Monday, August 15, 2022

Pratin Apichatsanee: Berhenti Bankir Berkebun Kurma

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pratin Apichatsanee melepas karier sebagai karyawan bank demi berkebun kurma
Pratin Apichatsanee melepas karier sebagai karyawan bank demi berkebun kurma

Berhenti menjadi bankir demi totalitas berkebun kurma.

Hampir setiap hari Pratin Apichatsanee berpakaian rapi dengan baju lengan panjang. Pria dendi itu meninggalkan rumah menuju tempat kerja pada pagi hari. Alumnus Universitas Rakhamhaeng, Kota Bangkok, Thailand, itu baru kembali ke hunian pada malam hari. Pratin Apichatsanee menjadi bankir di jantung Kota Bangkok. Pekerjaan itu menuntutnya berkutat dengan kredit dan keuangan.

Rutinitas itu berakhir empat tahun silam. Pratin memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan beralih profesi menjadi pekebun kurma. “Menjadi pekebun lebih bebas mengatur jadwal kerja,” ujar Pratin beralasan. Ia bisa berpakaian santai dan pulang kapan saja sebab letak kebun persis di samping rumah. Meninjau kebun, mengawasi pembibitan, mengontrol perawatan pohon, dan memimpin panen menjadi aktivitas Pratin saat ini.

Harga buah di kebun 500 baht setara Rp200.000 per kilogram.
Harga buah di kebun 500 baht setara Rp200.000 per kilogram.

Lahan singkong
Pratin mengutarakan keinginannya berhenti bekerja pada keluarga besarnya. Hatinya betul-betul terpesona pada buah anggota famili Arecaceae itu. Ia ingin fokus berkebun kurma. Beruntung keluarga besarnya menyambut hangat keputusan itu. Maklum, Pratin tumbuh dari keluarga berlatar belakang petani. Ayah Pratin adalah seorang pekebun cabai dan singkong yang sukses.

Keputusan Pratin terjun ke dunia pertanian bermula dari sebuah program televisi yang mengulas keberhasilan seorang pekebun kurma di Chiang Mai, bagian Thailand utara. Ia langsung tertarik untuk mengikuti jejak sang pekebun. “Kurma segar tergolong produk hortikultura eksklusif di Thailand,” ujarnya. Buah kerabat palem itu hanya dijumpai di pasar-pasar modern dengan harga yang sangat tinggi.

Pratin memulai langkahnya dengan mengorbankan lahan singkong seluas 10 rai setara 1,6 hektar milik keluarga. Kebun itu terletak di Distrik Paktongchai, Provinsi Nakhon Ratchasima. Butuh waktu 4,5 jam bermobil untuk mencapai lokasi itu dari Bangkok. Ia menanam 250 bibit kurma Phoenix dactylifera varietas KL-1 berumur 1,5 tahun hasil perbanyakan dari biji. Pratin menanam dengan jarak antarpohon 8 m x 8 m.

Pratin (bertopi) melayani pengunjung yang tertarik mengebunkan kurma.
Pratin (bertopi) melayani pengunjung yang tertarik mengebunkan kurma.

Pohon anggota keluarga Aracaeae itu berbunga saat berumur 1,5 tahun sejak tanam. Saat itu barulah ketahuan, dari 250 tanaman, sebanyak 104 pohon di antaranya betina yang menghasilkan buah segar. Selama periode panen, pemandangan berupa pohon kurma dengan tandan berisi dompolan buah yang nyaris menyentuh tanah dapat dijumpai di kebun Pratin. Sampai-sampai ia menggunakan kayu sebagai penopang buah.

Musim berbuah itu jatuh pada Juni—Agustus. Produksi sebuah pohon pada panen perdana mencapai 100 kg. Total jenderal Pratin memanen 10 ton kurma segar. Seluruh hasil panen ludes terjual di kebun. Ayah dua putri itu belum sempat melempar produk andalannya itu ke pasar lantaran banyak konsumen yang datang ke kebun. “Bahkan, beberapa konsumen sudah memesan sebelum panen,” ujar pria 51 tahun itu. Melihat peluang besar itu Pratin pun akhirnya memperluas kebun kurma menjadi 60 rai setara 9,64 ha dengan populasi total 2.200 pohon. Dari populasi itu 400 pohon merupakan varietas barhee asal kultur jaringan.

Intensif
Pratin membanderol 500 baht setara Rp200.000 per kilogram buah. Itu tergolong murah sebab harga buah di pasar modern paling rendah 800 baht setara Rp320.000 per kg. Sayang, saat Trubus berkunjung panen raya telah usai. Namun, Pratin menyisakan 2 pohon untuk dicicip buahnya. Kurma KL-1 berkulit merah dan kuning itu manis dan renyah dengan sedikit rasa sepat pada buah segarnya. Buah yang sudah kering berwarna kecoklatan pekat manis dan lembut.

Hamparan kebun kurma milik Pratin Apichatsanee di Distrik Paktongchai, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand.
Hamparan kebun kurma milik Pratin Apichatsanee di Distrik Paktongchai, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand.

Pratin menerapkan teknik budidaya intensif di kebunnya. Ia melengkapi setiap pohon dengan selang kecil yang terhubung pada pipa untuk mengalirkan air. Sumber air berasal dari danau yang berjarak 200 meter dari kebun. Ia juga rajin memberikan pupuk tambahan berupa NPK majemuk sebagai asupan hara.

Ketika pohon berumur 3 tahun, Pratin membantu penyerbukan atau polinasi untuk memaksimalkan produksi. Ia menuturkan waktu yang tepat untuk mengawinkan bunga jantan dan betina adalah Desember sebab curah hujan sedikit. Buah muncul dua bulan pascapolinasi. Saat buah seukuran kelereng atau tiga bulan pascapolinasi, Pratin melakukan seleksi. Dalam satu tandan, ia hanya mempertahankan 40% buah.

Selanjutnya ia melakukan pembungkusan saat muncul semburat kuning pada permukaan kulit buah. Setiap hari kebun Pratin ramai pengunjung. “Mereka tidak hanya membeli kurma segar, tetapi juga berniat belajar budidaya kurma,” ujarnya. Ia senang berbagi ilmu kepada pengunjung yang ingin berkebun kurma. Kini ia terkenal sebagai pemilik kebun kurma Korat Date Palm. “Korat merupakan nama kuno dari Nakorn Ratchasima,” ujarnya. (Andari Titisari)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img