Ahmad Jaelani sukses membudidayakan cabai organik di lahan yang kurang subur dan asam di dataran tinggi.

Ahmad Jaelani memanen rata-rata 2 kg cabai keriting per tanaman. Produktivitas itu amat tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang hanya 0,8 kg. Populasi mencapai 50.000 tanaman per ha. Artinya dari sehektare lahan, pekebun cabai di Nagari Alahanpanjang, Kecamatan Lembahgumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, itu memanen 100 ton cabai keriting.

Jumlah panen itu dari tanaman yang dipertahankan hingga berumur 2 tahun sejak tanam. Masa produktif tanaman itu dua kali lebih lama bila dibandingkan dengan tanaman milik pekebun lain. Para petani lazimnya mempertahankan tanaman cabai hingga umur setahun. Seandainya jumlah hasil panen dari kebun Ajai—panggilan Ahmad Jaelani—dihitung per tahun, maka rata-rata produksi mencapai 50 ton cabai per hektare.
Kurang subur
Hasil panen itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan potensi hasil salah satu varietas cabai keriting produksi sebuah produsen benih ternama yang hanya 20 ton per hektare. Padahal, Ajai membudidayakan cabai keriting itu di lahan yang kurang subur dan asam (pH rendah) di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl). Menurut ahli pertanian organik asal Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Dr Nurzaman, kondisi lahan seperti itu sebetulnya kurang ideal untuk membudidayakan cabai.

Nurzaman mendampingi Ajai dalam budidaya cabai. Saat hendak membudidayakan cabai di kawasan itu, Nurzaman melihat tanaman cabai tumbuh merana. “Tanaman tumbuh kerdil dan belum juga berbunga. Padahal, umur tanaman sudah 6 bulan,” ujarnya. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan Ajai dan Nurzaman untuk melaksanakan program Korem 032/Wirabraja mengembangkan cabai organik di Alahanpanjang.
Sejak 2015 Korem 032/Wirabraja fokus mengembangkan pertanian organik di Sumatera Barat, terutama untuk komoditas padi, jagung, dan cabai. Alahanpanjang salah satu kawasan yang diproyeksikan menjadi sentra produksi cabai. Untuk memperbaiki kondisi lahan, Ajai menambahkan 4 ton dolomit untuk meningkatkan kadar pH dan 10 ton pupuk kandang.
Ia menaburkan kedua bahan itu di permukaan bedengan yang lebarnya 1 m hingga merata. Setelah itu ia menyemprotkan larutan ramuan organik hama (roma). Ramuan itu hasil perendaman buah pinang, daun sirsak, batang serai, daun sirih, bawang putih, cabai rawit merah, dan tembakau, selama semalam. Larutan itu untuk mencegah patogen tular tanah. Sebelum merendam, ia menghaluskan semua bahan.
Ajai juga menyemprotkan ramuan organik tanaman (rotan) yang terbuat dari bahan-bahan seperti buah pisang, pepaya, nanas, mangga, melon, kangkung air, kacang panjang, jagung muda, ragi, air kelapa, air leri, gula kelapa, dan usus nila yang dihancurkan dan difermentasi selama dua pekan (baca: “Rahasia Tentara Tanam Padi”, Trubus Juni 2015). Ia juga menyemprotkan larutan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan trichoderma.
Nutrisi organik

Selanjutnya Ajai menutup bedengan dengan mulsa plastik, lalu membiarkan selama 14 hari. Setelah itu barulah mulsa dilubangi dengan jarak antarlubang 40 cm x 40 cm. Sebagai sumber nutrisi Ajai mengandalkan sumber nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) organik. Sebagai sumber nitrogen ia menggunakan bahan baku urine sapi, kotoran hewan, dan daun gamal.
Adapun sumber fosfor berasal dari batang pisang, dan kotoran kelelawar atau puyuh. Sementara sumber kalium berasal dari sabut kelapa. Ajai juga rutin melakukan pemangkasan sejak tanaman berdaun 8 dan 10 helai untuk merangsang tumbuhnya percabangan. “Semakin banyak cabang diharapkan semakin banyak pula bunga dan buah yang muncul,” ujar Ajai. Pemangkasan juga dilakukan ketika muncul bunga pertama pada percabangan sekunder.

Untuk mencegah serangan hama, Ajai rutin menyemprotkan larutan roma. Ajai mulai panen cabai keriting pada umur 90—100 hari setelah tanam. Masa panen itu lebih lambat dibandingkan dengan masa panen cabai di dataran rendah yang biasanya siap panen pada umur 75—80 hari. Panen berlangsung setiap 3—7 hari selama 3 bulan. Pada saat bersamaan bunga-bunga baru bermunculan.
Begitu seterusnya hingga tanaman berumur 2 tahun dengan total produksi rata-rata 2 kg per tanaman. Dengan keberhasilan itu kini semakin banyak pekebun yang mengikuti jejak Ajai mengebunkan cabai. Mereka para perantauan asal Bandung yang tergabung dalam komunitas Minang Bandung (Miba). Hanya dalam satu setengah tahun luas areal tanam cabai di Alahanpanjang bertambah pesat, yakni dari semula 4 ha menjadi 120 ha. (Imam Wiguna/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)
