanah Rp5.000 sehingga biaya bahan bakar mencapai Rp2,1-juta.

Pengumpul

Selama berbisnis minyak asiri Rahmad tak selamanya menempuh jalan mulus. Pada 2004, misalnya, ia kehilangan Rp2-miliar. Ia memberikan masing-masing Rp100-juta kepada 20 pengumpul pala. Rahmad percaya betul ketika mereka meminta uang muka untuk pembelian pala. Sayang, mereka tak pernah menyetor biji pala hingga uang habis. Hingga kini uang itu tak pernah kembali.

Untung Rahmad tak patah semangat. Penyuling sejak 2001 itu malah bersyukur karena akhirnya tahu pengumpul yang baik. Sekarang ia berencana memindahkan lokasi penyulingan ke Caringin, Kabupaten Bogor. Pada April 2009 ia membangun industri penyulingan pala di atas lahan 6.000 m2. Dari sana ia menargetkan 15 ton minyak pala per bulan untuk memasok importir dari Amerika Serikat dan India.

Sebelum menekuni penyulingan pala, Rahmad merasa dibuang oleh keluarga. Mula-mula ibundanya yang mengidap lever mengajak Rahmad dan istri ke Semarang untuk berobat. Tujuh hari setelah berobat, ibu kembali ke Medan, Sumatera Utara. ‘Saya juga ingin pulang, tapi ibu melarang,’ ujar Rahmad. Ternyata berobat ke Semarang hanya ‘tipu muslihat’ agar Rahmad memulai hidup baru di ibukota Provinsi Jawa Tengah itu.

Semarang yang baru pertama kali didatangi, masih asing bagi anak ke-3 dari 6 bersaudara itu. Toh, ia tak punya banyak pilihan untuk bertahan. Seorang kenalan membawanya ke sentra pala di Ungaran, ibukota Kabupaten Semarang. Rahmad membeli buah-buah pala segar dan mengambil biji buah Myristica fragrans. Di halaman rumah kontrakan, ia menjemurnya hingga kering berkadar air 15%.

Selain di Semarang, ia juga mencari buah anggota famili Myristicaceae itu ke Boyolali, bahkan ke Banyuwangi, kota paling timur di Pulau Jawa. Setelah terkumpul 200 kg pala kering-biasanya dalam 5 hari-berangkatlah Rahmad ke Bogor, Jawa Barat, pada sore hari. Tiba di terminal Baranangsiang, Kota Bogor, pada keesokan hari ia menumpang mandi di peturasan umum.

Suling sendiri

Rahmad lantas membawa biji pala kering dengan angkutan kota ke tempat penyulingan di Ciawi, Kabupaten Bogor. Di sanalah ia belajar proses menyuling pala. Hasil penjualan minyak pala ia gunakan untuk membeli bahan baku. Begitulah aktivitas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara itu selama setahun.

Pria kelahiran Tapaktuan, Provinsi Aceh, 20 Agustus 1978 itu lalu meninggalkan Ungaran dan menetap di Bogor pada 2001. Alasannya sederhana untuk mendekatkan ke lokasi penyulingan. Enam bulan kemudian ia memutuskan membangun penyulingan sendiri di Cikereteg, Kabupaten Bogor. Ketika itulah ia meralat keseimpulan bahwa orangtua mengirim ke Semarang bukan bentuk pembuangan. ‘Saya harus belajar dari nol, bagaimana cara panen pala yang baik, cara menjemur,’ kata pria 30 tahun itu. (Sardi Duryatmo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Lengkap! Budidaya Cacing Sutra Sistem Apartemen Hemat Tempat dan Air

Trubus.id — Peningkatan tren ikan hias diikuti dengan permintaan pakan tinggi. Cacing sutra menjadi salah satu pakan ikan hias...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img