Saturday, April 13, 2024

Pupuk Organik Biosluri, Cangkang Telur, dan Kulit Pisang Menekan Serangan Soybean Mosaic Virus (SMV) Hingga 3,8%

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Penyakit soybean mosaic virus (SMV) menjadi momok bagi tanaman kedelai. Salah satu solusi mengatasi SMV pada kedelai yakni dengan pupuk organik biosluri, cangkang telur, dan kulit pisang kreasi Abdillah Amirul Saleh, Alya Shofiya, dan Erik Wahyuni.

Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya itu menyulap limbah cangkang telur dan kulit pisang menjadi pupuk organik. “Cangkang telur dan kulit pisang sejatinya menyimpan banyak senyawa yang berguna untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman,” kata Arul—sapaan akrab Abdillah Amirul Saleh.

Berawal dari keresahan Arul dan rekan terhadap produksi kedelai dalam negeri yang masih rendah. Menurut Arul harusnya produktivitas kedelai dalam negeri bsia ditingkatkan lagi. Namun terkendalam serangan penyakit. Dosen pembimbing Arul dan rekan, Tita Widjayanti, S.P., M.Si., pun mengapresiasi keresehan itu.

Sehingga pada Juli 2021 Arul dan rekan di bawah bimbingan Tita merakit pupuk organik bernama bioscap. Bioscap singkatan dari biosluri, cangkang telur, dan kulit pisang.

Proses pembuatannya yakni dengan menyiapkan 2 kg kulit pisang kapok, 2 kg cangkang telur ayam, 2 kg biosluri atau ampas dari biogas kotoran sapi, dan 40 ml bakteri baik untuk tanaman, biasa disebut plant growth promoting rhizobacteiria (PGPR).

Arul dan tim mencacah dan mencampur kulit pisang dan cangkang telur dengan bahan lain. Menambahkan 500 ml molase atau tetes tebu sebagai makanan mikrob pada pekan pertama dan kedua.

Ciri-ciri bioscap matang berwarna cokelat dan tidak beraroma seperti sampah. Tahap terakhir menyaring pupuk dan siap aplikasi di lahan. Arul mengencerkan 4 ml bioscap dalam 50 l air. Penyemprotan sepekan sekali saat kedelai berumur 2 pekan setelah tanam. “Kami uji coba di greenhouse berukuran sekitar 4 m x 10 m selama 7 pekan,” tutur Arul.

Hasilnya pertumbuhan kedelai dengan aplikasi bioscap maksimal. Memiliki 8 daun, tinggi 60 cm, dan 6 cabang. Adapun jumlah daun kelompok kontrol hanya 6,5 helai, tinggi 60 cm, dan jumlah cabang 6.

Keunggulan lain aplikasi bioscap pada kedelai terbukti menurunkan serangan penyakit SMV. “Serangan penyakit hanya 3,8%. Sementara pupuk hayati produk lain mencapai 8,19%,” kata Arul.

Serangan tertinggi pada kedelai yang tak mendapatkan pupuk hayati sekali yakni 9,2%. Menurut Tita bahan origanik biosluri masih tinggi sehingga berguna sebagai pupuk organik.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Rawat Si Engkong : Durian Tua Berumur 100 Tahun

Trubus.id— Pohon durian setinggi 40 m itu berdiri kokoh di lokasi penanaman durian populer seperti super tembaga, bawor, musang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img