Saturday, June 22, 2024

Produksi Sarang Walet Bergantung pada Ekosistem

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 produksi sarang burung walet Indonesia terus meningkat saban tahun. Puncaknya pada 2021 mencapai 1.505,5 ton sarang walet. Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 1.312,5 ton.

Peningkatan produksi itu tak selamanya berbanding lurus dengan peningkatan jumlah rumah walet. Menurut Ketua Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Dr. Boedi Mranata, peningkatan produksi juga bisa karena ekosistem.

Produksi sarang burung walet amat bergantung pada ekosistem. Area pertanian subur, hutan, dan rawa tempat potensial sebagai sentra produksi sarang burung walet. Menurut Boedi daya dukung lingkungan itu berperan sebagai habitat serangga pakan alami walet.

Riset dari peneliti di Badan Karantina Pertanian, Dr. drh. Helmi, membuktikan bahwa serangga yang dimakan walet adalah serangga terbang berkoloni. Spesies serangga pakan walet yang dominan dari ordo Hymenoptera (62,6%), Coleoptera (19,6%), dan Hemiptera (17,4%).

Kian tercukupi kebutuhan walet berdampak pada potensi peningkatan produksi sarang. Sebaliknya jika rumah burung walet berlebihan justru memicu penurunan produksi sarang.

Boedi mencontohkan Kota Metro, Lampung yang sohor pada medio 1990-an sebagai sentra walet. Namun kini sebagai sentra walet Metro ambruk. “Ambruk bukan berarti habis, paling tidak hanya sisa 5—10% produksi dibandingkan dengan masa jayanya,” kata doktor Biologi alumnus Hamburg University, Jerman, itu.

Kian banyak rumah walet memicu populasi walet di satu sentra meningkat. Namun, seiring meningkatnya populasi walet kebutuhan pakan alami pun meningkat. Ketika reproduksi serangga sebagai pakan alami tidak mencukupi kebutuhan, maka populasi walet menurun menyesuaikan ketersediaan pakan.

Alih fungsi lahan dari semula hutan dan area pertanian menjadi bukan area hutan dan pertanian juga memicu penurunan produksi di satu sentra. “Lazimnya selang 10—15 tahun terjadi penurunan produksi hingga 50%,” kata Boedi.

Pria asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, itu mencontohkan, produksi sarang walet di Pulau Jawa menurun hingga stagnan sejak 2000. Produksi sarang walet di Pulau Sumatra pun stagnan sejak 2010 dan gejala penurunan hasil panen terlihat di Pulau Kalimantan sejak 2020.

Menurut Budi peningkatan produksi setahun terakhir terutama berasal dari pasokan produksi sentra baru. Sentra baru itu kian mengarah ke Indonesia bagian timur yang memiliki daya dukung lahan optimal.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berbisnis Olahan Bayam, Anak Muda Asal Tasikmalaya Raup Omzet Puluhan Juta

Trubus.id—Bayam tidak hanya menjadi sumber zat besi, tetapi juga bisa menjadi sumber cuan bagi  Filsya Khoirina Fildzah, S.Kep., Ners...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img