Tuesday, August 9, 2022

Pergi atau Mati

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Demi bos yang mati lantaran lehernya terluka, Pitra Panderi, petugas ekosistem hutan Taman Nasional Merubetiri, mengetik surat kematian dan berita acara. Di dokumen itu Pitra detail mengisahkan penyebab kematian berupa luka di leher yang menyebabkan pendarahan. Kedua surat itu masing-masing mencantumkan 5 orang saksi. Lalu kedua surat itu dikirim ke Koramil Ambulu, Kabupaten Jember. Begitulah ruwetnya mengurus kematian bos karena bobotnya saja luar biasa, sampai 350 kg, dan harus menguburkan pula. Itu memang bukan kematian bos biasa, tetapi Bos javanicus alias banteng.

Berita acara kematian dan surat kematian sebuah keharusan lantaran banteng termasuk satwa langka. Mengapa banteng meregang nyawa? Pada kasus 17 Juli 2006 lantaran terjadi suksesi alias pergantian pemimpin. Menurut Prof Dr Ali Kodra, ahli banteng dari Institut Pertanian Bogor, pertarungan antarbanteng karena persaingan, termasuk persaingan menjadi pemimpin. Anggota famili Bovidae itu memang hidup berkelompok terdiri atas 9-40 ekor. Setiap kelompok dipimpin seekor pejantan.

Nah, proses pergantian pemimpin itu ditempuh dengan bertarung seperti disaksikan Nirun, karyawan PT Bandealit pengelola perkebunan kopi. Saat hendak ke ladang ia mendengar suara gaduh di blok Kedungwatu, Bandealit, Kabupaten Jember. Ia lantas mendekati asal suara dan tampaklah 2 banteng jantan tengah bertarung. Sebelas jam kemudian saat ia kembali melintasi area itu, seekor banteng mati lantaran leher terluka akibat tertusuk tanduk lawan. Banteng umur 10 tahun dengan panjang 2 meter itu tersingkir dari takhta pemimpin dan digantikan anggota kelompoknya yang lebih muda.

Pertarungan 11 jam itu tergolong singkat. Ketut Efendi, petugas ekosistem hutan Taman Nasional Merubetiri, pernah menyaksikan pertarungan hingga sepekan. Sepanjang hari mereka bertarung, lalu malam beristirahat. Keesokan pagi pertarungan hidup-mati itu berlanjut kembali. Suksesi berdarah itu memang kerap terjadi bila salah satu petarung tidak pergi. Bagi mereka hanya ada 2 pilihan: pergi atau mati. Anehnya, pertarungan itu tak melulu melibatkan antarjantan.

Ketut juga pernah melihat, seekor betina membantu rekannya yang jantan untuk melawan pemimpin kelompok. Akibatnya terjadi pertarungan 2 lawan satu. Pertarungan sesama banteng memang alamiah dan tak dapat dilerai. Siapa berani melerai satwa liar bertanduk tajam? Jika akhirnya ada yang mau mengalah, ia bakal hidup menyendiri. Menurut Ali Kodra, kesendirian mereka hanya sementara. Jika belum terlalu tua-banteng bertahan hingga 30 tahun-ia bakal menggaet betina dari kelompok lain.

Seekor jantan dan seekor betina itu kemudian melahirkan generasi sehingga terbentuk clan alias kelompok kecil. Jika belum menggaet betina lain, apa boleh buat ia tetap sendiri lagi. Nah, banteng yang sendiri itulah yang lebih galak. Adi Sucipto, petugas Taman Nasional Merubetiri pernah dikejar-kejar banteng soliter. Ia memanjat pohon karet. Celakanya, kerabat sapi itu malah menunggu hingga 3 jam lamanya. Banteng soliter dan bila umur telah senja, para tersisih itu menanti ajal dalam kesendirian.

Fenomena banteng keluar dari kelompok hal lumrah. ‘Biasanya jantan atau betina muda yang keluar dari kelompoknya. Seperti oranglah, kalau yang muda kan lebih dinamis,’ ujar guru besar Fakultas Kehutanan IPB itu. Mereka keluar membentuk kelompok baru. Itu sekaligus juga mencegah terjadinya kawin sedarah. Selain suksesi, pertempuran juga terjadi akibat berebut betina. Oleh karena itu menurut Ali Kodra idealnya rasio jantan : betina di sebuah kelompok 1 : 4-8.

Padahal, menurut riset Ir Garsetiasih MP, peneliti konservasi alam, rasio jantan : betina di Merubetiri 1 : 1,76 untuk dewasa; 1 : 1,57, remaja. Artinya perbandingan jumlah jantan dan betina hampir berimbang sehingga memicu perebutan betina pada saat musim kopulasi atau kawin tiba. Di Alaspurwo, Kabupaten Banyuwangi, musim kopulasi banteng jatuh pada Oktober. Kerabat kerbau itu bersifat monoestris alias berkopulasi hanya pada musimnya.

Untuk menyeimbangkan rasio jantan : betina, Ali menyarankan untuk menerapkan culling system. Intinya mengurangi jumlah pejantan sehingga lambat laun keseimbangan sebuah kelompok banteng dapat tercapai. Selain suksesi dan rebutan betina, banteng juga bertarung untuk mempertahankan wilayah teritorialnya. Menurut Ali Kodra, satwa mamalia itu menandai wilayah teritorialnya dengan kotoran. Penguasaan area itu terkait dengan sumber pakan dan air.

Jika ada kelompok lain yang merumput, pemimpin yang merasa menguasai wilayah itu akan mempertahankannya. Tentu saja dengan bertarung. ‘Tapi itu hanya permulaan. Nanti akan ada pengaturan secara hierarki. Misalnya, yang menang akan minum dulu, kemudian yang kalah, dan satwa lain seperti babi hutan mendapat giliran minum berikutnya,’ ujar doktor Satwa Liar alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Itulah sebabnya padang rumput amat penting di sebuah taman nasional.

Di sana kawanan satwa yang menjadi simbol beberapa partai politik nasional itu tak cuma merumput. Namun, transfer ‘ilmu pengetahuan’ juga dilakukan di padang terbuka itu. ‘Induk mengajarkan kepada anaknya bahwa ia juga harus berhubungan dengan satwa lain seperti merak, kijang, atau babi hutan. Induk juga mengajari bagaimana mengenali tanda-tanda bahaya,’ katanya. Singkat kata, padang rumput bukan sekadar tempat makan, tapi juga ‘sekolahan’ bagi banteng muda.

Banteng beranjak dewasa pada umur 3 tahun. Masa bunting selama 9,5-10 bulan. Kebanyakan induk hanya melahirkan seekor anak hanya dalam semenit. Empat puluh menit kemudian bayi banteng itu mampu berdiri; 60 menit berselang, menyusu ke induknya. Pada umur 10 bulan, induk akan menyapih anaknya. Ketika beranjak dewasa, boleh jadi si anak bos itu bakal menggusur kepemimpinan sang ayah hingga terjadi pertarungan sengit.

Bila sudah begitu pilihannya hanya ada 2: pergi atau mati. Tak ada pilihan lain. Bagi banteng muda, tak ada istilah balas budi setelah ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh sang induk. Seperti dalam jagat politik: tak ada kawan sejati, yang ada hanya kepentingan abadi. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img