Friday, December 2, 2022

Poles Cupang Saat Sibuk Kerja

Rekomendasi

Itulah kesibukan masing-masing pekerja dan pengusaha berduit memelihara klangenannya. Ketika akan berangkat maupun setelah pulang bekerja, mereka memiliki kesibukan yang sama, menengok cupang cantik itu. Pada hari libur perhatian pada ikan rawa itu kian luar biasa. Rutinitas memasukkan kutu air bertambah dengan berbasah ria. Arji Reynoldi Rachman di Jakasampurna, Bekasi, misalnya. Menjelang akhir pekan ia mempersiapkan air yang ditampung di tiga drum besar berisi 100 liter. Tepat di hari libur air tampungan berpindah ke akuarium. ‘Minimal 2 kali seminggu air akuarium harus diganti,’ ujar manajer pabrik PT Bumi Kaya Steel Industries itu.

Hal senada juga dialami Tjandra Halim di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Bagi pengusaha kain di Tanahabang, Jakarta Pusat, itu hari libur merupakan hari istimewa. Sebanyak 30 akuariumnya dikuras dan diganti dengan air baru. ‘Karena air di sini kurang bagus, biasanya saya pakai air mineral,’ kata suami Ritasari itu.

Lain lagi dengan Andreas Lukman Sutjiadi di Green Garden, Jakarta Barat. Pemilik percetakan Gama di Jakarta Pusat itu lebih dulu mempersiapkan larutan daun ketapang sebelum hari libur tiba. ‘Hari minggu khusus saya luangkan waktu untuk mengganti air akuarium dengan air daun ketapang,’ tuturnya.

Kiblat Thailand

Selain merawat, Arji kerap berburu cupang hias berkualitas kontes. Menurut alumnus Teknik Mesin, Universitas Atmajaya Jakarta itu, perburuannya hanya mengandalkan internet dan telepon. ‘Setelah melihat jenis baru di internet lalu saya telepon ke teman, uangnya di transfer, dan cupang pun langsung dikirim,’ ucapnya. Cupang yang dipesan kebanyakan plakat dan halfmoon bercorak ngejreng dari Thailand.

Kini kecintaan Arji pada cupang hias sudah tidak diragukan lagi. Betta splendens itu seakan telah ‘menghipnotis’ hidupnya. ‘Kalau lagi asyik utak-atik, saya bisa sampai lupa makan malam,’ ujar kelahiran Jakarta itu. Saking gandrungnya, jatah waktu untuk tidur pun sering terganggu. ‘Apalagi saat memijahkan, kadang sampai tidak tidur,’ kelakarnya. Maklum koleksinya bukan 10-20 ekor, melainkan hampir 500 ekor. Meski yang menurutnya terbaik hanya 300-400 ekor. Beberapa koleksi Arji di antaranya plakat red dragon, yelow dragon, black dragon, gold dragon, gold, cooper, black cooper, salamander, steel blue, blue turkees, dan red gold. Sedangkan halfmoon: merah, gold, biru, blue turkees, steel, dan steel blue, serta serit: merah, cokelat, dan hitam.

Koleksi Arji itu berbeda dengan simpanan Tjandra Halim. Tjandra justru memiliki 30 koleksi plakat dominan warna jingga. ‘Plakat warna jingga ngejreng itu jarang orang yang punya,’ ucap pria yang pernah kuliah di Teknik Komputer, Universitas Budi Luhur, Tangerang. Dan itu pula yang menjadi motivasinya memelihara cupang. Untuk mendapatkannya, sejak 6 bulan lalu ia harus menginden pada seorang teman di Singapura. Kemudian temannya itu berburu ke Thailand.

Di samping itu, setiap sabtu pagi, Tjandra selalu menyempatkan diri berkeliling Kota Bambu, Slipi, di Jakarta Barat. Di sana serit maskot warna dasar terang kuning jadi incaran. ‘Khusus serit saya titipkan pada peternak di Slipi karena air di rumah kurang bagus,’ katanya.

Lain lagi kiat Lukman berburu. Ia menitipkan pesanan pada temannya yang sering bolak-balik ke Thailand dan Singapura. Hari-hari libur pun kerap ia habiskan di rumah temannya itu. ‘Hari libur khusus diluangkan untuk mencari cupang siap kontes,’ paparnya. Koleksi Lukman justru bukan hanya plakat merah, hijau, dan biru atau halfmoon biru, cokelat, dan kuning saja. Serit maskot warna merah, biru, cokelat, dan hitam memenuhi 500 akuarium. ‘Saya lebih suka serit karena tampil menawan saat ngedok,’ ujar pria 63 tahun itu. Tak pelak sebanyak 600 cupang memenuhi garasi dan halaman rumah.

Jutaan

Tak melulu kesenangan yang bisa dipetik dari cupang. Cerita sedih sempat dialami saat pertama kali mendalami cupang dan musim pancaroba tiba. Contoh Arji, saat berkenalan dengan cupang. Ia pernah ditipu seorang peternak lantaran 20 cupang seharga Rp500.000/ekor yang dibeli disebut impor dari Thailand. Padahal, Betta splendens itu hasil ternakan lokal. Sebanyak Rp10-juta pun melayang dari tangan Arji. ‘Belajar dari pengalaman, untuk membeli cupang itu jangan terburu-buru, tapi lihat dulu penampilan, corak, dan warna,’ tuturnya.

Pil pahit pun sempat dirasakan Tjandra Halim. Pada pertengahan Juli 2005, cupang kualitas kontes mati tiba-tiba terserang penyakit dropsy alias perut kembung saat musim pancaroba datang. Sebanyak 3-4 cupang seharga Rp1,5-juta-Rp2-juta akhirnya raib. Lukman pun mengalami hal serupa. Saat ditinggal pergi menengok anaknya di Amerika Serikat selama 2,5 bulan bersama pembantunya, ia harus rela kehilangan 100 cupang total senilai Rp30-juta-Rp40-juta karena tidak ada yang merawat.

Manajer pabrik, pengusaha kain, dan pemilik percetakan itu kini dipandang sebagai pemain cupang hias Nusantara kelas atas. Semua tercipta berkat rutinitas berburu, memberi pakan pagi dan malam hari, serta ganti air tiap minggu. Cupang membuat mereka mabuk kepayang. (Hermansyah)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img