Sunday, November 27, 2022

Pil Setan Putus Tiga Hari

Rekomendasi

Bagi lajang 25 tahun itu, ini adalah hari-hari indah setelah 8 tahun terbelenggu narkoba. “Dulu saya tak punya kesempatan untuk bersosialisasi. Yang ada hanya fly dan fly dibuai barang haram,” kenang Arief.

Kalaupun bergaul, warga Durensawit, Jakarta Timur, itu lebih memilih bersama sesama pemakai narkoba. Bila tidak ada di rumah, dipastikan ia menyambangi diskotek. Di tempat itulah biasanya Arief dan teman-teman mendapatkan barang terlarang, lalu berpesta. Kehidupan seperti itu dijalaninya sejak tamat dari Sekolah Menengah Umum di Jakarta. “Saya terbawa oleh teman-teman di lingkungan tempat tingggal,” katanya.

Senin pagi, 19 April 2004 mendadak muncul kesadaran untuk menyembuhkan diri. Semalaman sejak pukul 18.00 ia berpesta ganja dan putaw. Keinginan itu bak gayung bersambut dengan harapan Sukarti, sang bibi. Kebetulan Sukarti teman baik Mohammad Yusuf, pemimpin sebuah klinik pengobatan tradisional di Ciawi, Bogor. Pagi-pagi buta melesatlah Timor berwarna biru yang ditumpangi bibi dan keponakan itu. Arief sendiri yang memegang kemudi.

Obat cina

Perjalanan Jakarta—Ciawi ditempuh 45 menit. Sesampai di klinik sekitar pukul 9.30, Arief langsung menuju ruangan 3 m x 3 m yang disiapkan mendadak. MaklumKlinik Citra Insani selama ini dikenal sebagai spesialis pengobatan kanker. “Sekarang kami ingin mencoba pengobatan kecanduan narkoba dengan obat mujarab dari Cina temuan Lin Wen Tong,” ungkap Prof Dr (HC) M Yusuf, pemimpin klinik.

Kondisi Arief ketika datang tampak sehat walafiat. Namun, sebagai pemakai—begitu sebutan untuk yang mengkonsumsi narkoba—terlihat matanya kuyu dan cekung. “Arief belum begitu parah meski sudah 8 tahun mengkonsumsi ganja dan putau,” tutur Amin Idris, direktur Klinik Citra Insani Bogor.

Itu sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan kadar eritrosit 6,1-juta/ml dan leukosit 4.700/ml. Kadar eritrosit dan leukosit normal masing-masing 4,5-juta—5,5-juta/ml dan 5.000—10.000/ml.

Hari pertama perawatan, Arief diberi obat detoksifikasi atau penghilang racun. Obat kehitaman seperti kecap dalam kemasan sachet itu ditenggak setiap 4 jam sejak pukul 10.00 hingga pukul 22.00. Bahan baku obat itu antara lain Cordysep chinensis. Di Cina ia populer dengan sebutan thung cau. Tanaman itu terdapat di Pegunungan Himalaya, Tibet, di ketinggian 4.000 m dpl dan hanya tumbuh pada Mei.

Zat-zat yang terkandung dalam cordysep mampu menembus saraf ren may dan tu may secara bersamaan. Ren may adalah rangkaian saraf dari ba hui—pusat saraf—ke bagian depan tubuh, sedang tu may ke bagian belakang tubuh. Dengan bantuannya, obat yang dikonsumsi lebih cepat sampai ke sasaran.

Pemberian diulang pada hari ke-2 dimulai pukul 02.00, 06.00, dan 12.00. Dua jam setelah pemberian terakhir tiba-tiba badan Arief menggigil dan keringat mengucur deras. Ia sakaw—plesetan dari kata sakit—karena tubuhnya “menagih” asupan ganja dan putau. Saat-saat seperti itu pemakai merasakan penderitaan luar biasa. Seluruh badan terasa remuk, sehingga biasanya penderita kembali mengkonsumsi barang haram itu.

Hanya 3 hari

Untuk mengatasi ketagihan itu, Arief dicekoki obat khusus berhan utama sarang walet dan tanaman-tanaman khas negeri Tirai Bambu. Benar saja, sakaw Arief bisa diatasi tanpa harus menyuntikkan putaw ke tubuh. Namun, sesudah itu timbul keluhan: perut mual dan tidak bisa tidur. “Efek samping ini sudah diantisipasi. Makanya pada pengobatan 4 jam berikutnya ditambahkan 2 tablet obat tidur,” papar Yusuf. Malam itu Arief hanya sesekali bisa memejamkan mata.

Di hari ke-3 kondisi jebolan Teknik Elektro, Universitas Darma Persada, Jakarta Timur, itu membaik. “Cuma mual sedikit dan perut agak kembung. Keinginan untuk fly mulai hilang,” ujarnya. Dorongan untuk mengkonsumsi narkoba hilang sama sekali setelah Arief meminum obat penghilang efek samping dan sakaw pada petang hari. Tepat 3 hari sejak kedatangan, Arief terbebas dari belenggu narkoba.

“Saya salut obat yang dibawa Lin Weng Tong bekerja cepat dan tidak membuat ketagihan,” puji Amin. Sebab biasanya untuk membersihkan racun dari dalam tubuh pasien minimal butuh waktu seminggu. Menghilangkan ketagihan menghabiskan waktu berbulan-bulan.

Menurut alumnus Universitas Muhammadiyah Jakarta itu pengobatan narkoba selama ini kebanyakan hanya mengalihkan kecanduan dari narkoba ke obat-obatan yang dilegitimasi badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization). Ini menimbulkan ketergantungan pada obat-obatan “baru” itu.

Bukti sahih

Karena kondisi kesehatan Arief dinilai sudah pulih, Kamis 22 April 2004 ia diperbolehkan pulang. Peristiwa itu menjadi bukti sahih keyakinan Lin Weng Tong ketika ditemui Trubus akhir Maret 2004 di Guangzhou, Cina. “Obat yang saya buat mampu menyembuhkan kecanduan narkoba hanya dalam 3 hari dan tanpa efek samping,” ungkap Lin.

Wajar jika obat yang diteliti selama 11 tahun itu kini dipakai di pusat-pusat rehabilitasi kecanduan narkoba di Guangzhou. Sayangnya jumlah penderita sembuh lantaran kemanjuran obat herbal itu belum terdata. Harap mafhum di Cina pengendalian narkoba sepenuhnya ditangani kepolisian. Lin hanya memasok obat.

Di tanah air, keampuhan obat itu pun masih harus dibuktikan. Selain Arief Febrian, masih banyak lagi “Arief-Arief” yang mesti disembuhkan. (Karjono)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img