Wednesday, August 17, 2022

Potret Benih Kita

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kasus seperti itu seperti lagu lama yang kerap diputar kembali: terus terulang. Keruan saja petani merasa tertipu. Mereka dirugikan. Padahal, ketika sertifikasi benih dianggap terlalu mahal dan rumit, para produsen beralih ke sistem label. Namanya truth in labelling, percayalah dengan informasi yang ada di label kemasan. Sistem label itu mirip sertifikasi benih. Tujuannya sama, untuk mengendalikan mutu dan memverifikasi kualitas genetik.

Saat ini yang menjadi parameter mutu benih antara lain daya kecambah, kemurnian, dan kadar air yang merupakan data hasil uji laboratorium benih. Hasil pemeriksaan itu menjadi bahan pertimbangan lembaga sertifikasi dalam pemberian label. Sayang, untuk menerapkan sertifikasi benih menghadapi kendala seperti keterbatasan fasilitas, kompetensi analis benih, dan laboratorium yang tersentralisasi sehingga menimbulkan konsekuensi biaya tinggi.

Palsu

Singkat kata dalam sistem label produsen dipercaya akan bersungguh-sungguh menjaga mutu benih demi citra dirinya. Jadi kalau dalam uji laboratorium, data daya kecambah 90%, si produsen juga menuliskannya di label kemasan. Angkanya sama: 90%, tidak lebih. Sayang, kepercayaan itu tercederai dengan beredarnya benih palsu.

Jika konsumen membeli benih berlabel dan ternyata hasilnya buruk, bagaimana mungkin kepercayaan itu tumbuh? Benih palsu itu memang bukan dikembangkan oleh penangkar benih unggulan, tetapi berupa benih konsumsi. Kemungkinan lain, benih diproses tidak sesuai prosedur.

Bisa saja pemalsu benih memfotokopi label dan memasukkannya ke dalam kemasan serupa. Hal itu menjadi preseden buruk bagi kampanye pemerintah untuk menggunakan benih berlabel. Pemerintah beritikad baik dengan membentuk lembaga sertifikasi sistem mutu. Tujuannya memperlancar proses sertifikasi. Laboratorium dan lembaga sertifikasi mempunyai peran besar dalam memberikan jaminan mutu. Data mengenai mutu benih diperoleh dari laboratorium penguji benih yang kompeten dan terakreditasi.

Di Indonesia, terdapat 30 laboratorium mutu benih. Dari jumlah itu baru 13 laboratorium yang diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional. Ketersediaan dana menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan program akreditasi. Selain itu, pembangunan pusat perbenihan merupakan langkah jitu dalam menjawab masalah pertanian khususnya perbenihan. Keberadaan pusat perbenihan yang salah satu fungsinya sebagai produsen benih, dapat menjadi media pembelajaran dan unit usaha yang kompetitif pada masa mendatang. Upaya-upaya itu dilakukan pemerintah guna menjamin mutu benih yang beredar di masyarakat.

Pilihan bisnis

Benih salah satu faktor produksi penting dalam kegiatan budidaya pertanian. Sebab, benih sebagai titik awal penentuan kualitas dan kuantitas produksi. Ketersediaan benih bermutu secara cepat dan tepat serta memadai salah satu persyaratan dalam usaha peningkatan produktivitas panen. Sayangnya, meski mengklaim sebagai negara agraris, Indonesia masih kalah ketimbang negara tetangga seperti India, Thailand, dan Malaysia.

Industri benih di negara-negara itu tumbuh pesat. Mari lihat Malaysia yang kini mampu mengembangkan benih kopi dengan produktivitas 2 ton per hektar. Berapa produksi benih kopi kita? Belum mencapai separuhnya. Tepatnya baru 0,9 ton per ha. China serius mengembangkan benih padi hibrida berproduktivitas tinggi untuk mencukupi kebutuhan pangan 1,3-miliar jiwa penduduknya.

Bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah Indonesia berupaya keras dalam penyediaan benih khususnya padi. Itu terlihat dari peningkatan produksi padi secara terus-menerus. Pada 2006 produksi padi sebesar 54,45-juta ton, meningkat menjadi 57,16-juta ton pada 2007, dan 60,28-juta ton (2008). Kenaikan rata-rata 10,70% dalam 2 tahun.

