Tuesday, July 23, 2024

Plus Minus Budidaya Kerapu Di Darat, Tambak, dan Laut dengan Keramba Jaring Apung

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Peternak kerapu di Desa Labuhan, Kecamatan  Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Ali Usman budidaya kerapu pada tambak berisi air hasil pengeboran (sumur bor) dengan salinitas 24—27  ppt (payau).

Kadar salinitas air laut 30—35 ppt. Ali terinspirasi berternak kerapu di tambak  payau karena melihat rekannya, Munawir Darno, yang berhasil membudiayakan kerapu di kolam sumur bor.

Ali menebar 9.000 bibit kerapu berukuran 6—8 cm di tambak 3.000 m2. Artinya padat tebar 3 ekor per m2. “Masih belum panen perdana, tapi sejauh ini pertumbuhan ikan baik,” kata Ali.

Menurut pembudidaya kerapu di kolam sumur bor, Munawir Darno, sejatinya kerapu lebih optimal menggunakan air laut sesuai dengan habitatnya. Oleh karena itu, Munawir kerap menambahkan 500 kg dolomit dan 100 kg kalsium di tambak 2.500 m2 dengan ketinggian air 1 meter.

Ia juga menjaga pH 6,5—7. Pemberian probiotik juga disarankan demi mengoptimalkan kualitas air dan pertumbuhan ikan. Pembeda lain budidaya di kolam sumur bor ada tambahan biaya listrik untuk menyalakan  pompa.

“Biaya tambahan listrik untuk pompa sekitar Rp2,5 juta per kolam,” kata pembudidaya kerapu sejak 2019 itu. Total jenderal ada 22 tambak milik Munawir yang berukuran masing-masing 2.500 m2. Kelebihan di kolam sumur bor relatif bisa mengontrol kualitas air. Di tambak dekat laut murni mengandalkan alam.

Lokasi tambak yang kurang baik atau tinggi amonia menjadi kendala untuk budidaya kerapu. Meskipun demikian dari segi biaya produksi tambak dekat laut lebih ekonomis dibandingkan dengan kolam sumur bor.

Menurut petambak kerapu, Ido Al Antonis, tambak  dekat laut mengandalkan gravitasi untuk mengalirkan air laut ke dalam tambak. Keruan saja tidak memerlukan investasi sumur bor dan biaya listrik untuk pompa.

Menurut Edo—panggilan akrab Ido Al Antonis—secara teknis budidaya di tambak dan kolam sumur bor relatif sama. Bagaimana dengan budidaya di keramba jaring apung (KJA)?

Menurut pengelola kerapu KJA di Kampung Kerapu, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Anggi Satriawan, budidaya kerapu di KJA murni bergantung  pada alam.

 “Jika kualitas air buruk atau air surut pertumbuhan ikan kurang optimal,” katanya. Musababnya banyak plankton mati sehingga serangan penyakit meningkat. Harap mafhum lokasi KJA  memang di laut, berjarak 100—200 meter dari bibir pantai.

Anggi menambahkan, satu keramba dibagi berpertak-petak. Satu petak berukuran 9 m2 dengan kedalaman jaring 2 meter. Satu petak bisa berisi 250 bibit kerapu berukuran minimal 10  cm. Jika terlalu kecil benih bisa lolos dari jaring.

“Jika ada benih yang lebih besar misal 17 cm  lebih bagus,” kata Anggi.

Investasi di KJA amat berbeda dengan tambak. Pasalnya tidak memerlukan kincir seperti halnya di tambak. Biaya produksi terutama meliputi perawatan KJA, benih, dan pakan kerapu. Ketiga lokasi itu terbukti bisa untuk pembesaran kerapu dengan  kelebihan dan kekurangan masing-masing.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Pakai IoT di Kebun Jeruk, Hasil Panen Optimal

Trubus.id—Penggunaan internet of things (IoT) untuk pertanian turut membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Pekebun jeruk di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img