Monday, August 15, 2022

Prof Norman Uphoff PhD : Siapa Saja Dapat Terapkan SRI

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Banyak petani kini mengadopsi sistem budidaya yang ditemukan Fr Henri de Laulanie, ahli pertanian berkebangsaan Perancis yang bermukim di Madagaskar. Menurut Mita Rostiawati, Manager Contributions & CSR Programs PT HM Sampoerna Tbk., petani antusias menerapkan SRI. Sampoerna membina 146 petani yang menerapkan SRI di lahan 57,12 ha sejak 2007.

Meluasnya SRI ke berbagai negara antara lain berkat jasa Profesor Norman Uphoff PhD, mantan direktur Cornell International Institute for Food, Agriculture, and Development (CIIFAD). Ia tertarik memperkenalkan metode baru itu lantaran peningkatan produksi signifikan. Norman pertama kali memperkenalkan SRI kepada para petani di Indonesia pada 9 tahun silam. Berhasilnya ujicoba SRI di luar Madagaskar membuat Norman semakin yakin untuk mempopulerkan SRI. ‘SRI seperti sebuah resep menu makanan yang bisa digunakan siapa saja. Penerapannya bisa disesuaikan dengan kondisi lokal,’ ujar Professor of Goverment and International Agriculture di Cornell University.

Norman Uphoff berperan dalam penyebaran sistem SRI di Asia, Afrika, dan Amerika. Dosen Cornell University itu terbang ke Malang, Jawa Timur, untuk menjadi pembicara seminar pada 6 Oktober 2009. Wartawan Trubus Ari Chaidir mewawancarai doktor alumnus University of California, Berkeley, Amerika Serikat, itu. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan SRI saat ini?

Sebelum 1999, SRI hanya berkembang di Madagaskar. Namun, sekarang metode SRI berkembang dan diterapkan di 36 negara di Asia, Amerika, dan Afrika. Negara terbaru yang menerapkan SRI adalah Timor Leste pada 2009.

Anda juga mengamati perkembangan SRI di Indonesia?

SRI lumayan bagus di Indonesia karena mendapat dukungan dari berbagai institusi seperti lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi. Bahkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono juga mendukung SRI. Dengan demikian SRI lebih mudah diterapkan petani-petani di Indonesia.

Sejauh pengamatan Anda, negara mana yang paling sukses menerapkan SRI? Apa indikator keberhasilan negara itu?

Kamboja, India, China, dan Vietnam tergolong bagus dalam menerapkan SRI. Itu terlihat dari banyaknya petani di negara-negara itu yang menerapkan SRI. Petani yang sukses menerapkan SRI mengajak petani lain untuk mencoba sistem itu. Mereka meluangkan waktu, tenaga, dan biaya sendiri untuk mempromosikan SRI dari satu kampung ke kampung lain sehingga penyebaran SRI di sana relatif cepat.

Adakah teknologi yang diperbarui di dalam SRI?

SRI bukanlah sebuah teknologi, tetapi sebuah konsep agroekologi yang mengedepankan pengaturan tanam, tanah, air, dan pupuk. Inovasi baru dalam SRI akan muncul seiring dengan banyaknya eksperimen.

Mampukah SRI mendukung ketahanan pangan?

Ketahanan pangan adalah masalah besar, kita butuh banyak inovasi dan penelitian untuk menghadapinya. SRI dengan konsep agroekologi mendukung ketahanan pangan dengan peningkatan produktivitas padi, penghematan kebutuhan air, dan peningkatan pendapatan petani. Pendapatan petani meningkat karena produksi juga meningkat.

Beberapa petani yang baru pertama kali menerapkan SRI sulit menanam bibit muda dengan posisi akar horizontal. Selain itu pertumbuhan gulma relatif banyak akibat budidaya tanpa air. Apakah itu menjadi kelemahan metode SRI?

Pada awal penerapan memang ada yang kesulitan karena merupakan fase belajar. Namun, setelah terbiasa dengan SRI, petani tidak perlu waktu lama ketika menanam bibit. Pada SRI penyiangan harus dilakukan karena banyak gulma. Untuk mempermudah penyiangan dapat dilakukan dengan mekanisasi dengan memanfaatkan mesin penyiang. Dampaknya menghemat tenaga kerja, waktu, dan memperbaiki sistem aerasi tanah. Dari hasil penelitian, frekuensi penyiangan berpengaruh terhadap hasil panen. Penyiangan 4 kali dalam satu musim tanam menghasilkan panen lebih banyak daripada 2 atau 3 kali penyiangan.

Mungkinkah metode SRI diterapkan pada komoditas lain?

Di India metode SRI diterapkan pada tebu. Para petani tebu mengurangi pasokan air 30% dan bahan kimia 25%. Hasilnya panen tebu meningkat 20%. SRI juga diterapkan pada milet dan gandum yang juga meningkatkan panen.

Bagaimana prediksi dan harapan Anda terhadap perkembangan SRI pada masa mendatang?

Metode SRI belum selesai. Pada masa mendatang SRI terus berkembang, dimodifikasi, dan ditingkatkan. SRI diharapkan bisa berinovasi sesuai kebutuhan lokal.***

^ Bibit umur 7 hari siap tanam

< Norman Uphoff, sebarluaskan SRI

di Indonesia sejak 9 tahun lalu

^ Budidaya SRI potensial diterapkan di berbagai lokasi

v Produktivitas padi SRI mencapai 10-12 ton  per ha

Foto-foto: Ari Chaidir & Sardi Duryatmo

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img