Sunday, July 14, 2024

Petani Kota Mulai Adaptasi dengan Teknologi Pertanian Modern

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Perkembangan teknologi pertanian saat ini semakin pesat. Sebagian petani sudah mulai berdaptasi dengan teknologi pertanian yang ada. Misalnya, Sugiyanto dan sembilan rekan lainnya yang tergabung dalam Kelompok Tani Kebun Berseri sudah menerapkan teknologi penyiraman.

Mereka mengelola lahan seluas satu hektare di Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Lahan satu hektare itu terbagi menjadi tiga petak masing-masing berukuran 3.000 m2.

Di petak pertama, Sugiyanto memasang 200 sprinkler berjarak 4 m dan tinggi 60 cm. Mereka juga memasang irigasi tetes di petak kedua. Untuk jenis komoditas beragam, mulai cabai, kangkung hingga pakcoi.

Sugiyanto mencontohkan, nozel irigasi tetes itu tersembunyi di bawah mulsa plastik atau tertanam langsung di bedengan berukuran 30 m × 120 cm × 20 cm. Jarak pemasangan alat irigasi tetes dengan tanaman cabai 10 cm.

Sementara itu, jarak antaririgasi tetes berkisar 60–70 cm. Sugiyanto mengelola total 65 bedengan terdiri atas 2.700 tanaman cabai. Sugiyanto membuat dua sumur bor di kebun sebagai sumber air.

Menurutnya, penggunaan alat penyiraman otomatis menghemat tenaga dan waktu. Selain itu, aliran air juga lebih merata ke setiap tanaman.

Dr. Ir. Prastowo, M.Eng., pakar teknik irigasi di Institut Pertanian Bogor (IPB), menuturkan, penggunaan sprinkler dan irigasi tetes lebih efisien dibanding irigasi permukaan, seperti sistem alur dan genangan.

Para pelaku pertanian perkotaan bisa mengatur sistem operasi sprinkler dan irigasi tetes sesuai kebutuhan. Ia menyebut sistem pada kedua teknologi itu on demand scheduling dan on demand irrigation atau irigasi dengan penjadwalan tepat waktu dan tepat jumlah.

Prastowo mengatakan, penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi lahan. Ia mencontohkan, tinggi rendahnya embusan angin memengaruhi efisiensi penyiraman. Makin tinggi angin berembus, bisa mengurangi efisiensi penyiraman.

“Kalau kecepatan angin lebih dari 20 km per jam, harus dilakukan rekayasa overleating dan jarak sprinkler,” kata Prastowo.

Kecepatan angin tidak memengaruhi efisiensi irigasi tetes. Namun, penyumbatan pada aliran irigasi tetes lebih sering terjadi. Itu lantaran diameter pipa yang digunakan lebih kecil. Solusinya, usahakan air yang digunakan harus bersih tidak keruh yang bisa menghambat aliran.

Sistem filter irigasi tetes merupakan faktor utama dalam efisiensi penyiraman. Menurut Prastowo, petani harus memperhatikan topografi lahan. Sprinkler cocok digunakan di tanah bergelombang, berlereng, dan datar. Sementara itu, irigasi tetes lebih sesuai untuk penyiraman pada tanaman baris atau tanaman dengan posisi teratur.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Presiden dan Mentan Kunjungi Kebun Kopi di Lampung Barat, Pacu Produksi Demi Kesejahteraan Petani

Trubus.id—Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau perkebunan kopi di Desa Kambahang, Kecamatan Batubrak,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img