Kekurangan pasokan benih nasional harus segera diatasi melalui pengembangan sistem dan usaha agribisnis benih. Sistem perbenihan nasional harus dirancang dengan pendekatan yang berorientasi bisnis. Pihak swasta harus merasakan kemudahan dalam berinvestasi dan memperoleh keuntungan dari investasi itu. Oleh karena itu tumbuhkan kepercayaan swasta terhadap daya tarik bisnis industri benih.

Pemerintah mesti memperhatikan beberapa faktor penunjang industri benih agar berkembang. Faktor penunjang yang dimaksud antara lain kemudahan dalam berinvestasi meliputi permodalan dan perizinan, pemberian perlindungan hak atas kekayaan intelektual dengan perlindungan varietas tanaman, perlindungan terhadap kelangsungan bisnis, pengendalian mutu yang efektif, efisien, dan fleksibel.

Mutu

Bisnis benih berkelanjutan berorientasi pada keunggulan teknologi yang terkandung dalam benih. Benih idealnya mampu membawa teknologi keunggulan varietas. Artinya memiliki mutu genetik, mutu fisiologis, dan mutu fisik yang tinggi. Mutu benih tidak hanya ditentukan dari mutu fisik, fisiologis, dan genetik, seperti daya berkecambah, kadar air, dan kemurnian.

Mutu benih juga ditentukan oleh tingkat kesehatan yang berpengaruh langsung terhadap produksi tanaman. Memang secara visual kondisi benih sehat sulit dibedakan dengan benih terinfeksi patogen. Sebagian besar tidak menunjukkan gejala apa pun. Itulah sebabnya benih terinfeksi tanpa gejala secara morfologi, tampak seperti benih sehat. Buah cabai yang tampak sehat (buah tanpa gejala penyakit sedikit pun) belum menjamin biji terbebas dari infeksi patogen tular benih.

Padahal, dampak kesehatan benih terhadap produksi sangat besar. Penggunaan benih kentang yang terinfeksi nematoda sista kuning Globodera rostochinensis menurunkan produksi hingga 70%. Bila idealnya produksi kentang granola 25 ton per hektar, akibat serangan nematoda sista kuning anjlok menjadi 10 ton. Walau terdeteksi sejak 2003, tetapi kini nematoda itu belum dapat dikendalikan. Ironisnya hingga saat ini pemerintah belum cukup memberi perhatian kepada nematoda sebagai parasit utama tumbuhan di Indonesia.

Penyebaran cendawan pada benih paling banyak. Kerusakan akibat cendawan dapat terjadi saat benih di lahan atau di gudang penyimpanan. Sedangkan penyakit benih berupa virus menyerang tanaman padi bersifat tidak terbawa benih. Oleh karena itu pengendalian yang penting adalah penanaman varietas tahan terhadap vektor dan mengendalikan vektor serangga dengan insektisida.

Pada kedelai, virus menyerang melalui benih. Sebagai contoh virus mosaik kedelai yakni Soybean Mozaic Virus dan Soybean Dwarf Virus menurunkan produksi 50-90%. Cara pengendaliannya dengan menanam varietas kedelai tahan virus mosaik seperti wilis dan eradikasi tanaman terinfeksi. Penyakit akibat bakteri jika terbawa produk pertanian kadang-kadang tanpa gejala serangan. Akibatnya terjadi kerusakan tanaman dan kerugian hasil yang besar.

Bakteri patogen terbawa benih yang sering ditemukan padi adalah Xanthomonas oryzae penyebab penyakit hawar daun dan bakteri Pseudomonas glumae penyebab penyakit busuk benih padi. Sumber-sumber penyakit benih itu bisa berasal dari luar negeri. Meningkatnya lalulintas tumbuhan antarnegara dan dari satu area ke area lain di dalam wilayah Indonesia, membuka peluang bagi kemungkinan masuknya perusak sumberdaya alam hayati.***

Achmad Sarjana, kepala Balai Besar Pengembangan dan Pengujian Mutu Tanaman Pangan dan Hortikultura

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img