Monday, August 8, 2022

Perjalanan ke Negeri Seribu Satu Aglaonema

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di sana puluhan penangkar tumplek blek di Bangkok dan seputaran ibukota negara Gajah Putih itu. Masing-masing getol “menelurkan” koleksi terbaru agar tak kalah pamor dari pesaing. Jadilah Thailand negara seribu satu aglaonema.

Di penghujung Juli, Trubus atas undangan Leman, kolektor aglaonema di Jakarta Utara, mengunjungi beberapa nurseri di sana. Perjalanan yang menakjubkan karena hampir setiap kebun memiliki andalan berbeda.

Beberapa mirip dengan yang dihasilkan Greg Hambali di Bogor. Sayang di tanah air, hanya pakar botani itu yang eksis menangkarkan aglaonema. Berikut laporan perjalanan wartawan Trubus, Evy Syariefa Firstantinovi, selama 3 hari di negara Gajah Putih.

Hibrida terbaik

Perjalanan kali ini dimulai dengan mengunjungi nurseri milik Pramote Rojruangsang. Kebun terletak di kawasan Klongluang, Pathumtani—sekitar 30—45 menit berkendaraan dari Bangkok—jadi pilihan lantaran sang empunya salah satu penangkar terbesar. Setiap tahun Ciu—sapaan akrab Pramote—menghasilkan 5.000 bibit. Dari jumlah itu sekitar 1% menjadi aglaonema istimewa.

Sebut saja sri rejeki berdaun kuning cerah berbentuk hati yang kini dikoleksi Sultan Hasanal Bolqiah dari Brunei Darussalam. Itulah satu-satunya aglaonema berwarna kuning yang pernah ada. Jenis lain ialah aglaonema merah dengan kombinasi hijau yang menjadi Best Hybrids 2003.

Dari sana pula si merah darah kebanggaan Bua Sukmak, kolektor kelas kakap di Thailand, dihasilkan (Baca: Nuansa Merah Hijau sang Ratu halaman 86). Unyamanee Garden—nama nurseri milik Ciu—memang pilihan tepat untuk mendapat aglaonema kelas wahid.

“Ukuran sebesar ini saja sudah ada yang mengincar,” kata Ciu sambil menunjuk aglaonema berdaun sebesar jempol bersemburat warna merah. Lazimnya Ciu memang menjual tanaman seukuran itu.

Kelas kakap

Persinggahan berikutnya, nurseri milik Praktin di Suphanburi, sekitar 100 km dari Bangkok. Pria bersahaja itu mengoleksi jenis-jenis berdaun hijau putih atau hijau perak. Masih di kota sama, Trubus menyambangi kediaman Bua Sukmak. Pengusaha rumah makan itu salah satu hobiis “gila” di Thailand. “Uncle Bua berani membeli dengan harga mahal,” ujar Ciu. Pantas di halaman rumah bergaya khas Thailand itu berkumpul aglaonema-aglaonema terbaik.

Bua hanya mau melepas aglaonema pada orang-orang tertentu. Itu pun dengan syarat ia sudah memiliki anakannya. Keinginan Leman mengoleksi aglaonema berdaun raksasa berwarna putih berbercak hijau urung terlaksana. Bua kukuh mempertahankan lantaran jenis seperti itu langka. Lazimnya, ukuran daun hanya seperempatnya dengan warna hijau dominan.

Perjalanan hari itu diakhiri dengan santap malam bersama Surawit Wannakrairoj, PhD. Pengajar di Kasertsart University, Bangkok, itu adalah salah satu pelopor perkembangan aglaonema di Thailand. Dengan kepakaran di bidang bioteknologi, ia membagikan ilmunya kepada para penangkar.

Lebih murah

Diiringi udara cerah, perjalanan hari ke-2 diawali dengan kunjungan ke nurseri milik Buntong Wongmanit di Bangkok. Di kebun kolektor tanaman variegata itu tanaman kecil seperti dari Unyamanee Garden dibesarkan.

Sebut saja aglaonema berdaun lanset berwarna hijau dengan semburat pink pucat. Atau lipstik dengan tepi berwarna merah yang tebal. Yang tak kalah menarik sri rejeki hijau pekat dengan totol merah muda. Pilihan lain ialah cochinchinensis variegata. Dari kebun itulah Leman sedikitnya menambah 8 koleksi aglaonema.

Yang juga menyediakan beragam pilihan, kebun milik Saard Khruaiam. Selain menjajakan aglaonema buatan penangkar Thailand, seperti king of siam, nurseri terletak di tepi jalan di pinggiran Bangkok itu menjual ratusan pride of sumatera. Harganya lebih murah ketimbang di tanah air. Tanaman berdaun 4 lembar dijual 80 baht setara Rp16.000. Di Indonesia, pride of sumatera masih dibanderol Rp15.000 per helai.

Saat matahari menjelang tenggelam, giliran kebun Prapuntong Pangpit di Distrik Taweewatana disambangi. Ternyata di sanalah gudang aglaonema putih dengan bercak hijau seperti yang dilihat di kediamaan Bua. Hanya saja ukuran daun standar.

Merah tembaga

Hari ke-3 perjalanan membutuhkan energi cukup besar. Maklum kali ini nurseri yang dikunjungi terletak di Rayong, sekitar 2—3 jam perjalanan darat dari Bangkok. Toh, waktu tempuh cukup lama itu seperti sekejap saja begitu tiba di kebun milik Chisnupong.

Kebun terlihat asri dengan kehadiran ratusan aglaonema berkualitas prima. Jenis berlipstik dikumpulkan di sebelah kanan pintu masuk dan bagian tengah kebun. Di dekat situ berbaris rapi aglaonema bercorak hijau dan merah di atas pot-pot terakota. Agak menjorok ke dalam terlihat sebuah rumah plastik mungil sederhana. Di sanalah Chisnupong menyimpan koleksi terbaru hasil tangkaran sendiri. Misal aglaonema berdaun merah tembaga, lipstik dengan tepi merah tua, dan si hijau bersemburat putih bertulang daun pink.

Di provinsi berjarak 80 km dari Pattaya itu sebenarnya ada satu lagi penangkar kawakan, Sombat Thammabus. Boleh dibilang dialah yang pertama sukses memperbanyak dengan cara kultur jaringan. Sayang, waktu Trubus ke sana Sombat justru sedang berkunjung ke Bangkok.

Langkah selanjutnya, mengunjungi Pasar Chatuchak. Di pasar tradisional itulah pada setiap Rabu tumpah ruah seluruh tanaman hias dari seantero Thailand. Di sanalah hobiis pemula yang tak sanggup merogoh kocek terlalu dalam, mengincar aglaonema “lama” yang tetap menarik. Nah, buat Anda yang berminat membeli aglaonema langsung ke Thailand, semoga laporan perjalanan kali ini cukup menjadi bekal awal perburuan.***

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img