Tuesday, November 29, 2022

Pilihan Anyar Pekebun Tomat

Rekomendasi

Selain itu anggota famili Solanaceae itu juga rentan serangan layu fusarium. Itulah sebabnya, 2 tahun silam ia meninggalkan varietas lawas. Pekebun di Banyuwangi, Jawa Timur, itu memilih opal yang menghasilkan 50 ton per ha. Hibrida

 

Pekebun lain di Lumajang, Bojonegoro, Lamongan, Gunungkidul, Yogyakarta, Semarang, Wonosobo, Pamanukan, dan Subang juga memilih varietas yang sama. Opal diminati pekebun lantaran bandel dan resisten beberapa penyakit. Menurut Dr Rachman Suherman dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, Bandung, opal toleran terhadap serangan layu bakteri Pseudomonas solanacearum dan busuk akar Fusarium oxysporum.

Varietas lokal itu adaptif di ketinggian 100—850 m dpl. “Kualitas dan kuantitas produksinya tak kalah dibandingkan tomat hibrida unggulan,” papar alumnus Norwich University, Inggris, itu. Opal berbobot 110—175 g/buah. Ukuran seragam, bentuk lonjong, berwarna jingga hingga merah saat matang. Daging buah tipis rata-rata 0,25 cm dengan tekstur berair dan lunak. Dengan kriteria itu opal pas untuk pasta.

Tomat OP (open polinated—varietas yang dihasilkan dengan cara penyerbukan terbuka) yang dikembangkan di Balitsa, itu siap panen pada umur 90—100 hari setelah tanam. Potensi hasil 2—3,5 kg/tanaman. Jika rata-rata populasi 16.000 tanaman per ha, artinya potensi produksi opal mencapai 32—56 ton per ha. Itu setara dengan tomat hibrida 30—55 ton/ha.

Perdana

Tomat hibrida kini bakal punya pesaing baru. Pada awal 2005, produsen benih PT Seminis Vegetable Seed Indonesia melepas varietas baru tomat bernama perdana.

Bentuk buah bulat persegi. Daging buah keras sehingga tahan pengangkutan jarak jauh. Bobot 70—80 g/buah. Menurut Agus Setiyono dari Seminis Vegetable Seed perdana toleran layu bakteri dan Phytopthora. Itu ditunjang dengan potensi hasil yang tinggi mencapai 3—4,5 kg/tanaman. Tomat yang cocok untuk dikonsumsi segar maupun olahan itu tahan simpan hingga 2 minggu dalam suhu kamar.

Mirah

Varietas baru unggulan lain adalah mirah. Potensi hasil sebesar 30—45 ton/ha menjadi alasan pekebun untuk mengembangkannya. Produksi tomat hasil pemuliaan Ir Budi Jaya dari Balitsa itu hingga 10 tandan, masing-masing digelayuti 4—6 buah. Bobot buah rata-rata 80 g/buah, sehingga total produksi mencapai 4 kg/tanaman.

Yang khas buah bersiung di permukaan itu seperti labu. Buah berwarna merah cerah mengkilap saat matang. Rasanya manis sedikit masam. Teksturnya lunak cocok untuk saus dan pasta. Ia tahan busuk daun, layu bakteri, dan layu fusarium. Mirah paling adaptif ditanam di dataran rendah 100—500 m dpl.

Zamrud

Varietas baru lain yang tak kalah unggul adalah zamrud. Sosoknya amat menawan berwarna merah jingga dan berbentuk bulat telur. Zamrud tahan simpan hingga 9 hari usai petik; varietas lain, 5—7 hari. Tekstur daging kurang berair, padat, dan keras memungkinkan untuk transportasi jarak jauh. Varietas itu bercitarasa renyah dan manis.

Panen perdana sekitar 90—100 hari setelahnya. Varietas itu mulai dikebunkan di Klaten, Jawa Tengah, berketinggian di atas 100 m dpl. Produktivitas 30—35 ton/ha. Ia toleran layu bakteri

Budi Jaya dan Ety Purwati dari Balitsa meriset zamrud selama 5 tahun. Induk jantan adalah introduksi dari Malang dan betina asal Filipina. Pada perkembangannya zamrud banyak merebut hati pekebun Kalimantan, Sumatera, dan Nusa Tenggara Barat. Menurut Drs Pujianto dari produsen benih Riawan Tani, Jawa Timur, zamrud banyak difavoritkan petani karena adaptif di dataran rendah.

Utama

Pilihan lain pekebun adalah utama. Debutan paling gres dari PT Mulia Bintang Utama, Bogor, itu istimewa lantaran potensi hasil tinggi, 45 ton/ha. Batang yang kokoh sanggup menampung tandan yang jumlahnya mencapai 17 buah. Bobot per butir 5 g.

Tomat hibrida itu cocok dibudidayakan di dataran rendah sampai menengah. Tampilan utama sangat prima; bentuk bulat lojong, berwarna merah cerah, kulit tipis, dan daging lembut. Dengan kelebihan itu, utama sangat pas diolah sebagai pasta.

Utama sangat toleran penyakit layu bakteri. Rasanya manis sedikit masam. Bila disajikan sebagai buah meja, utama tampak menggiurkan. (Hanni Sofi a/Peliput: Corry Caromawati)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img