Friday, August 19, 2022

Petani Muda Jagoan Banyuwangi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

TRUBUS — Acara Jagoan Tani Banyuwangi berlangsung sukses. Hampir 1.500 pemuda yang terbagi ke dalam 427 tim mengikuti ajang yang bertujuan mencari petani muda inovatif itu.

Perjuangan Hendra Febriyanto, M.Pd., Diki Maulani, Yeni Ratna Rufayda, Maulana Akbar Eko Irlandi, dan Basit Ardianto mengikuti ajang Jagoan Tani Banyuwangi berbuah manis. Dewan juri menobatkan Hendra dan rekan yang tergabung dalam tim Caraka Muda menjadi Juara I Kategori Ide Bisnis. “Saya berharap para pemuda benar-benar tergugah untuk menekuni dunia pertanian. Kesuksesan pembangunan pertanian di Kabupaten Banyuwangi berada di tangan generasi muda,” kata Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

Ia juga berharap pemuda Jagoan Tani menjadi agen pembaharu (agent of change) serta inspirasi agar semakin banyak pemuda yang mengkontribusikan kemampuannya demi kemajuan pertanian di Kabupaten Banyuwangi. Hendra dan rekan tidak menyangka menjadi pemenang di acara Jagoan Tani Banyuwangi. “Kami sudah senang masuk 30 besar,’ kata Hendra. Harap mafhum, Jagoan Tani Banyuwangi merupakan ajang pertanian perdana bagi tim Caraka Muda.

Rilis 2022

Hendra dan rekan mengusung ide bisnis bubuk sayuran hidroponik. Pemilihan gagasan itu berdasarkan pengalaman pribadi. Caraka Muda yang merupakan karang taruna di Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh, mendapatkan hibah rumah tanam (greenhouse) sekaligus perangkat hidroponik dari Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jawa Timur, pada Maret 2021. Itu kali pertama Hendra dan rekan membudidayakan sayuran. Tim dari Unair pun membekali pengetahuan bercocok tanam dengan sistem hidroponik.

Hendra Febriyanto, M.Pd., (paling kiri) dan rekan yang tergabung dalam tim Caraka Muda.

Kendala muncul ketika pakcoi, bayam merah, dan selada siap panen. Mereka kesulitan menjual hasil panen. Apalagi mayoritas masyarakat sekitar belum terbiasa dengan sayuran hidroponik. Dari situlah muncul ide untuk memperpanjang masa simpan sayuran agar lebih lama. Akhirnya Hendra dan rekan pun sepakat membuat bubuk sayuran hidroponik.

Selain memperpanjang masa simpan, bubuk sayuran hidroponik menjadi solusi bagi mereka yang enggan mengonsumsi sayuran segar. Hanya sayuran bergizi tinggi seperti kale serta bayam merah dan hijau yang diolah menjadi bubuk. “Kami membawa sampel 50 g bubuk bayam merah ketika mengikuti Jagoan Tani Banyuwangi,” kata Hendra yang juga dosen di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi.

Ia memerlukan 900 g bayam segar untuk menghasilkan 50 g bubuk bayam. Artinya 1 kg bubuk bayam berasal dari 18 kg bayam segar. Pembuatan bubuk sayuran relatif mudah. Tim Caraka Muda menjemur bayam merah mengandalkan sinar matahari selama 1 jam. Setelah itu, mereka memasukkan sayuran itu ke dalam oven manual. Pengeringan dengan oven selama 5 menit. Oven tidak dilengkapi dengan indikator suhu sehingga mereka tidak mengetahui temperatur oven saat itu.

“Berdasarkan studi literatur pengeringan sayuran pada suhu 45—70ºC dan berdurasi 5—8 jam tergantung dari jenis sayuran,” kata Hendra. Tim Caraka Muda berencana membeli perlengkapan produksi bubuk sayuran seperti mesin pengering dari uang tunai hadiah menjuarai Jagoan Tani. Kemungkinan Hendra dan rekan merilis produk bubuk sayuran perdana pada 2022.

Membeludak

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Arief Setiawan, menuturkan, perlu adanya upaya untuk menarik anak muda menekuni dunia pertanian. Tidak hanya sekadar bicara dan mengajak. “Yang menarik itu sesuatu yang berbeda dan konsepnya berkaitan dengan teknologi dan informasi. Kita harus melibatkan anak muda pada pembangunan pertanian karena pemikirannya segar serta lebih kreatif dan semangat,” kata Arief.

