Tuesday, November 29, 2022

Perburuan di Pulau Topi

Rekomendasi

Maklum kala itu durian tengah membanjir. Hampir di setiap sudut terlihat penjual menjajakan si raja buah. Ke sanalah Trubus berkunjung di suatu malam yang berhujan.

Tiba di lokasi, Winoto, kenalan Trubus di Lombok, langsung mendatangi seorang perempuan paruh baya. Dengan cekatan ia memilah-milah durian dalam tumpukan-tumpukan di lapak milik perempuan itu. Sesekali pantat Durio zibethinus itu ditepuk-tepuk lalu diendusnya. “Saya pilih yang ini,” kata Wilopo sambil menyorongkan 4 durian berukuran sedang.

Keempatnya langsung tandas begitu dibelah. “Hm… enak-enak semua,” tutur Dr M Reza Tirtawinata, MS, yang ikut dalam rombongan. Tiga bercitarasa manis, sebuah pahit. Sayang, daging buah tipis menyebabkan rasa puas masih menggantung. “Ini memang belum seberapa. Nanti kalau sudah menikmati durian-durian unggul Lombok, baru terasa nikmatnya,” seloroh Winoto.

Jatuhan

Benar saja. Lezatnya durian Lombok terasa benar waktu Trubus berkunjung ke kebun di kawasan Taman Air Narmada di Kompleks Istana Narmada. Di sana puluhan pohon anggota famili Bombaceae tumbuh meraksasa. Maklum itu memang “kebun warisan” Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem. Penguasa Kerajaan Karangasem Sasak itu lebih dari 100 tahun silam menanam puluhan bibit raja buah itu.

Suara gedebuk mengagetkan Trubus dan rombongan yang baru saja melangkahkan kaki memasuki kebun. Di sepanjang November—Desember—saat panen raya, “hujan” durian memang kerap terjadi. Toh rasa kaget itu langsung terbayar lunas begitu mencicipi suguhan Juarsah.

Lelaki berperawakan kecil itu menjadi orang yang beruntung dalam pelelangan untuk mengelola panen durian musim itu. Ia menyodorkan belasan durian berukuran sekepalan tangan ke arah Trubus dan rombongan. Meski berpenampilan kurang meyakinkan, rasa daging buah sungguh menggoyang lidah.

Yang pertama dicicipi si gula bersosok bulat penuh. Daging kuning pucat dengan rasa manis sesuai namanya gula. Si gadung pun tak kalah enak. Ciri khasnya berkulit hijau dan wangi. Daging buah sangat lengket dan legit. Si payuk pun legit sedikit beralkohol dengan penampilan memikat: daging buah kuning terang. Semua berbiji kempes.

Namun, yang paling istimewa tentu saja tong medaye. Durian yang namanya dalam bahasa Sasak berarti tidak diragukan lagi rasa dan keunggulannya itu berdaging kuning, harum, lengket, dan manis legit sedikit pahit. “Gawat! Jadi pengen makan terus nih, habis enak semua,” seloroh Kusumo Tjahyanto, kelapa divisi Komersil Taman Wisata Mekarsari yang ikut dalam rombongan.

Si hijau

Lombok memang pantas disebut gudang si raja buah. Hampir di setiap sudut pulau berbentuk topi bangsawan Inggris terdapat sentra kerabat kapuk itu. Puas menyantap durian dari kebun Istana Narmada, Trubus disodori si hijau. Meski belum punya nama resmi, durian dari Dusun Peresak itu tak kalah lezat ketimbang si payuk. Pantas bila Reza Tirtawinata langsung mengangguk begitu diajak mencari pohon induk ke sentra.

Kepuasan kian terasa bila sedapir dan kelapa gajah pun dicicipi. Durian asal Desa Perenang, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa Besar, itu berukuran tidak terlalu besar tapi berdaging tebal, biji tipis, dan, “Sangat-sangat enak,” kata Ir Ahmad Sarjana, MM, kelapa Balai Pengawasan dan Sertifi kasi Benih Nusa Tenggara Barat. Maka kala musim durian tiba keramaian pun terasa di sentra penanaman hingga ke sudut kakilima meski malam telah menjelang. (Evy Syariefa)

Ada Tong Medaye di Cianjur

“Rasanya ngga kalah deh dengan tong medaye,” kata seorang rekan Trubus yang mendapat kiriman durian dari Cianjur. Ukuran buah sedang, kulit hijau, dan daging kuning, tebal, halus, dan manis legit. Biji hampir semuanya hepe. Pokoknya benar-benar mirip tong medaye. Waktu Trubus mengecek pohon induk di kebun percobaan Sekolah Pertanian Menengah Atas Cianjur di Pasirsembung, Cianjur, ternyata itu memang durian asal Lombok yang ditanam 15 tahun silam.

Setiap musim dipanen 50—100 buah dari pohon yang sudah tumbuh menjulang. Tak jelas siapa yang memboyongnya ke sana. Yang pasti tong medaye tumbuh subur dan produktif berbarengan dengan si hepi, si kirik, dan jati pandang. “Di antara durian yang tumbuh di sini tong medaye yang paling enak,” tutur Ir Imam Supiandy, kepala sekolah. Toh, tidak ada ruginya mencicipi Durio zibethinus lainnya.

Si kirik berdaging tebal, manis, dengan ciri khas pongge bertumpuk. Jati p a n d a n g — konon asal Jawa Timur—berkulit hijau kecoke l a t a n , berdaging kering, manis, legit sedikit berpati. Si hepi yang bibitnya didatangkan dari Majalaya berdaging kuning dan lembut. Yang unik ada si bagong yang berduri tumpul, berkulit tebal sehingga sulit dikupas. Namun, begitu buah terbelah, rasa daging kering dan legit memuaskan lidah. (Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img