Monday, August 8, 2022

Pesona Dinding Hidup

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Albert Quek-si empunya teras-sangat senang mengoleksi tanaman hias. Waktu tinggal di kondominium Loyang Avenue ia menanam melon, tomat, dan cabai di teras seluas 6 m2. Masalah muncul ketika Albert pindah ke apartemen Estella Garden yang terasnya lebih sempit. Padahal, Albert juga kepingin merawat beragam tanaman hias.

Ia pun memutar otak. Imajinasi membuat taman dalam bidang vertikal muncul tiba-tiba. Sayang, ia tak menemukan petunjuk yang jelas untuk mendesain taman vertikal. Sampai suatu pagi ia melihat rumpun bambu saat jogging. Dari situlah muncul ide menggunakan bambu sebagai rangka pada dinding. Sebanyak 50 pot disusun di dalam semacam rak bambu yang ditempelkan ke dinding. Pot plastik dengan media cocopeat dan peatmoss dijepit di antara rangka bambu. Posisi bambu bagian belakang dibuat lebih tinggi daripada depan. Alhasil posisi pot miring 45o. Pot seolah-olah keluar dari dinding.

Beragam jenis paku-pakuan seperti Nephrolepis exaltata, Platicerium coronarium, dan Asplenium nidus dikumpulkan di bagian atas dan sebagian di tengah. Itu dikombinasikan dengan nepenthes di sebelah kanan dan Episcia cupreata bagian tengah. Tradescantia pendula bercorak garis-garis ungu-putih memenuhi bidang tepi kiri dari atas ke bawah. Hasilnya dinding setinggi 3 m di sisi kanan teras tertutup aneka tanaman hias. Teras tetap lapang untuk tempat bersantai. Gara-gara taman dindingnya itu, Albert pun didapuk penghargaan dari Community in Bloom-komunitas peduli penghijauan Singapura.

Le mur vegetal

Sejatinya taman vertikal bukan hal baru. Konsep itu pertama kali diperkenalkan pada 1988 oleh Patrick Blanc, seorang botanis di Perancis. Konsepnya diterapkan dengan menempatkan bingkai logam pada dinding untuk menopang lempengan polivinilchlorida (PVC) yang tebalnya 10 mm. Pada PVC itu direkatkan 2 lapisan bahan poliamide-semacam kain wool atau nilon-dengan tebal masing-masing 3 mm.

Lapisan ini fungsinya mirip dengan moss atau lumut yang biasa tumbuh di tebing yang menopang akar tanaman. Nutrisi dan air dialirkan melalui pipa menuju ke bagian atas dinding lalu turun membasahi poliamide. Sisa air yang tak terserap turun ke saluran di bawah dinding.

Konsep itu melahirkan karya pertamanya pada bangunan museum sains Cite des science et de l’industrie di Paris, Perancis. Sementara kepiawaiannya membalut kantor administrasi museum seni Qual Branly di Paris diakui sebagai karya yang paling fenomenal. Salah satu sisi dinding museum berukuran 200 m x 12 m dibalut aneka tanaman membentuk relief hidup.

Le mur vegetal-taman vertikal dalam bahasa Perancis-karya Patrick merayapi restoran, hotel, pusat perbelanjaan, hingga gedung-gedung bertingkat di berbagai negara. Sebut saja di pusat perbelanjaan Esplenade, Siam Paragon, dan Emporium di Bangkok, Thailand, kedutaan Perancis di New Delhi, India, Shot Tower di Melbourne, Australia, Caixa Forum di Madrid, Spanyol, National Concert Hall di Taipeh, Taiwan, sampai pusat perbelanjaan Omotesando Gyre di Tokyo, Jepang.

Partick Blanc menumbangkan anggapan taman dinding mengganggu desain dan ketahanan bangunan. Terbukti dengan rangka logam dan lempeng PVC, dinding tetap awet dan utuh. Bangunan pun jadi hijau.

Konstruksi sederhana

Namun, bukan berarti bila ingin membuat taman vertikal kontruksinya mesti ala Patrick. Bahan maupun strukturnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk kontruksi sederhana di dinding rumah, contoh saja Albert. Model rak bambu itu mirip dengan yang dilihat Trubus di Thailand. Rangka besi menopang puluhan bunga warna-warni dalam pot yang letaknya miring. Bedanya, Albert lebih banyak memilih tanaman rambat sehingga celah antarpot nyaris tak terlihat saat tanaman rimbun.

Untuk menutup sisi kanan dan kiri rangka, Albert menggunakan tray bekas tempat telur. Tray itu diikatkan dengan jaring besi agar bisa berdiri menutup sisi tepi rangka. Moss dan tanaman dikaitkan pada tray dengan bantuan tali. Penyiraman rutin dengan sprayer membuat tanaman lebat dalam 3 bulan. Dinding, rangka bambu, dan pot tertutup sempurna oleh daun dan bunga.

Jika Albert memilih tanaman rambat untuk kesan alami, lain lagi dengan taman vertikal di pameran Aichi Expo di Jepang pada 2005. Foto-foto kiriman Abe Eiko kepada Trubus menampilkan taman dinding dengan tema minimalis. Tanaman disusun rapi membentuk pola kotak-kotak dalam polibag tipis bermedia cocopeat. Jenis tanamannya mulai dari cemara buaya, begonia, sampai tillandsia. Tanaman tak dibiarkan merambat agar pola yang dibentuk tetap rapi.

Pesona dinding hidup juga dijumpai Trubus di gedung pusat Hortpark di Singapura. Di atas papan hitam yang tebalnya sekitar 10 cm, Cryptanthus sp ‘pink starligt’ berbaris rapi berseling dengan Neoregelia sp berwarna hijau putih. Papan itu berupa jaring-jaring yang membungkus media tanam. Lubang tanam dibuat dengan melubangi jaring-jaring itu. Dinding yang semula polos pun tampil cantik mirip kue lapis.

Di Indonesia, taman vertikal belum populer. ‘Meski begitu sudah ada yang mencobanya dengan konstruksi sederhana, misalnya dengan susunan batu bata berlubang-lubang,’ kata Dendi Dwiputra. Konsultan lansekap di Bogor itu menyarankan konstruksi ringan agar aman dan bisa diaplikasikan di gedung tinggi. (Nesia Artdiyasa)

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img