Friday, August 12, 2022

Pupuk Hidup

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Mari lihat padi di sawah Suta Sentana, petani di Pagaden, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Tanaman hijau royo-royo ketika muda. Menjelang panen bulir padi bernas berwarna kuning keemasan. Suta membawa pulang 8 ton gabah kering giling dari lahan 1 ha. Itu jelas peningkatan fantastis. Bandingkan dengan produksi padi ketika ia belum menggunakan pupuk berbasis mikroba: 5 ton per ha. Mulai Januari 2008 ia menggunakan pupuk berbasis mikroba dikombinasikan dengan pupuk anorganik. Sejak itu pula lonjakan produksi di lahan Suta terjadi.

Pemiskinan

Pupuk berbasis mikroba yang digunakan Suta itu disebut pupuk hayati atau pupuk hidup. Disebut demikian karena mikroba di dalam pupuk merupakan makhluk hidup. Ada pula yang menyebut pupuk organik karena hasil budidaya itu merupakan komoditas organik. Keruan saja, pupuk hayati bukan hanya meningkatkan hasil panen. Ia turut berjasa menghemat uang Suta. Sejak menggunakan pupuk hayati, Suta mengurangi penggunaan pupuk kimia atau anorganik hingga separuhnya, 150 kg. Biasanya untuk luasan 1 ha ia memerlukan 300-450 kg pupuk.

Jika semakin banyak petani seperti Suta yang menggunakan pupuk hayati atau organik, penghematan besar-besaran tentu terjadi. Mengapa? Petani kita menggunakan pupuk bersubsidi. Jika saat ini harga Urea Rp1.250 per kg, harga sebetulnya adalah Rp3.250. Jadi yang Rp2.000 itu disubsidi pemerintah. Padahal, kebutuhan pupuk kita mencapai 8,5-juta ton per tahun termasuk 5,5-juta ton Urea. Itulah sebabnya pemerintah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk mensubsidi pupuk.

Subsidi pupuk itu menjadi kebijakan pemerintah sejak 1970. Ketika itu pemerintah mencanangkan program swasembada pangan. Untuk meningkatkan produksi tanaman, salah satu elemen terpenting adalah penggunaan pupuk kimia. Dalam 3 tahun terakhir saja, dana subsidi itu terus membubung.

Dana itu bakal kian berlipat-lipat selama pemerintah menetapkan kebijakan subsidi pupuk. Sayangnya, kebjakan itu kurang mendidik petani. Tanpa disadari kebijakan itu justru mendorong petani boros menggunakan pupuk. Akhirnya petani jor-joran karena harga pupuk sangat murah, petani tak peduli dengan jumlah.

Penggunaan berlebihan itu juga karena adanya anggapan yang keliru. Banyak petani berpikir, ketika pemberian pupuk ditingkatkan jumlahnya, maka produksi pun bakal melonjak secara linier.

Faktanya meski petani meningkatkan volume pupuk, pada titik tertentu produksi mentok. Itu akibat lahan mengalami kemunduran kualitas setelah penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang. Dampaknya, pengeluaran petani pun meningkat. Sedangkan produksi tinggi yang diharapkan tak tercapai. Jika kondisi seperti itu terus terjadi menyebabkan pemiskinan petani. Memang tak ada pemerintah yang ingin rakyatnya miskin. Namun, jika kebijakan subsidi pupuk seperti yang lalu diteruskan, tanpa disadari pemerintah tengah memiskinkan petaninya.

Efek domino

Niat baik pemerintah dalam kebijakan subsidi pupuk dalam jangka panjang kurang memberi manfaat bagi petani. Kebijakan itu mendorong petani tak efisien. Harusnya subsidi ditata dengan menyesuaikan harga dengan tepat. Kalau petani menggunakan Urea terlalu banyak, naikkan harga Urea. Tujuannya agar petani mengerem penggunaan pupuk. Bukan berarti subsidi pupuk harus dicabut besok pagi. Idealnya pemerintah mengurangi subsidi secara bertahap dalam 3 tahun. Pengurangan subsidi seyogyanya dengan menaikkan harga pupuk 30% per tahun. Lebih dari itu dikhawatirkan petani marah.

