Saturday, December 3, 2022

Puang Rai Si Liat Pengganti Diamond

Rekomendasi

Kesal, bingung, dan putus asa menyelimuti benak Syahril. Semua literatur yang dibaca merujuk pada 1 varietas untuk tabulampot lengkeng: diamond river. Ia disebut-sebut genjah, berbuah lebat tanpa rangsangan, dan bertajuk kompak. Dua varietas lain – pingpong dan itoh – kurang cocok buat tabulampot. Pingpong tumbuh nglancir sehingga kurang cantik di pot. Itoh butuh perlakuan khusus untuk membuahkannya. ‘Kalau yang disarankan mengecewakan, saya harus pilih apa?’ tanya insinyur Teknik Elektro itu.

Beruntung Ricky Hadimulya, sahabatnya di Ciseeng, Bogor, mengenalkan puang rai. Itu varietas lengkeng dataran rendah generasi kedua yang juga genjah. Disebut generasi kedua karena memiliki sifat gabungan dari diamond river dan pingpong. Bentuk daun muda mirip diamond river: lurus dan datar. Daun tua agak melengkung seperti pingpong. Ia populer di tanahair sejak muncul sebagai tabulampot di Pameran Flora dan Fauna, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, 2 tahun silam.

Liat

Puan raja – sebutan puang rai – di Malaysia lebih liat ketimbang diamond river yang gampang patah. ‘Sejak kenal puang rai, saya membuat tabulampot hingga 106 pot tanpa kendala,’ kata Syahril. Menurut Ir Edhi Sandra MS, pengajar fi siologi tanaman di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, kekuatan percabangan dipengaruhi komposisi dan struktur penyusun sel, tipe serat, ketebalan dinding sel, dan lamela tengah (perekat dengan penyusun utama kalsium, red). Pada kasus puang rai Edhi menduga tipe serat puang rai lebih panjang ketimbang diamond river. Mirip bambu tali yang lebih liat ketimbang bambu lain.

Kekuatan cabang tanaman juga dipengaruhi density (kerapatan, red) sel penyusun. ‘Semakin rapat, maka semakin kuat,’ ujar Edhi. Pendapat itu diamini Eddy Soesanto, pemilik nurseri Tebuwulung di Jakarta. Menurut Eddy, diamond river gampang membelah karena batang dan cabang membesar cepat. Makanya kerapatan kayu rendah. Sudut antarcabang juga lebar sehingga gampang retak. Sedangkan puang rai mirip pingpong, pertumbuhan diameter kayu lambat, struktur kayu rapat, keras, tapi lentur. Trubus sempat menarik cabang puang rai dengan rapia hingga melengkung tanpa menyebabkan belah dan patah.

Menurut Ricky secara umum puang rai jauh lebih genjah ketimbang diamond river dan pingpong. ‘Kurang dari setahun sudah berbuah,’ kata pemilik nurseri Hara itu. Alumnus Hama dan Penyakit Fakultas Pertanian IPB itu mencontohkan tabulampot puang rai umur 5 tahun miliknya. Pohon setinggi 2 m di pot plastik volume 500 liter itu memunculkan 16 dompol buah. Ia menghitung sudah 12 kali lengkeng itu memamerkan buah.

Kunci utama agar rajin berbuah hanya 1: pangkas ringan pohon setelah berbuah. Terutama tangkai buah. Itu kerap dilupakan para hobiis. Dua – tiga bulan setelah dipangkas, bunga biasanya muncul. Puang rai bisa berbuah setahun 3 kali karena umur bunga hingga buah panen singkat, 4 bulan. Varietas lain seperti itoh membutuhkan waktu 5 – 6 bulan. Buah bisa susul-menyusul karena bunga dapat muncul di pucuk berbeda saat pucuk lain berbuah.

Karakter rajin berbuah membuat puang rai menguras banyak energi. Ricky mengimbangi dengan pemupukan rutin agar tanaman tak merana. Setiap bulan NPK seimbang 15:15:15 ditebar di sekeliling pohon berjarak 40 cm dari batang. Dosisnya sebanyak 1 gelas air mineral – setara 220 ml untuk tanaman berumur 5 tahun di pot 500 liter. Tanaman lebih muda di drum 100 liter hanya diberi dosis sepertiga hingga setengahnya. Puang rai tidak membutuhkan fosfat dan kalium tinggi untuk merangsang pembungaan.

Porous

Komposisi media yang tepat juga kunci agar pertumbuhan puang rai prima. ‘Soal bahan media, semua boleh dipakai asal porous,’ ujar Syahril. Ricky menggunakan sekam bakar matang, cocopeat, tanah, dan kotoran kambing yang sudah matang dengan perbandingan 1:1:1:1. Semua bahan dicampur hingga merata. Ia menggunakan cocopeat agar media mampu memegang air. Kotoran kambing dipilih berbentuk butiran karena bersifat slow release dan mudah dilewati air ketimbang yang telah dihancurkan.

Media yang dipakai Syahril lain lagi. Ayah 2 anak itu menggunakan campuran tanah, kotoran kambing, dan sekam mentah asal peternakan ayam. Komposisinya 1:1:1. Meski berbeda bahan, prinsipnya sama. Bahan yang mampu memegang air dikombinasikan dengan bahan yang mudah dilewati air secara berimbang. Keduanya enggan memakai kotoran kambing yang telah dihancurkan dan difermentasi lantaran hara di dalamnya mudah tercuci. ‘Terkadang pegawai menyiram terlalu banyak. Haranya terbuang percuma sehingga harus sering ganti media,’ kata Syahril.

Ricky langsung memasukkan media ke dalam pot tanpa memberi pelapis berupa styrofoam atau sekam di dasar pot. Itu karena lubang di dasar pot kecil, hanya seukuran jari berjumlah 50 buah. Agar air yang disiram mudah mengalir, pot diletakkan di atas 4 batako. Sedangkan Syahril melapisi dasar drum dengan styrofoam setebal 5 cm. Itu untuk memperkecil lubang di dasar drum yang berukuran besar, berdiameter 4 – 5 cm. ‘Bila tak dilapisi, media tercuci ke luar drum,’ ujar kelahiran Aceh 40 tahun silam itu. Mau pakai cara Ricky atau Syahril tak masalah, puang rai mudah berbuah. (Destika Cahyana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img