Monday, August 15, 2022

Pesona sang Figuran

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Rangkaian futoi karya YohanesTriyono, simple tapi mewah di atasgelas sampanye
Rangkaian futoi karya Yohanes
Triyono, simple tapi mewah di atas
gelas sampanye

Biasa hadir sebagai elemen tambahan, futoi atau bambu air tampil memukau saat didaulat menjadi pemeran utama. Bambu air itu tampil luwes membawakan peran sebagai bukit, kebun, terowongan, pohon, rumah, dan buket.

Aduuhh, bagus sekali bukit mini ini!” seru seorang peserta acara demo merangkai bunga yang diselenggarakan oleh Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) Cabang Jakarta Selatan di Gedung Jakarta Design Center, Jakarta Barat, pada Desember 2012. Perempuan itu tengah mengagumi miniatur bukit nan hijau permai karya drg Novembriati.

Dinding bukit yang hijau tersusun dari puluhan batang futoi yang berbaris rapi. Di dasar bukit terlihat gerbera berwarna merah, kuning, dan jingga yang kontras dengan hijaunya bukit. “Inspirasinya memang dari deretan bukit yang pernah saya kunjungi di salah satu kawasan di China,” kata Novembriati, perangkai bunga di Jakarta Selatan.

Demi menghadirkan kenangan akan bukit di Negeri Tiongkok, mula-mula Atiek-panggilan Novembriati-membuat rangka bukit dari floral foam. Rangka itu lalu ia tancapkan di wadah akrilik sepanjang 1 meter berisi stirofoam. Selanjutnya Atiek tinggal menempelkan setiap batang futoi mengikuti bentuk rangka bukit. Bagian dasar rangkaian juga ditutup futoi.

Di puncak bukit Atiek meletakkan asparagus bintang yang membuat bukit mini itu kian hijau. Untuk melunakkan kesan kaku barisan futoi, ia menyelipkan garis liuk menggunakan empat batang futoi di puncak rangkaian. Terakhir Atiek meletakkan bunga gerbera berwarna seronok: merah, kuning, dan jingga. “Warna terang meredam dominasi warna hijau pada rangkaian futoi,” kata Atiek.

Sumber ide

Anastasia Ferwidyasari menuangkan perasaan gembirapada rangkaian futoi bertema kebun mawar
Anastasia Ferwidyasari menuangkan perasaan gembira
pada rangkaian futoi bertema kebun mawar

Bambu air itu biasanya sekadar elemen tambahan dalam rangkaian bunga. “Misal untuk membentuk garis atau sekadar pemanis,” tutur perangkai bersertifikat internasional, Andi Djati Utomo SSn AIFD. Di tangan para perancang taman dan desain interior futoi Equisetum hyemale juga kerap digunakan sebagai pemanis taman atau interior ruangan.

Sosoknya mirip batang-batang bambu dalam bentuk mini: batangnya mengerucut ke ujung, berwarna hijau, beruas, dan berongga. Diameter batang kurang dari 3 cm, panjang 50-100 cm. Habitatnya di kawasan perairan seperti kolam sehingga disebut bambu air. Dengan sosok lurus, perangkai bunga biasanya sekadar menancapkan futoi mengikuti bentuknya sehingga menimbulkan kesan kaku. “Padahal futoi adalah sumber ide. Ada aneka bentuk yang dapat diciptakan dari batang-batang futoi,” kata Andi.

Lihat saja batang-batang futoi yang disulap menjadi buket pengantin. Mula-mula Andi membuat dua pola buket menggunakan kertas karton tebal. Selanjutnya pengajar di Newline Floral Education Centre itu menempelkan selotip, melumuri permukaannya dengan cat berwarna hijau, lalu melilitkan batang futoi yang telah diisi kawat menutup permukaan pola. “Agar gampang dililit, pijat halus terlebih dulu sekujur batang futoi,” kata Andi. Selanjutnya Andi menyatukan kedua ujung pola hingga membentuk keranjang. Lalu mengisi keranjang itu dengan oasis sebagai tempat untuk meletakkan carnation, anggrek dendrobium putih, dan hipericum putih.

Lihatlah juga rangkaian futoi berupa kebun mawar mini karya Anastasia Ferwidyasari. Mula-mula Anastasia menekuk acak setiap batang futoi yang telah diisi kawat bangunan kemudian menancapkannya ke floral foam di atas wadah akrilik.Ia lalu membuat pagar kebun sekaligus sebagai penutup setiap sisi wadah dengan menusukkan dua buah kawat bangunan tepat di tengah 10 batang futoi setinggi 10 cm dan membentuk ujungnya menjadi segitiga. Pagar itu ia tempelkan menutupi sisi wadah menggunakan lem. Di dalam pagar itulah Anastasia membuat taman mawar berupa susunan asparagus bintang dan kuntum mawar berwarna peach. Meski porsi bunga sedikit, toh rangkaian yang cocok diletakkan sebagai penghias meja itu tetap tampil cantik dan memukau.

