Monday, August 15, 2022

Porang di Bawah Tegakan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Tanaman porang yang ditumpangsarikan di kebun karet.(foto. Temang Dwi Harto Putro)

TRUBUS — Pekebun karet dan sawit memanfaatkan lahan di bawah tegakan untuk budidaya porang.

Temang Dwi Harto Putro mengelola kebun karet seluas 2 hektare. Pohon-pohon karet Hevea brasilliensis itu berbaris rapi—populasi 400 tanaman per hektare. Di bawah tegakan karet selama ini “menganggur.” Namun, sejak November 2020 petani di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, itu memanfaatkan lahan di bawah tegakan untuk budidaya porang. “Dari pada tidak dimanfaatkan, mending buat menambah penghasilan,” ujar Dwi Harto.

Menurut koordinator bidang benih di Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Abdul Rahman, S.P., M.P., porang sejatinya tanaman dari hutan. Oleh karena itu, porang sangat cocok dibudidayakan di bawah naungan secara tumpang sari. “Jadi, petani bisa menumpangsarikan dengan beragam tanaman tahunan lain seperti jati, karet, dan kelapa sawit,” ujar Rahman saat seminar nasional yang diselenggarakan oleh PT Agricon dan Ikatan keluarga Proteksi Tanaman Universitas Hasanuddin.

Temang Dwi Harto Putro membudidayakan porang sejak 2019.(foto : Koleksi Temang Dwi Harto Putro)

Tropis

Dwi Harto menanam 40.000 bibit porang. Jarak tanamaan porang dari karet berumur 5 tahun itu sekitar 50 cm. Petani kelahiran Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, 5 Juni 1973 itu menggunakan bibit berupa biji bunga porang. Semula ia menanam biji porang di polibag bermedia tanam campuran dua bagian tanah lapisan atas atau top soil dan satu bagian kompos. Setelah 2—3 bulan sejak tanam, bibit itu tumbuh sekitar 30 cm.

Ketika musim hujan pada 2020 Temang memindahkannya di sela-sela lahan tanaman karet. “Saya kira akan bagus saat pindah tanam. Ternyata tanaman stres. Harusnya saya pindah pas setinggi 10—15 cm. Itu lebih mudah beradaptasi,” kata Temang. Dua pekan setelah pindah tanam, porang kembali pulih. Pada akhir Juni 2021 tanaman sedang fase dorman.

Temang memupuk tanaman anggota keluarga talas-talasan itu. Jatahnya segenggam pupuk petroganik per tanaman. Dua pekan setelah itu, ia memberi pupuk organik cair. Lalu setelah itu, tiap bulan ia menggunakan pupuk organik cair. Sebelumnya Temang mengencerkannya dengan 10 liter air per satu liter pupuk organik cair. Setiap tanaman mendapat 300 ml.

Wakil ketua Perhimpunan Petani Porang Kalimantan Timur itu menunggu masa panen pada 2022. Belum lama ini Temang membongkar beberapa tanaman untuk mengecek pertumbuhan umbi. Tanaman anggota famili Araceae itu berumbi rata-rata 3—4 ons. Padahal, ia menargetkan bobot umbi 5—6 ons per tanaman. Ia berharap pada saat panen Juli 2022, bobot umbi mencapai 1,5 kg pertanaman.

Hasil pengecekan sementara, bobot umbi porang Temang Dwi Harto Putro hampir 5 ons.(foto : koleksi Tameng Hadi P)

Umur 15 tahun

Menurut Temang harga porang di Balikpapan Rp5.000 per kg. Petani porang sejak 2019 itu memperkirakan omzet Rp7.500 per tanaman. “Tinggal dikalikan 40.000 tanaman,” ujar petani porang sejak 2019 itu. Tentu saja ia sangat senang karena penghasilannya bertambah dari lahan kosong di sela-sela tanaman karet itu. Menurut Abdul Rahman porang Amorphophallus muelleri sangat cocok dibudidayakan di negara beriklim tropis.

“Lahan sawit, jati, dan karet di Indonesia sangat luas. Indonesia juga negara tropis. Jadi sayang kalau lahan kosong di sela-sela tanaman tahunan itu dibiarkan saja,” ujarnya. Oleh karena itu, ia sangat mendukung para petani tanaman tahunan, seperti Temang untuk menumpangsarikan porang dengan karet. Menurut Abdur Rahman tanaman porang masih produktif di bawah naungan maksimal 40%.

Artinya, jika naungan terlalu rapat dan intensitas sinar matahari yang masuk ke porang di bawah 40%, tanaman porang menjadi kurang produktif. “Kalau tumbuh tetap bisa, tetapi hasilnya kurang maksimal,” ujar Sarjana Pertanian alumnus Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan itu. Selain di bawah tegakan karet, porang juga layak ditanam di bawah naungan sawit. Itulah keputusan Samirin yang mengelola lahan sawit 0,25 hektare berpopulasi 30—35 tanaman.

Kunjungan Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Timur di kebun karet dan porang Temang Dwi Harto Putro.(foto : Temang Dwi Harto P)

Petani di Tanahpaser, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, itu juga memanfaatkan lahan kosong di bawah tegakan Elaesis guineensis untuk membudidayakan porang. Umur sawit dua tahun. Samirin menumpangsarikan 5.000 bibit porang pada November 2020. Menurut perkiraannya panen pada Juni 2022. “Saya berharap harga tetap stabil meski sekarang sudah banyak yang tanam,” kata Sarimin.

Menurut Abdul Rahman penanaman kelapa sawit berjarak 9 m x 9 m. Ketika umur tanaman anggota famili Araceae itu berumur 5­—15 tahun masih bagus untuk tumpang sari dengan porang. “Kalau sudah 20 tahun lebih sudah terlalu rapat, jadi kurang bagus,” ujar Magister Pertanian alumnus Universitas Islam Makassar itu. Pada tanaman karet juga demikian. Usia 5—15 tahun masih bagus untuk ditanami porang di sela-sela tanaman karet produktif itu. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img