Thursday, August 18, 2022

Perontok Padi Tenaga Surya

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Perontok gabah yang efisien mencegah kehilangan padi.

Mepepari lebih hemat dibanding dengan mesin perontok padi berbahan bakar bensin.
Mepepari lebih hemat dibanding dengan mesin perontok padi berbahan bakar bensin.

Bagi sebagian orang, aktivitas petani merontokkan padi di bawah terik matahari hal biasa. Namun, bagi Robby Wijaya, Teguh Dewangga, Nur Kholiq, dan Abdur Rohman, hal itu menimbulkan tanda tanya. Keempat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang itu melihat peluang mengubah terik matahari yang memapar tubuh para petani menjadi energi untuk merontokkan padi.

Inspirasi itu muncul ketika mereka melihat petani di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, merontokkan padi di tengah terik matahari. Ide membuat perontok gabah padi tenaga surya itu mereka wujudkan ketika mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa. Mereka merakit mesin itu sejak April 2016. “Kami membuat mesin perontok gabah dengan 4 ciri, yaitu desain, mesin, pemanfaatan tenaga surya, dan bongkar pasang,” ujar Teguh.

Lebih hemat
Tantangan terbesar adalah merancang rangka yang mudah dibongkar pasang. “Kadang sudah telanjur dilas ternyata lubang dudukan bautnya meleset sehingga harus dibongkar dan dirangkai ulang sampai pas. Mesin itu kami bongkar rangkanya sampai 3 kali,” ujar mahasiswa Jurusan Teknik Mesin itu. Akhirnya pada Juni 2016, mereka mewujudkan mesin perontok padi bernama Mepepari.

Dalam bahasa Jawa, frasa mepe pari bermakna menjemur padi. Di tangan mereka Mepepari akronim dari mesin perontok gabah padi tenaga surya. Prinsipnya mengubah sinar matahari menjadi listrik. Mesin itu mampu merontokkan gabah maksimal 250 kg per jam. Saat uji coba kepada para petani di kelompok tani Subur di Kecamatan Kunjungan, Kabupaten Trenggalek, Mepepari mengungguli teknologi perontokan gabah yang sudah petani gunakan.

Dari kiri: Robby Wijaya dan Teguh Dewangga, perakit mesin perontok padi.
Dari kiri: Robby Wijaya dan Teguh Dewangga, perakit mesin perontok padi.

Mepepari mampu menghemat biaya memanen padi dan menambah keuntungan bagi para petani. “Dengan cara manual, 6—9% gabah tidak rontok sehingga mengurangi hasil panen. Kalau memakai mepepari, semua bulir rontok,” ujar Robby Wijaya.

Hasil panen petani di kelompok tani Subur rata-rata 58 kuintal gabah per hektare. Ketika menggunakan mepepari, hasil itu meningkat menjadi 62 kuintal. “Harga gabah saat itu mencapai Rp5.000 per kg, sehingga keuntungan petani bertambah Rp2-juta per ha,” ujar Robby. Hal itu karena gigi perontok tertutup sehingga mengurangi gabah hilang. Tak hanya efektif, penggunaan mesin perontok padi juga meningkatkan harga gabah.

Menurut Sukis Murdi, petani padi di Kendal, Jawa Tengah, gabah hasil mesin perontok lebih mahal lantaran gabah lebih bersih. “Selisihnya Rp200 per kg,” ujar Sukis Murdi. Bagaimana jika dibandingkan dengan mesin perontok padi berbahan bakar bensin yang biasa kelompok tani Subur pakai? Menurut perhitungan Teguh biaya merontokkan gabah per hektare dengan mesin berbahan bakar minyak itu mencapai Rp25.000 per hari.

“Untuk merontokkan panenan sehektare lahan, para petani membutuhkan waktu sekitar 7 hari dengan 4—5 jam kerja per hari,” ujar Teguh. Artinya biaya jasa mencapai Rp175.000. Plus biaya bahan bakar dan perawatan mesin masing-masing sebesar Rp245.000 dan Rp20.000, total biaya mencapai Rp440.000. Dengan Mepepari, biaya jasa, biaya bahan bakar, dan biaya perawatan nihil.

