Wednesday, August 10, 2022

Pupuk Top dari Sayuran Segar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Samiyen mengatasi masalah itu dengan memberi pupuk NPK, ZA, dan KCl masing-masing 10 gram per tanaman. Tiga puluh hari berselang, ketiga jenis pupuk itu kembali diberikan. Total pupuk kimia yang dibutuhkan mencapai 250 kg. Pupuk saja dianggap belum cukup. Hampir setiap pekan Samiyen menyemprotkan insektisida. Total biaya produksi yang ia keluarkan Rp5-juta per musim tanam.

Jumlah itu tak sebanding dengan hasil penjualan cabai, tomat, dan brokoli. Paling hanya kembali modal, kata perempuan murah senyum itu. Musim tanam berikutnya, ibu 1 anak itu kembali menyemai harapan. Ia menanam cabai, labu siam, tomat, dan brokoli. Menjelang tanam pada April 2006, Lee Ching, pemasok sayuran organik, menghampiri Samiyen.

Lee menyarankan Samiyen menggunakan pupuk cair agar pengalaman pahit musim tanam sebelumnya tak terulang. Perempuan separuh baya itu juga bersedia menampung seluruh hasil produksi Samiyen. Ia akhirnya mencoba pupuk itu. Pupuk kandang, pupuk kimia, dan pestisida yang biasanya digunakan, praktis ditinggalkan. Ia menghabiskan 14 liter pupuk organik cair dengan harga masing-masing Rp80.000. Total biaya pemupukan Rp1.120.000.

Hemat

Cara pemupukan sangat mudah sehingga tidak perlu memerlukan banyak tenaga kerja. Usai pengolahan tanah, ia membuat bedengan, kemudian membuat lubang tanam sedalam 5 cm berjarak 25 cm x 40 cm. Lubang tanam itulah yang disemprot pupuk cair organik. Konsentrasinya 300 ml pupuk cair organik dilarutkan dalam 15 liter air. Setelah itu, bibit ditanam.

Penyemprotan berikutnya interval 3 hari dengan berkonsentrasi sama. Ketika memasuki masa generatif, tanaman berumur 2 bulan, interval pemupukan cukup seminggu sekali. Agar pemupukan merata, semprotkan pupuk cair ke sekeliling tanaman searah jarum jam hingga 3 putaran. Setelah itu, semprot bagian bawah daun dengan cara sama, tetapi cukup 1 putaran.

Lantaran mudah, pemupukan dilakukan sendiri oleh Samiyen. Sebelumnya ia mengupah Rp200.000 untuk 10 HOK (hari orang kerja). Artinya, ia bisa menghemat biaya tenaga kerja Rp200.000 per musim tanam.Menurut Samiyen setelah menggunakan pupuk cair, total biaya produksi hanya Rp1.500.000. Dari lahan itu Samiyen memanen 400 kg brokoli.

Produksi brokoli meningkat 25-60% lantaran bobot setiap brokoli 500 g; sebelumnya 300-400 g. Penampilan sayuran bunga itu mulus. Pantas bila harga jual pun melonjak, Rp5.000/kg. Harga itu lebih tinggi dua kali lipat ketimbang harga jual sebelumnya, Rp2.500. Dari perniagaan itu, Samiyen meraup omzet Rp2-juta sehingga biaya produksi tertutupi. Belum lagi bila memperhitungkan hasil penjualan cabai, tomat, dan labu siam.

Diminum

Menurut Lee Ching, pupuk cair organik itu dibuat dari hampir 60 bahan baku, seperti tomat, daun singkong, dan beberapa tanaman obat. Sayang, Lee Ching menolak menyebutkan tanaman obat yang digunakan. Karena pupuk terbuat dari bahan segar, higienis, tanpa penambahan efektif mikroorganisme, dan bahan pengurai lainnya, pupuk cair organik itu bahkan aman dikonsumsi. Pupuk bisa diminum dan menyehatkan seperti jamu. Sebab, beberapa bahan bakunya merupakan tanaman obat, kata Lee Ching.

Jika hendak diminum, campur larutan pupuk dengan air masak dengan perbandingan 1:4. Keistimewaan lainnya, pupuk cair organik itu juga tahan lama alias tanpa masa kedaluwarsa. Ibarat wine, semakin lama, kualitasnya semakin baik, katanya. Kualitas pupuk cair organik itu diuji laboratorium Institut Pertanian Bogor. Hasilnya, kejenuhan basa (KB) pupuk cukup tinggi yaitu 30,90%.

Nilai kejenuhan basa merupakan persentase total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium, magnesium, kalium, dan natrium. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan kandungan hara. Semakin tinggi KB, semakin tinggi pula pH dan kandungan hara. Rasio C/N pupuk cair organik itu mencapai 12,20%, lebih rendah dari rasio C/N ideal yaitu 19,27%.

Semakin rendah ratio C/N, pupuk semakin mudah terurai. Sedangkan nilai kapasitas tukar kation (KTK) mencapai 25,40 miliekuivalen (me)/100 g. KTK merupakan kapasitas tanah untuk menjerat atau menukar kation. Nilai KTK pupuk ideal mencapai 47,81 me/100 g. Jika nilai KTK mendekati nilai ideal, berarti pupuk itu semakin mudah diserap tanaman.

Teruji

Upaya untuk membuktikan kualitas pupuk, tak hanya ditempuh di dalam negeri. Lee Ching juga mengujinya di salah satu laboratorium pupuk organik di Jepang. Hasilnya, pupuk cair organik mengandung 740 ppm silisium, 202 ppm fosfat, 46 ppm sulfur, 89 ppm khlor, 860 ppm kalium, 870 ppm kalsium, dan 84 ppm besi. Selain itu, tak sedikit pun terdapat kandungan logam berat.

Menurut Ir Edi Sandhra MSi, dosen Budidaya Pertanian Institut Pertanian Bogor, meski beberapa indikator seperti tingkat kejenuhan basa, rasio C/N, dan nilai KTK ideal, tak menjamin baiknya pertumbuhan tanaman. Tergantung apa yang diharapkan pekebun dan yang dibutuhkan tanaman, katanya.

Jika suatu tanaman yang dikehendaki peningkatan produktivitas buah, yang diperlukan adalah pupuk berkadar karbon (C) tinggi atau bernilai rasio C/N tinggi. Namun, jika yang diinginkan pertumbuhan vegetatif-seperti sayuran daun- diperlukan pupuk berkadar nitrogen tinggi atau bernilai rasio C/ N rendah. Hasil yang diraih Samiyen pertanda kualitas pupuk sesuai kebutuhan tanaman. Ya, tomat makan tomat! (Imam Wiguna/Peliput: Lani Marliani)

 

Previous articleContent Layouts
Next articleCara Agus Jarangkan Jati
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img