Friday, December 9, 2022

Produksi Tinggi Kopi Organik

Rekomendasi
Komasti salah satu jenis kopi katai.(foto : koleksi yusianto)

TRUBUS — Populasi padat serta pengendalian hama dan penyakit beberapa cara meningkatkan produksi kopi organik.

Ir. Setra Yuhana, M.M, menanam 5.000—10.000 kopi arabika organik di kebun seluas satu hektare (ha). Penanaman kopi di Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu berada di lahan agroforestri. Setra menerapkan jarak tanam 0,75 × 3 m. Lazimnya populasi normal sekitar 2.000 tanaman per ha. Artinya kebun kopi Setra sangat rapat. “Selain meningkatkan produksi, penanaman dengan populasi padat memudahkan perawatan karena tanaman lebih pendek hanya 1,5 meter,” kata warga Kota Bandung, Jawa Barat, itu.

Setra menuai 5—10 ton biji kopi kering (green bean) per ha ketika tanaman berumur 4—5 tahun. Bandingkan dengan kebun kopi berpopulasi normal sekitar 2.000 tanaman yang hanya menghasilkan 2 ton kopi biji kering. Dengan kata lain, peningkatan produksi di kebun kopi milik Setra 2—5 kali lipat. Peneliti kopi di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Jember, Jawa Timur Ir. Yusianto, mengatakan, penanaman kopi dengan populasi padat yang mengacu pada kopi arabika mulai diterapkan sejak 2011 di Indonesia.

Jenis katai

Penanaman kopi berpopulasi padat untuk meningkatkan produksi.

Penanaman rapat atau high density planting (HDP) berlangsung di beberapa daerah karena terjadi peralihan lahan dari kebun teh menjadi kebun kopi. Bahkan ada kejadian alih fungsi kebun sayuran menjadi kebun kopi. Tujuan penanaman kopi berpopulasi padat antara lain agar lebih cepat menghasilkan. Normalnya terdapat 1.500 kopi arabika per ha yang berjarak tanam 2,5 x 2,5 m untuk tanaman tipe tinggi (tall).

“Kalau pakai kopi katai, populasi bisa ditingkatkan setidaknya 2.500 tanaman per ha dengan jarak tanam 1,5 x 1,5 m,” kata alumnus Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), itu. Pemerintah memperkenalkan kopi arabika jenis katai atau dwarf kepada masyarakat pada 1990. Penanaman padat dengan penerapan jarak tanam bersistem gigi walang. Prinsip gigi walang serupa dengan sistem tanam padi jajar legowo. Konkretnya pekebun menanam 2 baris kopi sangat rapat.

Antar 2 baris berjarak 3 m sehingga populasi mencapai 4.000 tanaman per ha. “Prinsip gigi walang untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan karena upah tenaga kerja makin mahal,” kata pria berumur 60 tahun itu. Yusianto menuturkan, penanaman rapat dengan kopi arabika jenis katai lebih cepat panen. Panen perdana ketika tanaman berumur sekitar 2,5 tahun.

Lebih cepat satu tahun dibandingkan dengan kopi arabika jenis tall yang panen perdana pada umur 3,5 tahun. Jenis katai lebih direkomendasikan lantaran paparan sinar matahari tetap optimal meski dengan penanaman padat. Penyerapan unsur hara juga relatif lebih stabil dan tidak saling berebut antartanaman. Pemilihan jenis tanaman kopi katai disertai dengan aplikasi pupuk berimbang menjadi kunci sukses penanaman kopi berpopulasi padat.

Menurut Penyuluh Pertanian Ahli Muda, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Reza Septian, S.P., menambah jumlah tanaman merupakan cara paling mudah untuk meningkatkan produktivitas kopi per ha. Populasi kopi dikatakan padat bila terdapat 3.025 pohon/ha. Populasi arabika normal mencapai 2.000 tanaman dan robusta 1.600 tanaman per ha. Kopi arabika bersosok katai cocok untuk penanaman rapat.

Pengendalian hayati

Alasannya sosok tanaman relatif pendek sekitar 1,2 m dan berdiameter tajuk 1,5 m. Dengan begitu tajuk antartanaman tidak saling tumpang tindih dan mengurangi risiko persaingan hara, air, dan sinar matahari. Selain HDP, trik lain agar produksi kopi organik meningkat yaitu penanggulangan hama dan penyakit tanaman. Penggerek buah kopi (PBKo) salah satu hama utama kopi. Ngadiyanto memanfaatkan cendawan entomopatogen Beauveria bassiana (bb) untuk mengatasi hama Hypothenemus hampei itu.

Pekebun kopi berpopulasi padat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Ir. Setra Yuhana, M.M.

“Satu gram bb untuk 15 liter air,” kata pekebun kopi di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu. Satu tangki berisi 15 liter larutan itu untuk menyemprot 500 tanaman. Artinya ia memerlukan 3 tangki untuk lahan 1 ha. Ngadiyanto lebih memilih bb ketimbang pestisida kimia lantaran kebun kopi yang dikelola menerapkan konsep organik. Menurut Reza kebun kopi organik merupakan kebun yang dikelola dengan prinsip-prinsip organik, ramah lingkungan, dan tidak ada residu bahan kimia berbahaya.

Dengan kata lain, bukan kebun kopi yang dibiarkan tanpa perawatan (organic by default). Tidak hanya PBKo yang menjadi momok pekebun kopi. Cendawan akar putih pun merongrong kopi terutama saat musim hujan. Ngadiyanto menggunakan agen hayati trichoderma untuk mengatasi cendawan rigidoporus itu.

Pria berumur 52 tahun itu melarutkan 100 gram trichoderma ke dalam 15 liter air setara 1 tangki semprot. Ngadiyanto menyemprotkan larutan trichoderma itu sebelum musim hujan. Satu tangki untuk kebutuhan sekitar 500 tanaman. Tip lain meningkatkan produksi kopi organik yakni penerapan prinsip konservasi tanah dan air seperti pembuatan teras dan rorak. Pemberian bahan organik juga dapat dilakukan.

Ngadiyanto mengandalkan pupuk organik berbahan kotoran kambing sebagai sumber hara. Reza mengatakan, perawatan kopi organik lainnya yaitu pengendalian gulma secara mekanik dan hanya pada piringan teras. Jika berlebihan mengakibatkan percepatan degradasi lahan dan meningkatkan potensi longsor. “Tambahkan juga tanaman penaung untuk menjaga iklim mikro agar kelembapan lebih stabil,” kata pria kelahiran September 1985 itu. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img