Saturday, August 13, 2022

Prediksi Para Pakar: Komoditas Berpeluang Bisnis pada 2021

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Permintaan produk pertanian saat pandemi justru melonjak. Mancanegara meminati produk pertanian Indonesia.

Empat kontainer per bulan. Itu permintaan beras organik yang masuk ke Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Pengayom Tani Sejagat (PTS) di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah pada 2021. Padahal, produksi rata-rata mereka hanya satu kontainer setara 26 ton beras per bulan. “Kalau mengumpulkan dari semua petani bisa sampai dua kontainer. Tapi tidak bisa rutin karena untuk mendapat dua kontainer itu saja sudah maksimal,” kata Harjanto, pendamping dan penyuluh PTS. Artinya dari permintaan empat kontainer itu baru seperempat yang terpasok.

Jumlah sebanyak itu akumulasi permintaan dari lima negara, yaitu Singapura, Malaysia, Italia, Prancis, dan Amerika Serikat. “Saya optimis nantinya kami bisa memenuhi, tapi perlu waktu. Kami memilih meningkatkan produksi sesuai kapasitas petani dan tetap dalam koridor yang ditetapkan lembaga sertifikasi,” kata Harjanto. Optimisme itu lantaran kian banyak petani antusias berorganik bersama PTS. Bermula dari petani padi dan peternak sapi potong, PTS kini merangkul petani rimpang herbal, terutama jahe putih dan merah yang permintaannya menjulang.

Permintaan ekspor

Peluang Perikanan Masih Terbentang. (Foto: Imam Wiguna & Dok. Trubus)

Masih di Jawa Tengah, kelompok tani Sayur Organik Merbabu (SOM) di Kabupaten Semarang juga mengalami pertumbuhan. Menurut ketua SOM, Shofyan Adi Cahyono, S.P., omzetnya meningkat 300% sejak pandemi. Peningkatan permintaan mancanegara itu lantaran masyarakat negara-negara maju menyadari pentingnya asupan pangan organik. Pangan organik terbukti kaya komponen menyehatkan seperti antioksidan yang efektif meningkatkan imunitas guna melawan virus penyebab pandemi.

Di sisi lain, pandemi juga memicu hilangnya banyak lapangan kerja di negara produsen pangan seperti Indonesia. Efeknya banyak masyarakat kota pulang ke kampung asal mereka. “Mereka kembali menerjuni pertanian karena sektor itu selalu kekurangan tenaga kerja,” kata Ekonom Senior Institut Pembangunan Ekonomi dan Keuangan (Insitute for Development of Economics and Finance, INDEF) dan guru besar Universitas Lampung, Prof. Dr. Bustanul Arifin. Pada kuartal ketiga 2020 tenaga kerja pertanian meningkat menjadi 14,68% dari semula 13% pada 2019.

Sektor pertanian mendapat limpahan tenaga kerja dari sektor lain di kota. Hasilnya luas panen padi meningkat dari 54,59 juta hektare (2019) menjadi 55,56 juta hektare (2020). Berkah lebih jauh, pada kuartal kedua 2020 sektor pertanian tumbuh 2,19% dan pada kuartal ketiga sektor pertanian kembali tumbuh 2,15%. Pertumbuhan positif itu berkebalikan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus 5,32% pada kuartal kedua dan minus 3,49% kuartal berikutnya. Subsektor tanaman pangan dan hortikultura mencatatkan pertumbuhan kinerja tertinggi sektor pertanian, masing-masing 7,14% dan 5,60% pada kuartal ketiga 2020.

Pandemi justru memicu permintaan beras organik dari mancanegara (Foto: Imam Wiguna & Dok.Trubus)

Bentangan lain peluang yang belum terjamah adalah potensi ekspor avokad. Pakar buah di Kota Bogor, Dr. Ir. Mohammad Reza Tirtawinata, M.S. mengungkap permintaan 4 kontainer avokad per bulan dari Singapura. Negara tetangga, terutama Malaysia dan Thailand, tidak banyak yang mengebunkannya karena rasa avokad yang tawar minim rasa manis, tidak seperti durian atau lengkeng. Padahal di sisi lain dunia—tepatnya di Meksiko—avokad memicu pengerahan pekerja di bawah umur, perampasan lahan, bahkan pertumpahan darah akibat perang antarkartel.

Pemicu utama fenomena itu—media arus utama Amerika Serikat menyebutnya avocado war—adalah tingginya konsumsi avokad di Amerika Serikat. Negara yang berbatasan langsung dengan Meksiko itu mengonsumsi 4 kg avokad per kapita. Pemicu lain adalah legalisasi ganja yang menyebabkan harganya turun sehingga memangkas keuntungan kartel yang menguasai perdagangannya. Kartel yang enggan kehilangan pendapatan memaksimalkan potensi teritori mereka, termasuk hasil bumi seperti avokad, lemon, bahkan pepaya.

Di sisi lain, fenomena itu mengungkap peluang besar mengusahakan avokad. Apalagi di Indonesia tersedia beragam varian. Jenis adaptif dataran rendah maupun adaptif lahan menengah—tinggi bermunculan. Varian mungil yang tiap 8—10 buahnya berbobot 1 kg sampai jenis jumbo berbobot 0,5—1 kg per buah bisa didapat. Di perairan, beragam komoditas menanti sentuhan. Ikan konsumsi yang layak diperhitungkan antara lain patin, baung, dan jelawat. Ketiganya belum banyak dibudidayakan tapi memiliki potensi pasar besar yang belum tergarap maksimal. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol, Tamara Yunike, dan Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img