Sunday, August 14, 2022

Porang, Harta Terpendam di Belantara

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Dari harga jual itu, Hasbullah mengutip laba Rp900/kg. Total laba yang diraup mencapai Rp9-juta sekali kirim. Pengiriman dilakukan setiap 3 bulan. Maklum, pria 38 tahun itu hanya mengandalkan perburuan di alam.

Hasbullah tak menyangka tanaman yang tumbuh liar itu bernilai ekonomi tinggi. ‘Padahal di hutan jumlahnya melimpah,’ ujar sarjana Arsitektur itu. Umbi diolah menjadi tepung lalu dibuat penganan khas Jepang seperti konyaku, olahan berbentuk lempengan nata de coco, dan shirataki (seperti mi).

Di hutan

Hasbullah yang sejatinya bekerja di sebuah perusahaan pengolah mengkudu rutin melewati hutan-hutan menuju lokasi para pekebun mitra. Di tengah perjalanan ia seringkali menjumpai tanaman berdaun lanset yang letaknya berhadap-hadapan. Tanaman itu tumbuh liar. Di permukaan daun terdapat bintil-bintil sebesar kelereng. Bercak-bercak putih menjalar di sekujur batang.

Mulanya Hasbullah ragu tanaman yang dijumpai itu adalah porang. Untuk membuktikannya, pria bertubuh jangkung itu memboyong beberapa contoh umbi ke eksportir di Surabaya. Ternyata benar. Dari 2 umbi yang disodorkan, salah satunya adalah porang. Sedangkan yang satunya lagi sejenis talas.

Sejak itulah pintu peluang usaha terbuka. Pihak perusahaan minta berapa pun jumlah pasokan. Toh harga beli umbi porang kering yang ditawarkan cukup menggiurkan, yaitu Rp6.500 per kg. Tanpa pikir panjang Hasbullah pun sepakat meneken kontrak sebagai pemasok.

Eksportir porang di Surabaya itu juga tidak menetapkan syarat ketat. ‘Yang penting umbi kering dan bersih dari cendawan,’ kata Hasbullah. Umbi porang segar diiris dengan ketebalan 1 cm. Irisan itu kemudian dijemur hingga 3 hari. Pengeringan juga bisa dilakukan dengan oven. Agar benar-benar kering perlu pemanasan sekitar 1,5 jam. Umbi kering kemudian dikemas dalam karung plastik dan siap dikirim ke pabrik pengolahan di Surabaya.

Meluas

Di Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Suratman lebih dulu meraup laba dari porang. Guru Sekolah Dasar itu membudidayakan porang di lahan 15 ha. Dari lahan itu Suratman memanen 75-150 ton umbi porang segar per tahun atau 5-10 ton/ha. Dalam setahun Suratman hanya sekali menanam porang. Sebab, ‘Umbi porang hanya tumbuh subur di musim hujan,’ katanya.

Umbi hasil panen dijual ke pengepul. Dengan harga jual Rp1.000/kg, total omzet yang diraih Suratman Rp75-juta-Rp150-juta per tahun atau Rp6,25-juta-12,5-juta per bulan. Dari harga jual itu Suratman mengutip laba bersih Rp500/kg atau Rp3,12- juta-Rp6,25-juta per bulan.

Di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, itu tak hanya Suratman yang menangguk laba dari porang. Ada 425 pekebun lain yang bergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH)

Jatimakmur. Kelompok masyarakat itu diberi hak pengelolaan lahan hutan oleh Departemen Kehutanan. Luas pangkuan hutan LMDH Jatimakmur mencapai 3.720 ha. Dari luasan itu, baru 500 ha yang ditanami porang.

Selain di Kecamatan Rejoso, LMDH lainnya yang juga mengembangkan porang adalah LMDH Argo Mulyo di Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk. Kelompok yang beranggotakan 239 pekebun itu membudidayakan porang di lahan 300 ha. Menurut Suparno, wakil ketua Forum Komunikasi LMDH Jawa Timur, pekebun porang juga meluas di berbagai daerah seperti Madiun, Banyuwangi, dan beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat.