Prototipe bubuk sayuran hidroponik bikinan tim Caraka Muda.

Jagoan Tani Banyuwangi menjadi simbol untuk mengubah pola pikir generasi muda. Kegiatan itu yang menjadi solusi agar pemuda menekuni dunia pertanian. Mengapa pemuda mesti menggeluti pertanian dan agribisnis? Menurut Arief jumlah petani muda di Indonesia hanya 12% berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Sisanya 88% merupakan berumur lebih dari 40 tahun. Regenerasi petani terhambat jika pemuda tidak dikenalkan dengan potensi pertanian sejak dini.

Itulah salah satu hal yang mendorong terselenggaranya Jagoan Tani Banyuwangi. Arief menuturkan, Jagoan Tani merupakan bagian dari program unggulan Banyuwangi dengan misi mendapatkan talenta terbaik Banyuwangi dalam menginisiasi inovasi pertanian. Kompetisi itu terdiri dari serangkaian kegiatan berupa publikasi terbuka, lokakarya sebagai sarana sosialisasi, bimbingan untuk tim terpilih, dan pemberian modal bagi pemenang (graduation).

Tim terpilih juga mendapatkan pengetahuan tentang business model canvas, keuangan, marketing dan digital marketing, serta manajemen dan kepemimpinan melalui mentoring oleh para narasumber kompeten di bidangnya. Semua keunggulan itu membuat para pemuda berbondong-bondong mengikuti Jagoan Tani Banyuwangi. “Kami menargetkan 300 tim. Ternyata yang mendaftar hampir 500 tim,” kata Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan, Kabupaten Banyuwangi, Ilham Juanda, S.P.

Terdapat 427 proposal pendaftar Jagoan Tani Banyuwangi 2021 yang terdiri atas 259 proposal ide bisnis dan 168 proposal rintisan usaha. Total jenderal ada 1.489 pemuda yang mengikuti ajang berhadiah total ratusan juta rupiah itu. Ilham dan rekan tidak menyangka jumlah peserta membeludak. Peningkatan jumlah peserta bentuk antusiasme pemuda Banyuwangi. Jagoan Tani Banyuwangi terdiri dari 2 kategori yaitu rintisan usaha dan ide bisnis.

Sabar

Selanjutnya 100 tim terpilih mengikuti bimbingan secara daring. Tim juri menilai 30 tim finalis melalui presentasi dan wawancara secara virtual. Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi melibatkan 4 juri dari berbagai kalangan seperti Direktur Pusat Inkubasi Teknologi, Universitas Jember, Dr. Luh Putu Suciati, S.P., M.Si. Tiga juri lainnya yaitu Ervina Wahyu Setyaningrum, S.Pi, M.Si (Dekan Fakultas Pertanian Untag 1945 Banyuwangi), Kukuh Roxa P.H., S.P (CEO PT Pandawa Agri Indonesia), dan Cucuk Rustandi, S.E (Digital Marketing Expert).

Bimbingan oleh tim terpililh oleh para pakar yang berkompeten dilakukan secara daring.

Menurut Kukuh kriteria penilaian antara lain inovasi, dampak dan rencana bisnis. “Penilaian tim finalis kategori rintisan usaha sangat ketat. Mereka berhak menjadi yang terbaik,” kata chief executive officer (CEO) PT Pandawa Agri Indonesia itu kepada reporter Trubus, Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol. Kukuh mengingatkan bisnis bidang pertanian mesti sabar. Jangan samakan agribisnis dengan usaha yang tengah tren. Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan bisnis pertanian seperti manusia dan alam yang tidak bisa dikendalikan. “Kita harus menyadari pertanian itu menantang, maka kita harus maju terus dan berani,” kata Kukuh.

Ia sangat mengapresiasi kegiatan seperti Jagoan Tani. Banyuwangi satu langkah di depan daripada kota-kota lain. Kukuh berharap para peserta terutama pemenang bisa mempertanggungjawabkan bisnis dan dampaknya.”Regenerasi tidak terelakkan. Saya berharap teman-teman yang lebih muda bisa melihat pertanian secara menyeluruh sehingga semua stakeholders menikmati pertumbuhan pertanian,” kata pria peraih Asia Innovator 2017 dari DBS Foundation Asia itu. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img