Friday, August 19, 2022

Prospek Porang Cerah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Ketua poktan Sarwo Asih di Madiun, Suyanto (foto : Suyanto)

TRUBUS — Melimpahnya hasil panen porang harus diimbangi dengan mutu yang baik agar terserap pasar.

Keberhasilan warga Kabupaten Madiun, Jawa Timur, membudidayakan dan mendapatkan keuntungan dari penjualan porang menyedot perhatian masyarakat luas. Penanaman porang pun meluas di luar Madiun bahkan di luar Pulau Jawa. Kementerian Pertanian menyusun Peta Jalan Budidaya dan Ekspor Porang 2020—2024. Tercatat luas areal tanam mencapai 19.950 ha pada 2020. Target luas panen pada 2021 seluas 47.641 ha.

Harapannya ada areal tanam seluas 100.000 hektare (ha) pada 2024 dengan potensi ekspor sebesar 92.000 ton chips. Peta jalan menargetkan luas panen meningkat 95% dari luas tanam dua tahun sebelumnya. Selain itu, pemerintah juga menyasar produksi basah 10 ton per ha untuk diolah menjadi tepung glukomanan, sedangkan produksi kering berupa cip sebesar 15% dari produksi basah. Fokus pengembangan tersebut dilaksanakan secara bertahap di 29 provinsi dan 263 kabupaten.

Permintaan banyak

Jika penanaman 100.000 ha tercapai pada 2024, maka hasil panen mencapai 1 juta ton umbi segar. Asumsinya kebun porang 1 ha menghasilkan 10 ton umbi/ha. Untuk menghasilkan 1 kg cip diperlukan sekitar 10 kg umbi segar. Jadi, ada 100.000 ton cip pada 2026 jika kita asumsikan panen 2 tahun setelah penanaman. Di masa mendatang pemerintah menghendaki ekspor porang dalam bentuk tepung. Rendemen dari cip ke tepung sekitar 50% sehingga didapat 50.000 ton tepung porang.

Kualitas chip bersih, tanpa noda hitam, dan warna kuning cerah

Tentu jumlah itu bisa berubah. Banyak faktor yang memengaruhi seperti serangan hama dan penyakit serta cuaca. Menurut eksportir porang di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Samsul Hudori, sejatinya kebutuhan pasar terhadap porang masih besar terutama di Eropa. Ada empat negara di Eropa yakni Prancis, Norwegia, Belgia, dan Balkan meminta pasokan 120 ton cip porang per bulan. Pasokan saat ini masih belum memenuhi sekadar 1% dari permintaan.

“Komoditas kita belum masuk standar Eropa. Mereka menghendaki kualitas cip yang bersih, tanpa noda hitam, dan warna kuning cerah,” kata Samsul. Cip juga harus bebas cendawan dan tanpa kulit. Selain cip, pembeli dari Belgia dan Spanyol juga meminta tepung porang (konjac flour). Samsul mengirim sampel 350 kg tepung dan ternyata kualitasnya sesuai kriteria pembeli dari Benua Biru. Kriteria tepung yang diinginkan yaitu kadar glukomanan 50—60% dan tanpa ada black spot.

Tak ragu mereka pun memesan sebanyak 50 ton tepung porang per bulan tetapi Samsul belum menyanggupi. Ia masih kewalahan mengumpulkan bahan mentah yang memenuhi standar kualitas. Samsul gencar mendorong produsen porang agar memproduksi cip dan tepung berkualitas dengan membina beberapa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tak hanya itu, pekebun turut memiliki andil membudidayakan porang yang berkualitas.

Mengingat penanaman telah meluas, ia menekankan pekebun dan produsen tak hanya berfokus pada kuantitas besar tetapi juga memprioritaskan kualitas. Bila kualitas terjaga, Samsul optimis pasar dalam dan luar negeri makin meluas. Target Samsul, produksi cip dan tepung sesuai standar mutu Eropa terwujud pada 2022.

Sesuai habitat

Sebagian besar produksi chip bernoda hitam dan masih terdapat kulit

Ketua Kelopomok Tani (Poktan) Sarwo Asih di Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Suyanto, juga meyakini perniagaan porang lebih baik di masa mendatang. Alasannya industri pengolahan porang bertambah. Terbukti di Jawa Timur saja, terdapat belasan pabrik pengolah porang yang siap menampung hasil panen petani.

Menurut peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia (P4I) Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Rodiyati Azrianingsih, S.Si., M.Sc., Ph.D., porang sejatinya tanaman hutan yang terbiasa tumbuh di bawah tegakan. Budidaya monokultur di lahan terbuka dapat dilakukan dan hasilnya memang lebih tinggi daripada tumpang sari. Namun Rodiyati menyarankan pekebun tidak berorientasi pada kuantitas semata. Pemilihan lokasi budidaya sebaiknya sesuai habitat asli agar menghasilkan umbi berkualitas.

Langkah yang lebih bijak yakni membudidayakan porang secara tumpang sari dengan komoditas yang sudah ada di lahan itu. Peneliti dengan bidang riset sistematika tumbuhan itu menuturkan, “Karena tanaman hutan, mestinya ditanam di lahan agroforestri.” Pola budidaya agroforestri memungkinkan integrasi tanaman dan kehutanan di lahan sama. Budidaya di bawah naungan berupa tegakan dan tanpa banyak input sintetis merupakan kondisi ideal bagi porang. Dengan begitu, porang dapat tumbuh dengan “bahagia”. (Sinta Herian Pawestri/Peliput: M. Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img