Seiring dengan pengurangan subsidi, sebaiknya pemerintah juga mendorong penggunaan pupuk hayati atau organik seperti yang diterapkan oleh Suta. Mengapa pupuk hayati? Sebab, penggunaan pupuk hayati sekaligus menyelesaikan banyak masalah. Sampah, misalnya, menjadi persoalan di mana-mana. Ada sampah kota, rumahtangga, industri, perkebunan, dan sampah pertanian yang tak pernah habis. Jika tak diolah sampah memang menjadi kendala, tetapi bila dikelola menjadi emas.

Pemanfaatan pupuk hayati dan organik juga mampu memperbaiki lingkungan, tanah kembali subur, dan air tak tercemar. Produk pertanian yang menggunakan pupuk hayati juga bagus karena lebih sehat. Petani juga lebih sehat karena terbebas dari paparan zat kimia.

Dalam jangka panjang hal itu membangun kemandirian petani sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Harus diingat pupuk kimia kerap kali langka terutama menjelang musim tanam. Akibatnya musim tanam pun terganggu. Selain itu kelangkaan pupuk juga menyebabkan harga meningkat sehingga biaya produksi melonjak.

Bila penggunaan pupuk hayati meningkat dan pupuk kimia menurun, implikasinya kita menghemat gas alam-salah satu sumber bahan pupuk kimia- yang merupakan sumber alam yang tak dapat diperbarui. Biaya produksi pertanian menjadi relatif murah dengan pupuk hayati karena harga pupuk hayati jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga pupuk kimia (tanpa subsidi).

Lebih dari itu produksi tanaman pangan yang dipupuk hayati justru meningkat signifikan. Lahan sawah milik Suta Sentana, salah satu contoh. Dampaknya kesejahteraan petani meningkat. Dengan efek domino begitu besar, mengapa kita tak mati-matian mengupayakan pemanfaatan pupuk hayati atau organik dalam budidaya pertanian?

Demplot

Dalam 2 tahun terakhir, industri pupuk hayati mulai tumbuh. Ini peluang yang bagus sekali seiring dengan pertumbuhan pangan organik. Meningkatnya permintaan produk organik, tentu saja akan diimbangi dengan peningkatan pupuk hayati. Pangan organik menjadi lokomotif yang akan menarik gerbong pupuk hayati.

Oleh karena itu penggunaannya harus terus didorong. Pemerintah Daerah perlu membuat demonstrasi plot (demplot) di desa-desa memanfaatkan sawah bengkok dan petugas penyuluh lapang yang terlatih. Tujuannya untuk meyakinkan petani yang biasanya bersifat skeptis dan menunggu. Dengan demplot itu petani mengetahui kelebihan pupuk hayati yang mampu meningkatkan produksi sehingga tertarik untuk menggunakannya.

Selain itu pemerintah perlu mendorong pelatihan khusus bagi petugas penyuluh lapangan dan mendesain pabrik yang efisien sesuai dengan bahan baku yang tersedia di lokasi itu. Semestinya pemerintah juga melakukan pengawasan cermat terhadap produk organik dan pupuk hayati. Standar dan sertifikasi harus jelas untuk mencegah pemalsuan yang akhirnya justru menjadi bumerang bagi industri pupuk hayati dan merugikan petani.

Solusi lain mengembangkan industri pupuk hayati yang diperkaya unsur-unsur nutrien dari mineral tertentu seperti lignite (batubara muda), zeolit, batuan fosfat, dan molasses. Jenis pupuk hayati itu berpotensi menjadi industri menengah-besar karena bahan-bahan tersedia dalam jumlah besar. Yang masih menjadi tantangan adalah bagaimana memproduksi inokulan (mikroba) yang baik dalam skala besar pula.***

Dr Zaenal Soedjais*

*) Ketua umum Dewan Pupuk Indonesia, ketua umum Maporina (Masyarakat Pertanian Organik Indonesia), mantan direktur utama PT Pusri dan Direktur PT Pupuk Kaltim.

Produksi meningkat dengan pupuk hayati

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img