Friday, December 2, 2022

Perampok di Ladang Kentang

Rekomendasi

Dari negeri nan jauh, berjarak 12.077 km, cendawan itu akhirnya datang ke Indonesia. Untuk keperluan pengadaan bibit Indonesia mengimpor dari Irlandia. Di sini P. infestans juga bikin ulah, terutama pada November-Desember. ‘Serangan paling tinggi pada November,’ kata Final Prajnanta, ahli penyakit dan proteksi tanaman. Itu disebabkan saat musim hujan kelembapan tinggi sehingga cendawan itu mudah berkembang biak.

Lihat saja Haji Ayi Sutarya Rahmat, pekebun di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Pada 1997, ia gagal panen karena serangan cendawan anggota famili Pythiaceae itu. Ketika itu ia menanam 10 ha kentang. Lima ha di antaranya terserang lodoh-demikian sebuan P. infestans di sana. Bila volume panen 20 ton/ha, ia kehilangan hasil Rp130-juta pada tingkat harga Rp1.300/kg.

Bercak cokelat

P. infestans datang dengan isyarat bercak cokelat kehitaman di permukaan daun muda. ‘Bercak lalu melebar membentuk area nekrosis berwarna cokelat keputihan,’ kata Prof Dr Meity S Sinaga, ahli penyakit tumbuhan, Institut Pertanian Bogor.

Doktor Fitopatologi alumnus University of the Philipine Los Banos, Filipina, itu mengatakan hawar daun menyerang ketika kentang berumur 4-5 pekan. Pada umur itu daun memasuki fase vegetatif. Tak ada bagian yang tersisa jika P. infestans menyerang. Setelah daun, cendawan yang ditemukan pertama kali pada 1845 oleh Montage itu juga menyerang batang dan umbi secara cepat. ‘Percikan air hujan menyebabkan spora cendawan ganas tersebar,’ kata Meity.

Umbi kentang yang terserang menjadi melekuk dan berair. Ketika kita membelah umbi, tampaklah warna cokelat, busuk, sehingga tak laku dijual. Celakanya perkem-bangbiakannya begitu cepat. Sebab P. infestans patogen yang memiliki patogenisitas beragam. Ia mampu berkem-bangbiak secara aseksual alias tanpa perkawinan. Maklum, ia mempunyai zoospora, jadi bisa berkecambah langsung tanpa melewati fase zoospora. Namun, ia juga bersifat heterotalik alias mampu berkembang biak secara seksual lantaran memiliki oospora.

Perantara penyebaran paling utama adalah benih yang berpotensi mengandung cendawan. Angin juga berperan menye-barkan spora dari satu tanaman ke tanaman lain, bahkan dari satu daerah ke daerah lain. Sama seperti air mengalir yang dapat menyebarkan cendawan sehingga seluruh kebun terkontaminasi.

Setelah menyebar dengan bantuan air, angin, serangga, dan manusia, spora-spora itu mengeluarkan zoospora berbentuk bulat telur. Saat kondisi basah dan dingin ia berkecambah. Spora berbentuk kantung memiliki flagela atau bulu cambuk yang merusak daun dan batang. Kondisi yang menghangat mempengaruhi perkecambahan langsung dan membuat sporangium mampu menyerap hara dari jaringan umbi. Jika antheridium dan oogonium hasil sporangium bertemu maka terbentuk oospora yang nantinya juga berkembang menjadi sporangium.

Organik-nonorganik

‘Untuk menanggulanginya, tanaman yang sudah terkena mesti segera dicabut dan dibakar. Setelah itu dibuang jauh-jauh agar tidak terpendam di tanah,’ kata Meity. Selain itu, jika akan menanam kentang sebaiknya tanah dibiarkan beberapa waktu agar terkena sinar matahari sehingga cendawan mati. Pun bibit, mesti dari tanaman sehat, umbi sehat, dan tidak cacat. Ciri umbi yang sehat tampak segar, tidak busuk, berkulit mulus, tidak ada bekas-bekas serangan hama penyakit. Bobotnya rata-rata 30 g.

‘Itu untuk pencegahannya. Tetapi jika sudah terkena, mesti diberi pestisida,’ kata Zaenal, pekebun kentang di Sembalun, Nusa Tenggara Barat. Di pasaran terdapat beberapa fungisida untuk mengatasi serangan P. infestans. Beberapa di antaranya adalah Revus yang diproduksi oleh Syngenta, Trivia (Bayer), serta Victory 80WP dan Starmyl 25WP (Tanindo). Revus, berbahan kimia mandipropamid. Fungisida itu bekerja dengan dosis rendah 0,6 liter per hektar dengan penyemprotan 7 hari sekali. Selama satu tahun pemakaian, lodoh sama sekali tak pernah datang ke lahan kentang granola Zaenal seluas 1 ha. Produktivitas juga meningkat dari 21 ton menjadi 25 ton.

Menurut Arya Yudas, ahli penyakit PT Syngenta, Revus bekerja menghentikan perkecambahan spora cendawan, pertumbuhan miselium serta sporangia. Akhirnya tanaman terlindungi dari serangan penyakit, menghentikan perkembangan dan mencegah penyebaran penyakit ke bagian tanaman lain. Daun cenderung hijau, berfotosintesis maksimal sehingga perkembangan umbi menjadi lebih besar. ‘Lantaran tak ada penyakit, ukuran dan bobotnya seragam,’ kata Arya. Hasil kentangnya lebih mahal Rp4.000/kg, sebelumnya Rp3.000.

Penggunaan pestisida nabati juga mulai dicoba oleh pekebun. Penanaman kentang ditumpangsarikan dengan seledri Apium graveolens atau membuat pestisida nabati asal kipahit Anastrophus compressus. Pekebun juga memanfaatkan cendawan Trichoderma sp dan Pseudomonas fluoresen sebagai agen antagonis untuk melawan hawar daun. Cendawan memang kurang efektif dibandingkan pestisida kimia. Namun, selektivitasnya tinggi dan tidak menimbulkan resistensi terhadap Phytophthora. Selain itu tidak berefek seburuk pestisida kimiawi yang mempercepat infeksi lodoh dari 4-5 pekan menjadi 2-3 pekan. Apalagi pengendalian hayati relatif murah. (Vina Fitriani).

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img