Thursday, August 18, 2022

Pukan Ditutup, Bokashi Didapat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Dengan media bokashi, jambu sukun taiwan rajin berbuah. Selain itu bobot tabulampot ringan sehingga gampang dipindah-pindahkan. Penyiraman lebih jarang karena media menyimpan air. Keuntungan lain, bokashi dari pupuk kandang memiliki pH cenderung netral, kata Muhammad Taufik, periset di PUSPA Lebo. Jambu sukun taiwan membutuhkan media berpH 5,5-7. Bila kemasaman terlalu rendah, pertumbuhan tanaman terhambat.

Lain halnya pengalaman Ir Hendrik Virgilius, MS. Sekitar 2 tahun silam, mantan periset padi itu diminta untuk merawat durian dan rambutan yang mogok berbuah di sebuah kebun di Bintan, Riau. Keduanya malas memamerkan buah karena ditanam di lahan miskin hara. Tekstur tanah keras dan pecah-pecah. Tak ada sumber air memadai di sana. Setelah bokashi dibenamkan di sekitar lubang tanam, durian dan rambutan tumbuh subur. Daunnya hijau mengkilap dan di beberapa cabang mulai memunculkan bunga.

Menurut Hendrik, bokashi kaya mikroba pengurai tanah. Pantas tanah jadi lebih subur. Supaya Anda bisa meniru keberhasilan mereka, inilah cara pembuatan bokashi ala Taufik dan Hendrik.

  1. Siapkan ruang khusus pembuatan bokashi. Taufik dan Hendrik memilih gudang beratap dengan sisi-sisi terbuka sehingga sirkulasi udara lancar. Gudang berlantai semen
  2. Siapkan bahan bokashi. Taufik memanfaatkan kotoran sapi dari rumah pemotongan. Hendrik menggunakan jerami padi, kotoran ayam, sekam, dan dedak yang disusun berurutan. Boleh juga ditambahkan guano-kotoran kelelawar-terutama untuk merangsang buah muncul serempak karena kaya kandungan P dan K. Kotoran yang digunakan mesti kering sekali.

Hendrik biasa membuat bokashi di lantai seluas 15 m x 10 m. Satu truk jerami dipotong-potong lalu ditumpuk setinggi 10 cm. Berikutnya lapisan kotoran ayam sebanyak 50 karung @ 25 kg ditebar setinggi 5 cm. Lalu 20 karung sekam dan 2 karung dedak. Bila menggunakan guano, cukup 1,5 karung.

  1. Hamparkan bahan bokashi lalu siram dengan EM-4. Pada kasus Hendrik, EM-4 disiramkan pada setiap lapisan. EM-4 adalah starter alias bahan pembantu proses fermentasi menjadi pupuk. Cara membuatnya, 1 gelas air kemasan 500 ml EM-4 dicampur dengan 50 gram gula pasir, lalu diaduk dalam gembor isi 40 liter.
  2. Selanjutnya, aduk campuran sampai rata menggunakan sekop.
  3. Tutup dengan karung goni atau terpal.
  4. Diamkan selama 24 jam, lalu buka terpal atau karung penutup dan aduk kembali. Sembari mengaduk, Hendrik memadatkan luasan hamparan bokashi agar suhu kian tinggi. Tujuannya supaya benih hama dan penyakit yang ikut terbawa mati. Bokashi ditutup kembali.
  5. Ulangi perlakuan hingga 4 hari berturut-turut. Menurut Hendrik, bokashi jadi-istilahnya matang-bila suhu di atas 60oC. Sedangkan Taufik berpendapat, suhu 45oC cukup. Ciri bokashi yang matang siap pakai, jika dipegang terasa panas.
  6. Setelah 4 hari, tutup dibuka sempurna. Hamparkan bokashi tipis-tipis sambil dikeringanginkan. Setelah 2-3 hari, bokashi siap dipakai. (Evy Syariefa)
Previous articlee-book untuk Member
Next articleExtensions
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img