Panel surya

Panel surya berdaya 50 watt peak.
Panel surya berdaya 50 watt peak.

Teguh menuturkan, “Hasil ujicoba kami, petani hanya menghabiskan waktu 5 hari kerja untuk merontokkan gabah dari sehektare lahan menggunakan Mepepari sehingga biayanya Rp125.000.” Lantaran menggunakan sinar matahari, tidak ada tambahan biaya bahan bakar maupun perawatan. Hitung-hitungan di atas kertas, para petani bisa menghemat Rp315.000 per hektare jika menggunakan Mepepari untuk merontokkan gabah.

Mepepari bisa lebih cepat dalam merontokkan padi karena, “Kami merapatkan jarak antargigi perontok padi menjadi 4—5 cm, lebih rapat daripada mesin lain yang hanya sekitar 20 cm,” ujar Robby. Dengan gigi lebih rapat, efektivitas mesin pun meningkat. Menurut Dr Ir Agung Prabowo M Eng dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, mesin bertenaga surya bermanfaat untuk petani di wilayah minim sumber daya fosil dan listrik.

Meskipun biaya operasional mesin bertenaga surya hemat, tetapi biaya investasi akan lebih tinggi karena membutuhkan alat-alat tambahan. Apalagi kalau menggunakan motor listrik alternating current (AC). “Kalau menggunakan motor listrik arus AC masih perlu aki, konverter, sehingga menambah biaya investasinya tinggi,” ujar Agung. Robby dan rekan menggunakan motor listrik arus direct current (DC), sehingga tidak memerlukan konverter.

Untuk membuat Mepepari, mereka membutuhkan biaya sebesar Rp3,2 juta. belum termasuk biaya tenaga kerja untuk membuat mesin itu,” ujar Teguh Dewangga. Menurut mahasiswa yang hobi menulis itu, biaya itu lebih murah dibanding harga jual mesin perontok padi lain dengan spesifikasi sama yaitu sekitar Rp3,6-juta.

Gigi perontok dibuat lebih rapat agar efektif.
Gigi perontok dibuat lebih rapat agar efektif.

Perbedaan paling menonjol dengan mesin lain tentu saja adanya solar cell atau panel surya. Robby dan rekan menggunakan panel surya berdaya 50 watt peak (WP). Alat itu menghasilkan keluaran (output) listrik bertegangan 19 volt dengan arus 3 ampere. Aliran itu untuk mengisi daya 2 baterai bertegangan 12 volt. “Kebutuhan daya untuk menggerakkan motor listrik 24 volt dengan arus 2 ampere, sehingga dengan rangkaian listrik yang kami buat sudah bisa menggerakkan motor listrik itu,” ujar Robby.

Untuk menggunakan Mepepari, petani cukup mengisi baterai dengan menjemur papan panel surya di bawah terik matahari selama 10 jam. “Kalau baterai sudah penuh, Mepepari bisa digunakan selama 15 jam,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara itu. Di mesin itu Robby dan rekan juga sudah melengkapinya dengan voltmeter sehingga petani bisa mengetahui berapa daya listrik yang sudah baterai simpan saat mengisinya dan berapa sisa daya listrik pada baterai setelah dipakai seharian.

Kelebihan lain mepepari dibanding mesin perontok padi lain yaitu bisa dibongkar pasang sehingga memudahkan pengangkutan mesin di sawah yang sulit diakses mesin perontok keliling. Menurut Agung Prabowo, tantangan membuat mesin yang memanfaatkan tenaga surya adalah saat cuaca mendung dan minim sinar matahari.

Menurut Robby, saat minim sinar matahari Mepepari tetap bisa diisi dayanya meski tidak secepat saat terik. “Mepepari menggunakan panel surya tipe polycrystalline, yang mampu menangkap sinar matahari saat mendung meski dengan output yang lebih sedikit. Kalau terik mencapai 19 volt, kalau mendung kurang dari itu,” ujar Robby Wijaya. Dengan beragam keunggulan itu, Mepepari siap menjadi andalan para petani padi meningkatkan kesejahteraan. (Bondan Setyawan)

Previous articleLaba Labu Eksotis
Next articleTaktik Atasi Trotol
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img