Permintaan tinggi

Pantas bila masyarakat di sana tertarik membudidayakan porang. Sebab, keuntungan yang ditawarkan pun cukup menggiurkan. ‘Dengan harga jual Rp1.000/kg, pekebun masih memperoleh laba Rp500/kg,’ kata Suratman. Itu lantaran pekebun tak perlu membeli atau pun menyewa lahan. Dengan bergabung dalam LMDH, pekebun mendapat hak pengelolaan lahan hutan secara cuma-cuma. Pemeliharaannya pun mudah. Cukup lakukan penyiangan bila tinggi gulma melebihi tanaman porang.

Para pekebun juga dapat meraup penghasilan tambahan dengan menjual umbi katak yang jatuh untuk benih dan umbi segar. Harga jual umbi katak Rp8.000/kg. Bila umbi katak dibiarkan tumbuh, pekebun dapat menjualnya sebagai bibit dengan harga Rp2.000/batang. Masing-masing pekebun pun berlomba-lomba memperluas lahan garapan. Begitu juga Suratman. Pada 2003, ayah 2 anak itu hanya menanam porang seluas 5 ha. Kini luas lahannya bertambah 3 kali lipat menjadi 15 ha.

Kian meluasnya pekebun porang di berbagai daerah seiring melonjaknya permintaan dari produsen olahan porang. ‘Perusahaan dari Australia minta 1.000 ton irisan porang kering per tahun,’ kata Lukman Hakim, dari PT Agro Alam Raya, eksportir keripik porang di Jombang, Jawa Timur. Sedangkan kapasitas produksi hanya sanggup memasok 300 ton/tahun.

‘Itu pun baru satu pembeli yang terlayani,’ ujar Lukman. Oleh sebab itu, ia berani menjamin, ‘Berapa pun pasokan porang akan saya terima,’ ujarnya. Untuk memenuhi kebutuhan pasokan, Lukman mengerahkan 4 truk berkapasitas 9 ton yang setiap harinya menjemput porang segar dari para pekebun di Banyuwangi, Madiun, Nganjuk, dan Jember. Harga beli umbi porang segar di tingkat pekebun Rp800/kg. Permintaan deras juga mengalir dari PT Ambico, produsen olahan porang di Surabaya, Jawa Timur. Hendro P, humas PT Ambico, menuturkan, kebutuhan bahan baku porang segar saat ini 2.000 ton/tahun. Hendro memperkirakan di tahun mendatang permintaan porang mencapai 5.000 ton/tahun. Hasil olahan Ambico berupa shirataki dan konyaku.

Menurut Sukirman, jurumasak Restoran Hanamasa, kedua penganan itu merupakan menu utama yang disebut shabu-shabu. Shirataki dan konyaku dapat dikombinasikan dengan hidangan laut, daging, atau sayuran. Saat menikmati hidangan itu, biasanya tersedia saos thai suki yang rasanya kuat sehingga shirataki dan konyaku lebih nikmat.

Kendala

Terbukanya peluang usaha porang bukan berarti tanpa aral melintang. Jumlah eksportir porang yang masih terbatas dikhawatirkan tercipta ketergantungan pasar. Menurut Lukman Hakim, saat ini baru terdapat 5 eksportir porang di Indonesia. Akibatnya, kendali harga ada di tangan para eksportir.

Modal yang terbatas membuat para pekebun hanya mengandalkan keuntungan dari hasil penjualan umbi segar. Padahal, bila dijual dalam bentuk olahan, keuntungan bisa berlipat.

Oleh sebab itulah LMDH Argo Mulyo tak ingin bergantung pada penjualan umbi segar. Mereka berencana mengembangkan porang dari mulai budidaya hingga penanganan pascapanen. Beberapa alat pengolahan seperti oven telah disiapkan. Tawaran kerja sama dari salah satu perusahaan yang membutuhkan pasokan glukomanan pun sudah di tangan. Salah satu zat manan itu digunakan sebagai bahan perekat, pembuat seluloid, kosmetik, makanan, hingga bahan peledak.

Peluang usaha porang yang menggiurkan mendorong para pemasok mengambil jalan pintas. Mereka lebih memilih berburu di hutan-hutan ketimbang membudidayakannya di lahan. Akibatnya, populasi porang di alam terancam. Padahal, untuk memperoleh bibit para pekebun juga mengandalkan pasokan alam. Jika demikian, harta yang terpendam itu perlahan sirna. (Imam Wiguna/Peliput: Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img