Saturday, April 13, 2024

Pupuk Hayati dari Alfalfa Meningkatkan Produksi Padi 2 Kali Lipat

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Pekebun padi di Kecamatan Tlatar, Kabupaten Boyolalo, Jawa Tengah, Nugroho Widiasmadi mendapati hasil panen padi terus meningkat semula 7 ton per hektare (ha). Pada penanaman berikutnya 10 ton dan terus meningkat hingga 12—14 ton gabah kering panen (GKP) per musim tanam. Padahal semula panen hanya 5 ton per ha. Lonjakkan hasil panen itu berkat pemberian pemupukan intensif seperti pupuk hayati.

Kompos kambing untuk pupuk dasar. Nugroho memberikan 5 ton per ha kompos kambing untuk pupuk dasar. Ia menyemprotkan juga pupuk cair berbahan urine kambing sepekan sekali sejak umur tanam 2—13 pekan, sampai menjelang panen. Tujuannya untuk menghalau wereng.

Sejatinya lonjakkan produksi itu juga karena pemanfaatan bakteri Sinorhizobium meliloti yang hidup menumpang di akar tanaman alfalfa Medicago sativa. Ia mengisolasi bakteri itu menjadi larutan pupuk hayati yang bisa ngebut merombak bahan organik.

Rhizobium dari bintil akar alfalfa itu menjadi pembeda utama pupuk hayati racikannya. Rhizobium berfungsi mengikat nitrogen dari udara lalu mengubahnya menjadi nitrogen yang siap diserap tanaman.

“Pagi kita komposkan, besok pagi siap digunakan,” kata dosen di Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim, Kota Semarang, Jawa Tengah itu.

Lebih lanjut ia menuturkan untuk membuat pupuk sejatinya hanya memerlukan kotoran hewan sebagai bahan pupuk padat dan urine untuk pupuk cair. Namun jika ingin menambahkan pupuk cair berbahan air kelapa, gedebok, atau batang pisang lebih baik lagi.

Nugroho mengisolasi mikrob dalam alfalfa dan ia menamai pupuk besutannya MA-11. Sejak 2008 dirinya rutin mengunakan pupuk racikan itu. Pupuk hayati itu efektif mempercepat pengomposan semua jenis kotoran hewan ruminansia (sapi, kambing, kerbau, kuda), unggas (ayam, bebek, burung puyuh), sampai kotoran babi. Syaratnya, kotoran hewan harus kering alami.

“Kotoran hewan yang sudah dijemur atau dihamparkan di tempat terbuka sehingga terpapar hujan dan panas kehilangan sebagian besar bahan organiknya,” ungkap Nugroho.

Kompos Dalam 24 Jam

  1. Haluskan 100 kg kotoran hewan (kohe) kering dengan mesin chopper atau pencacah.
  2. Hamparkan kohe di atas terpal lalu kocorkan seliter larutan pengurai. Bolak-balik agar larutan pengurai merata.
  3. Tutup dengan terpal.
  4. Esok paginya kompos siap diaplikasikan.***

Pupuk Organik Cair

  1. Siapkan 30 l air kelapa untuk membuat pupuk N, 30 kg cacahan batang pisang (pupuk P), 30 kg sabut kelapa (pupuk K), atau 30 l urine hewan (ZPT plus pestisida nabati).
  2. Masukkan bahan dalam wadah, tambahkan seliter pupuk hayati dan 1 kg gula pasir.
  3. Tambahkan 30 l air bersih, tutup rapat. Buatkan lubang, beri selang, celupkan ujung selang dalam bahan pupuk dan rendam ujung lainnya dalam botol berisi sedikit air. Selang berfungsi mengalirkan hidrogen atau metana hasil fermentasi.
  4. Selang 24 jam pupuk siap diaplikasikan. Kalau belum akan diaplikasikan biarkan dalam wadah.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Rawat Si Engkong : Durian Tua Berumur 100 Tahun

Trubus.id— Pohon durian setinggi 40 m itu berdiri kokoh di lokasi penanaman durian populer seperti super tembaga, bawor, musang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img