Trubus.id— Pulai pandak (Roufolvia serpentina) dapat membantu mengatasi hipertensi. Itu sesuai hasil riset ilmiah yang menyebutkan akar pulai pandak terbukti mengatasi gejala hipertensi.
Maruli Davidson Sitompul, S.Farm., dan rekan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana membuktikannya. Maruli menguji praklinis dengan tiga variasi dosis ekstrak etanol 96% akar pulai pandak yaitu 70 mg, 140 mg, dan 280 mg—semua per kg bobot badan. Pemberian dosis itu tiga kali sehari selama 14 hari berturut-turut.
Sebelumnya Maruli dan rekan mengondisikan mencit mengidap hipertensi dengan cara memberikan injeksi epinefrin berdosis 0,02 mg per kg bobot badan secara intraperitoneal selama 14 hari. Akibatnya tekanan darah mencit itu melonjak hingga 158/106,67 mmHg.
Maruli membagi satwa uji itu menjadi enam kelompok. Tiga kelompok di antaranya mengonsumsi ekstrak akar pulai pandak selama dua pekan. Para peneliti mengamati tekanan darah mencit selama dua pekan.
Menurut Maruli persentase penurunan tekanan darah tertinggi berasal dari kelompok yang mendapatkan dosis 280 mg per kg bobot badan. Dengan perlakuan itu penurunan tekanan darah sistolik mencapai 29,2% dan diastolik 37,8%.
Perlakuan itu juga merupakan dosis paling efektif menurunkan tekanan darah mencit. Maruli mengatakan, akar pulai pandak memiliki 0,1% senyawa reserpin murni. Selain itu akar tanaman anggota famili Apocynaceae itu mengandung 0,7—3% alkaloid dari total alkaloid.
Mekanisme reserpin sebagai antihipertensi yaitu dengan mendeplesi atau mengosongkan simpanan katekolamin dan 5-hidroksitriptamin pada sistem saraf pusat dan tepi. Katekolamin adalah senyawa yang berperan dalam mekanisme antihipertensi reserpin.
Reserpin juga mengganggu fungsi saraf otonom dengan menipiskan katekolamin dari neuron adrenergik dan mengaktifkan sistem parasimpatis sehingga menimbulkan efek penurunan tekanan darah.
“Pulai pandak digunakan secara empiris oleh masyarakat Indonesia untuk mengobati tekanan darah tinggi. Namun, di Indonesia riset terkait tanaman ini terbatas yang membuktikan pulai pandak bermanfaat sebagai antihipertensi,” kata Maruli.
Ia meriset pulai pandak untuk hipertensi karena berpotensi dikembangkan menjadi fitofarmaka. Herbalis di Kota Bogor, Jawa Barat, Endah Lasmadiwati, juga menggunakan pulai pandak sebagai campuran bahan herbal untuk menurunkan tekanan darah tinggi.
Endah memang mengombinasikan beragam jenis herbal untuk mengatasi suatu penyakit. Ramuan antihipertensi ala Endah yakni 2 g simplisia akar pulai pandak, 2 g temulawak, 2 g alang-alang, 2 g kumis kucing, 2 g pegagan, 2 g meniran, dan 1 g sambilata.
Menurut Endah mengolah aneka bahan itu juga mudah. Penderita hipertensi dapat merebus semua bahan dengan 800 ml air hingga mendidih. Setelah air rebusan hangat, ramuan itu dapat diminum dua kali sehari.
“Efek mengonsumsi ramuan itu terlihat pada hari ke-3 hingga ke-7,” kata pemilik Klinik Taman Sringanis di Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, itu.
Namun, jangka waktu itu bukan patokan mutlak. Berbagai faktor seperti pola makan dan gaya hidup memengaruhi waktu penyembuhan pasien hipertensi. Maruli menuturkan, biasanya obat dari bahan herbal bekerja lebih lambat dibandingkan dengan obat sintesis.
Secara umum herbal relatif aman dikonsumsi. Namun, pasien juga harus berhati-hati mengonsumsi pulai pandak jika tidak tepat dosis. Apalagi jika konsumsi dalam jangka waktu lama.
Maruli mengatakan, konsumsi akar pulai pandak dengan dosis berlebihan berpotensi menyebabkan efek samping seperti mual, muntah, dan diare.
Alasannya senyawa aktif reserpin dalam akar pulai pandak berefek sedasi. Jadi, konsumsi berlebihan mengakibatkan munculnya rasa mengantuk hingga penurunan tingkat kesadaran.