Teknik khusus

Menyambut Natal, Lucia Raras menyulap futoimenjadi pohon cemara dan miniatur rumah
Menyambut Natal, Lucia Raras menyulap futoi
menjadi pohon cemara dan miniatur rumah

Rangkaian yang terinspirasi dari sebuah terowongan karya Lili Sastra juga terlihat elok. Lili membuat atap terowongan sepanjang 50 cm itu dari lengkungan batang-batang futoi. Badan terowongan tersusun dari potongan futoi sepanjang 5 cm yang diselipkan di pinggir wadah. Di bawah terowongan itu Lili menata fleur, bunga statice, bunga starlion, dan krisan putih mini. Sebagai fokus rangkaian, Lili meletakkan anggrek dendrobium warna putih di pintu masuk.

Menurut perangkai bunga di Jakarta Selatan, Yohanes Triyono, untuk membuat rangkaian futoi nan elok maka perangkai menggunakan beragam teknik seperti potong, tempel, tusuk, atau lengkung. “Perlakuan itu membuat futoi hanya mampu bertahan segar selama dua hari, selanjutnya kering,” kata perangkai yang membuat rangkaian futoi di atas gelas kaca. Dengan teknik biasa-hanya tancap-futoi mampu bertahan 3-4 hari. Oleh karena itu rendam sebentar futoi di dalam air sebelum digunakan untuk memperpanjang umur rangkaian.

Yohanes meletakkan rangkaian futoi berbentuk bola di atas gelas sampanye setinggi 50 cm. Bola itu terbuat dari batang futoi yang dililitkan pada floral foam bulat berdiameter 25 cm yang telah dilubangi sedalam 12 cm dengan diameter lubang 10 cm. Yohanes mengisi bola futoi itu dengan bunga gomprena berwarna ungu dan merah jambu. Selanjutnya ia meletakkan anggrek bulan ungu, anggrek tanah merah jambu, dan juntaian amaranthus di mulut lubang. Kesan minimalis tapi mewah dalam sekejap tertangkap mata dari rangkaian setinggi 50 cm itu.

Perangkai lain, Lucia Raras, menghadirkan futoi dalam rangkaian bertema Natal. Dengan teknik sederhana, Lucia menata apik batang-batang tanaman keluarga Equisetaceae itu menjadi sebuah rumah dengan pohon natal di kebunnya. Sementara di tangan Yosef Wanda futoi hadir sebagai taman vertikal, Saepulloh (Spiral futoi), dan Inspirasi manggar kelapa karya Rohidin.

Menurut Andi rangkaian futoi pantas dikembangkan karena bahan baku gampang diperoleh dan murah. Harga satu ikat futoi berisi 20 batang di salah satu toko tanaman hias di Jakarta hanya Rp20.000. Sosoknya kuat, lentur, panjang, dan sempurna mengerucut di bagian ujung sehingga dapat dikreasikan menjadi beragam bentuk.

Ketua panitia demo rangkaian futoi, Resty Syafitri, berharap melalui acara yang dihadiri 90 peserta dari Jakarta, Bogor, dan Semarang itu pamor futoi meningkat. “Kalau jeli memanfaatkannya kita dapat memberi nilai tambah pada futoi,” ujar Resty. Bambu air itu bukan lagi sekadar elemen tambahan pada rangkaian tapi menjadi faktor utama. Si pemeran utama terbukti berhasil membetot hati siapa pun yang memandang. Selamat datang futoi! (Andari Titisari/Peliput: Pressi Hapsari F)

Keterangan Foto :

  1. Rangkaian futoi karya drg Novembriati terinspirasi dari deretan bukit di China
  2. Rangkaian futoi karya Yohanes Triyono, simple tapi mewah di atas gelas sampanye
  3. Buket bunga pengantin dari futoi karya Andi Djati Utomo
  4. Anastasia Ferwidyasari menuangkan perasaan gembira pada rangkaian futoi bertema kebun mawar
  5. Menyambut Natal, Lucia Raras menyulap futoi menjadi pohon cemara dan miniatur rumah
  6. Terowongan penghias meja karya Lili Sastra
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img