Sunday, May 19, 2024

Produktivitas Kakao Indonesia Rendah : Perlu Intensifikasi Hingga SDM Mumpuni

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Produktivitas kakao di Indonesia relatif rendah kurang dari 1 ton per hektare (ha). Berdasarkan data dari Outlook Kakao, pada 2013 menunjukkan produktivitas rata-rata kakao 821 kg per ha. Namun, nilai itu menurun pada 2022 menjadi 667 kg per ha.

Penurunan produksi itu salah satu penyebabnya perubahan iklim pertanian. Pada komoditas kakao penurunan termasuk kakao hingga 50%. Menurut  Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan, Muhammad Rizal Ismail, S.P., M.Si., penerapkan pertanian berkelanjutan bisa menjadi solusi untuk mengatasi perubahan iklim.

Salah satunya dengan metode tumpang sari atau menanam beragam komoditas di satu lahan. Upaya lain mencegah kekeringan dengan membuat rorak atau irigasi buatan untuk memenuhi kebutuhan air saat musim kemarau. Cara lainnya pilih klon tahan kekeringan.

Rizal Ismail menuturkan selain itu perlu intensifikasi sebagai upaya mengoptimalkan lahan yang sudah ada sepanjang tanaman menghasilkan. Sejatinya pemberian pupuk dan pembenah tanah terbukti bisa meningkatkan produktivitas kakao.

Namun faktor lain yang tak kalah penting dalam peningkatan produktivitas dengan menggunakan benih unggul bersertifikat. Keberlanjutan industri kakao mesti melihat siklus tanaman. Jika umur tanaman terlalu tua mesti dilakukan peremajaan agar produksinya kontinu.

Anjuran pemupukan untuk kakao mesti memenuhi kaidah tepat jenis, waktu, tempat atau lokasi, dan cara pemberian.  Sebelum menentukan dosis mesti dilakukan uji analisis tanah dan daun.

Selain perubahan iklim menurunnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola kebun kakao juga berdampak pada produktivitas  kondisi tanah yang letih (soil fatigue), serta hama seperti penggerek buah kakao (PBK) dan penyakit vascular streak dieback (VSD).

Kendala lain rendahnya pemupukan bahkan tanaman tidak dipupuk. “Beberapa upaya yang kami lakukan kerap menyelenggarakan forum diskusi terpumpun atau focus group discussion (FGD) untuk meningkatkan mutu SDM, bantuan perluasan, peremajaan, intensifikasi, dan menyosialisasikan pedoman budidaya kakao yang baik (Good Agricultural Practice on Cocoa),” kata Rizal Ismail dalam keterangan tertulis.

Baca selengkapnya pada Majalah Edisi 653 April 2024 mengupas tuntas Harga Meroket: Bisnis Kakao Bergairah. Dapatkan Majalah Trubus Edisi 653 April 2024 di Trubus Online Shop atau hubungi WhatsApp admin pemasaran Majalah Trubus.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Pilihan Mengolah Biji Ketumbar Praktis  

Trubus.id–Ketumbar berpotensi sebagai penurun gula darah. Hal itu sesuai peneliti di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img