Monday, August 8, 2022

Pinang Diburu Pasar Ekspor

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dari sanalah setiap 2 minggu dikirim 3 kontainer biji pinang kering setara 51 ton ke Tanjungpriok, Jakarta Utara. Setelah berganti kontainer, buah Areca catechu itu mengarungi lautan menuju India dan Bangladesh.

Begitulah aktivitas sehari-hari di gudang H Kieh, warga Nagari Kotonanampek, Payakumbuh, Sumatera Barat. Ia seolah ketiban rezeki dari pinang yang dulu tak pernah dilirik. “Dulu sebelum 90-an pinang tak ada harganya. Paling dipakai sebagai teman menginang,” katanya. Menginang ialah sebutan warga Tanah Andalas untuk makan daun sirih yang dicampur getah gambir, kapur, tembakau, dan buah pinang.

Pinang bersalin rupa menjadi sumber pundi-pundi ketika seorang sahabat di Jakarta meminta pinang untuk ekspor pada 2002. Selama setahun ia bergerilya ke 13 kecamatan di Kabupaten Payakumbuh. Tujuannya mengumpulkan para pemilik pohon pinang yang tumbuh alami. Setelah terbentuk 12 kelompok tani masing-masing beranggotakan 5—6 orang, mereka menyanggupi permintaan dari Jakarta. “Setiap 2 pekan 3 kontainer, setara 51 ton,” katanya.

Tentu rekening Kieh bakal kian gemuk. Tengok saja, pada 2003, harga pinang Rp1.600 per kg di tingkat pekebun. Dari perniagaan itu perputaran uang minimal Rp81,6- juta per minggu atau sebulan Rp326,4-juta. “Kita tinggal petik, jemur, dan jual. Nyaris tanpa perawatan karena pinang tumbuh alami,” kata Kieh. Pasokan dari 12 kelompok tani itu binaan Koperasi Pinang Ranti itu meningkat setahun kemudian, menjadi 15 kontainer atau 255 ton per bulan (satu kontainer 20 feet setara 17 ton, red).

Tak sanggup

Seberapa besar permintaan pinang? Tak ada yang tahu pasti angka permintaan pinang di pasar dunia. Musababnya, sepuluh tahun lalu pinang dianggap tidak bernilai ekonomis. Bandingkan dengan kopi, karet, dan kakao yang sejak dulu dikenal sebagai komoditas andalan. Penelusuran Trubus di berbagai literatur menunjukkan ekspor pinang Indonesia ke mancanegara baru dimulai 1975 dengan volume 7.114 ton. Pada 1990 volume baru meningkat 2 kali lipat, 14.668 ton.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sejuta manfaat pinang terkuak. Di Korea Selatan, misalnya, pinang gencar dipromosikan sebagai salah satu bahan baku industri farmasi. Berbagai penelitian membuktikan di dalam pinang terdapat senyawa yang berkhasiat antidepresi, meningkatkan kekebalan tubuh, dan penurun panas (baca: Pinang Antidepresi Warisan Nenek Moyang, hal 142). Di India dan Pakistan, pinang dibuat menjadi bahan baku makanan ringan semacam permen.

Sebagai gambaran, menurut Adityawarman, eksportir pinang di Depok, Jawa Barat, permintaan pinang tak terbatas. “Pada 2002 saya diminta memasok 10—15 kontainer per bulan ke India, tapi tak sanggup. Mereka minta sistem kontrak tahunan,” katanya. Makanya ketua Koperasi Pinang Ranti itu memilih memasok ke berbagai pembeli di Bangladesh dan India dengan kapasitas 250 ton per bulan. Diduga dari kedua negara itu pinang dikirim ke Pakistan, Afganistan, dan Nepal.

Kian langka

Tingginya permintaan pasar ekspor juga diyakini oleh Tjen Darren Chandra, eksportir di Cibarusah, Kabupaten Bogor. “Dua tahun silam saya sanggup pasok 2—3 tronton (1 tronton setara 10 ton, red) per minggu. Permintaan ke saya sekitar segitu,” kata pemilik PT Sumber Alam Peleng (SAP) itu. Sayang semuanya terhenti sejak 26 Desember 2004.

Soalnya, pemasok yang rutin mengirim ke SAP ada di Aceh. Sapuan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam membuat para pemasoknya tak tahu ke mana rimbanya. Serambi Mekah itu salah satu sentra pinang kualitas terbaik.

Sejak itu pengiriman SAP ke Korea Selatan tersendat. “Saya hanya sanggup mengirim 5 ton per 2 bulan. Semuanya dipasok dari Medan,” kata kelahiran Aceh 54 tahun silam itu. Tjandra pernah mencoba menjajaki pemasok lain di Lampung dan Jakarta, tapi tak diteruskan. Pasalnya, importir negeri Ginseng membutuhkan pinang kualitas terbaik. Indikasinya standar good cut 90:10 atau minimal 80:20. Standar 90:10 berarti dari 2 kg contoh pinang kering yang dipotong, 90% lolos sortir dan hanya 10% rusak.

Menurut Chandra, good cut juga menjadi standar penting pada ekspor pinang. Industri farmasi di berbagai negara hanya menerima pinang berkualitas 90:10 dan 80:20. Sebaliknya, negara yang menggunakan pinang sebagai bahan baku campuran makanan ringan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh, lebih toleran. Mereka menerima buah keluarga palempaleman itu dengan standar 70:30, 65:35, dan 60:40.

Penelusuran Trubus dari data Badan Pusat Statistik (BPS), volume dan nilai ekspor kerabat kelapa sawit itu cenderung meningkat (lihat Betelnut, Mister). Namun pada 2000 importir mancanegara lebih banyak meminta buah pinang utuh kering dibanding yang telah dibelah. Kini ekspor buah pinang belah lebih tinggi ketimbang buah utuh kering. Diduga pinang belah disukai oleh konsumen akhir industri makanan. “Saat ini perbandingan pinang utuh dan belah 1:3,” kata Adityawarman. Dari keseluruhan importir, Pakistan menjadi negara nomor 1 penyerap pinang disusul India.

Hati-hati

Begitulah potret bisnis pinang yang pasarnya menganga lebar. Namun, hatihati bila akan terjun menggelutinya karena harga pinang fl uktuasi. Di Jakarta pada 2000 harga pinang dengan good cut 80:20 hingga Rp15.000 per kg. Dua tahun kemudian anjlok menjadi Rp4.500 per kg. Sebelum tsunami berangsur naik Rp5.000 per kg. Pascakehancuran sentra pinang di Aceh harga merangkak lagi hingga Rp6.500 per kg.

Harga untuk pinang good cut 65:35 dan 60:40 lebih rendah lagi, hanya US$450 per ton setara Rp4.500—Rp5.000 per kg. Walau begitu, menurut Adityawarman, bisnis pinang tetap menjanjikan. “Pekebun tak perlu merawat. Daripada buahnya dibuang,” katanya. Pekebun tetap dapat meraup untung bila eksportir mampu memotong jalur tataniaga yang panjang. Cara itulah yang kini diterapkan Adityawarman melalui Koperasi Pinangranti.

Maklum, jalur konvensional sangat panjang. Pinang berpindah tangan dari pekebun, pengumpul, pedagang, pedagang besar, dan terakhir eksportir. Adit memotong jalur, eksportir langsung mendapat pinang dari pengumpul. (Destika Cahyana/Peliput: Hanni Sofi a)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img