Trubus.id— Pohon yang tumbuh di ujung Jalan Langenastran Lor, Kota Yogyakarta, menjadi pusat perhatian para pengendara, terutama pada September—Desember. Ketika itulah sekujur batang berdiameter 30 cm itu penuh buah.
Para pengendara terutama kendaraan roda dua kerap berhenti untuk memerhatikan buah itu. Sekilas tidak ada yang istimewa dengan buah tanaman yang diduga berumur hampir seratus tahun itu.
Bentuk buah membulat dan berwarna kecokelatan mirip sawo. Ukurannya juga mirip sawo, sekepalan tangan. Itulah sebabnya masyarakat menyebutnya kepel (Stelechocarpus burahol).
Trubus kembali melewati jalan itu pada Januari 2023 dan masih tersisa beberapa dompol buah kecil di batang. Warga yang tinggal di dekat pohon kepel itu, Tjahjono Budi Santoso, mengatakan, orang yang lewat penasaran buah menempel di batang.
Mereka juga mencicipi buah kepel. Lazimnya dompolan buah menempel mulai dari batang hingga cabang. Mulai dari batang bagian bawah hingga atas. Satu dompol berisi 2—5 buah yang masaknya tidak bersamaan.
Namun, Tjahjono masygul lantaran beberapa orang memetik buah tanaman anggota famili Annonaceae itu yang masih mentah. Sebetulnya mudah menentukan tingkat kematangan kepel.
Jika tersentuh tangan buah terlepas dari tangkai, pertanda buah masak dan enak dikonsumsi. Bila disentuh buah tidak jatuh, artinya belum masak. Daging buah matang berwarna kuning dan bercita rasa manis serta beraroma wangi.
Menurut Tjahjono pemetikan buah mentah mengganggu tanaman. Dampaknya produktivitas buah kepel tidak selebat sebelumnya. Orang bebas berhenti dan mendekati pohon karena lokasi kepel berada di pinggir jalan berlalu lintas cukup ramai. Apalagi tidak ada pagar yang melindungi kepel.
“Banyak orang datang dan minta diinformasikan jika tanaman berbuah,” kata pria yang berumur 70 tahun pada Oktober 2023 itu.
Bagi Tjahjono kepel bukan barang baru. Sejak kecil ia mengenal tanaman yang berbuah di batang itu dengan sebutan kepel dari neneknya. Ia kerap mengonsumsi buah kepel sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.
Dahulu Tjahjono mendapatkan buah kerabat srikaya (Annona aquamosa) itu di dekat Keraton Yogyakarta. Di kalangan masyarakat beredar informasi bahwa tubuh beroma wangi setelah rutin mengonsumsi buah kepel. Bahkan, keringat dan urine juga sewangi kepel.
Tjahjono mengatakan, dengan memakan 5 buah, air seni dan keringat berbau seperti kepel, agak wangi. Pantas sejak zaman dahulu, putri keraton menjadikan burahol alias kepel sebagai “buah deodoran” atau zat untuk menghilangkan bau kurang sedap pada ketiak akibat keringat dan sebagainya.
Menurut Perencana Ahli Muda Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Kehutanan (BBPSIK) Yogyakarta, Fasis Mangkuwibowo, S.Hut., M.Sc., putri raja kerap mengonsumsi buah kepel.
“Buah kepel juga menjadi hidangan untuk para tamu pada zaman kerajaan,” kata Fasis. Ia mengatakan rasa manis dan tekstur daging buah kepel mirip matoa.
