Saifudin Ansori menanam padi varietas Rojolele di lahan seluas 2 hektare (ha). Sehektare di antaranya dibudidayakan secara konvensional. Sementara yang sehektare lagi Saifudin budidayakan secara semiorganik.
Artinya, untuk sumber nutrisi ia hanya mengandalkan pupuk organik. Untuk pupuk dasar, ia menggunakan pupuk kotoran hewan (kohe) fermentasi murni yang dicampur dengan arang sekam. Petani yang memiliki sawah di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, itu juga memberikan pupuk organik cair sebagai pupuk lanjutan.
Pupuk itu diberikan melalui penyemprotan menggunakan dron. Penyemprotan dilakukan setiap 7 hari sampai tanaman berumur 70 hari setelah tanam. Setelah umur itu, pemupukan dihentikan sampai panen.
Ifut—panggilan akrab Saifudin Ansori—mengakui belum bisa organik murni karena lahan di sekitar sawah belum menerapkan organik. Untuk memberantas serangan hama dan penyakit pun sebagian masih menggunakan pestisida kimia. Pasalnya, pestisida organik belum cukup untuk menghalau keduanya.
Pada awal penanaman, ia hanya menggunakan pestisida organik. Namun, beberapa hari kemudian hama kembali berdatangan sehingga terpaksa dibantu menggunakan pestisida kimia. “Jadi, saya melakukannya bertahap,” ujar pria yang berdomisili di Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, itu.
Pemangkasan
Seluas 2.000 m² di lahan semiorganik itu, ia lakukan pemangkasan daun (pruning). Pemangkasan dilakukan ketika umur tanaman 21 hari setelah tanam, maksimal umur 28 hari. Ia memotong padi sehingga hanya menyisakan 10 cm dari permukaan tanah.
Sebelum pruning, Ifut menyemprot tanaman dengan pupuk organik cair. Ternyata perlakuan itu memberikan dampak luar biasa, terutama membentuk anakan padi.
“Anakannya jauh lebih banyak 10% dibandingkan dengan padi yang tidak dilakukan pruning,” kata petani yang menanam padi hingga ke daerah Klaten, Provinsi Jawa Tengah, itu.
Pada saat panen, setelah dihitung-hitung ternyata hasil panen mencapai 8 ton per ha. Hasil panen itu lebih tinggi daripada kebiasaan petani setempat yang hanya 6—7 ton per ha.
Pruning ternyata juga mampu memangkas masa panen. Petani yang menanam Rojolele biasanya panen pada umur 110 hari. “Dengan perlakuan pruning bisa panen pada umur 100 hari,” kata Ifut.
Pemangkasan pada tanaman padi juga terbukti meningkatkan produktivitas tanaman padi di Bantar Kulon, Kecamatan Banguncipto, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Penyuluh di sana memanen padi dari hasil uji coba pruning di lahan kelolaan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sentolo. Dengan perlakuan pruning, terlihat peningkatan produktivitas Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 1,12 ton/ha dibandingkan dengan budi daya padi tanpa pruning.
Menurut koordinator BPP Sentolo, Hendro Santoso, pruning cocok untuk dikembangkan di wilayahnya.
“Di lahan praktik ini, kami menanam 2 varietas padi, yakni Ciherang dan Mapan P05. Dengan perlakuan pruning, varietas Mapan P05 bisa menghasilkan 14,08 ton/ha. Sementara tanpa pruning, hanya menghasilkan 12,16 ton/ha,” tutur Hendro.
Artinya, ada peningkatan produksi 15,79%. Adapun varietas Ciherang, dengan perlakuan pruning bisa menghasilkan 7,04 ton/ha. Jumlah itu lebih tinggi daripada tanpa pruning yang hanya menghasilkan 6,08 ton/ha.
“Kami menyimpulkan pruning tanaman padi bisa meningkatkan produktivitas. Namun, masih ada potensi mendongkrak lebih tinggi dengan pertimbangan varietas dan kecukupan nutrisi tanaman,” kata Hendro.
Pakan ternak
Menurut dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Teknologi Pangan, Pertanian, dan Perikanan, Universitas Nusa Nipa (Unipa) di Maumere, Nusa Tenggara Timur, Dr. Julianus Jeksen, S.P., M.P., seperti disampaikan dalam Jurnal Agriculture: Vol. 19; No. 2; Desember 2024, pemangkasan pada tanaman padi dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan hasil panen (lihat infografis Pruning Padi, Manfaat Nyata dan Panen Optimal).
Namun, Julianus mewanti-wanti. Pemangkasan yang tidak tepat justru dapat menurunkan hasil panen. Pemangkasan terlalu agresif mengganggu keseimbangan hormon tanaman sehingga malah menghambat pertumbuhan.
Pemangkasan juga dapat menambah biaya tenaga kerja dan menyebabkan tanaman berisiko stres. Oleh sebab itu, pemangkasan harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Menurut Ifut, sistem pruning itu memang dapat menimbulkan biaya tenaga kerja dan investasi mesin pemotong rumput. “Namun dibandingkan dengan hasil panennya masih lebih untung,” ujar Ifut.
Menurut dosen Fakultas Pertanian, Universitas Tamansiswa Padang, Dr. Ir. Jamilah, M.P., hasil pemangkasan tanaman padi berpotensi dijadikan pakan ternak. Dengan begitu, bisa mengatasi masalah ketersediaan pakan ternak bagi peternak yang melakukan budi daya secara intensif.
Hal itulah yang luput dipikirkan oleh Ifut. Ia membiarkan hasil pemangkasan padi di lahan dengan harapan dapat membusuk dan menjadi pupuk organik.
Berdasarkan penelitian Jamilah, padi varietas IR42 yang dipangkas pada umur 35 hari dengan tinggi pemotongan 5 cm dari permukaan tanah, dapat menghasilkan 7 ton/ha daun padi untuk hijauan pakan ternak.
Jika dipangkas pada umur 35 hari dengan tinggi pemotongan 10 cm dari permukaan tanah, dapat menghasilkan 5,63 ton/ha hijauan pakan ternak.
(Imam Wiguna)
