Yasarianto, peternak puyuh di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kehilangan beberapa ekor puyuh akibat saling mematuk. Ia menduga masalah bermula dari kepadatan kandang dan pakan yang tidak selalu tersedia hingga memicu agresivitas.
Menurutnya, puyuh sensitif terhadap aroma darah dan warna merah dari luka. “Ketika melihat warna merah atau aroma darah, puyuh langsung matuk-matuk tidak berhenti. Puyuh yang sudah luka makin tersiksa sampai akhirnya mati,” kata Yasarianto.
Ahli genetika Fakultas Peternakan IPB, Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, menjelaskan bahwa kanibalisme merupakan hasil interaksi faktor genetik dan lingkungan. Ia menyebut gen pengontrol sifat agresif seperti monoamin oksidase (MAO), serotonin, dan dopamin turut berperan dalam perilaku tersebut.
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memperbaiki manajemen pemeliharaan. Menurut ahli nutrisi Fapet IPB, Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc., pakan harus tersedia sepanjang waktu untuk menghindari stres dan persaingan.
Ia juga menegaskan pentingnya menyediakan ruang yang cukup serta memantau kondisi puyuh secara rutin. Kondisi kandang yang tidak rapi, seperti kawat terbuka, dapat melukai puyuh dan memicu puyuh lain menyerang.
Yasarianto menyebut kepadatan populasi, ketersediaan pakan-minum, dan konstruksi kandang yang aman sebagai faktor penentu. “Puyuh bisa luka kalau kandang tidak rapi. Dari situlah awal mula puyuh lain mulai menyerang,” ujarnya.
Peternak di Kabupaten Bandung, Muhammad Rifky Pradipta, juga mengalami hal serupa. Menurutnya, kanibalisme kerap muncul ketika kebutuhan pakan tidak terpenuhi sehingga puyuh menjadi agresif.
Rifky menambahkan, perilaku kanibal biasa muncul pada umur 45 hari atau ketika puyuh mulai bertelur. Pada fase 0—45 hari, ia tidak membatasi pakan agar pertumbuhan optimal.
Memasuki fase bertelur, jatah pakan 22—25 gram per ekor per hari harus dipenuhi dengan toleransi penambahan jika habis sebelum waktu. “Kalau dibatasi, khawatir mengganggu produktivitasnya,” kata Rifky.
Selain pakan, air minum bersih wajib tersedia setiap saat. Bila terjadi kanibalisme, puyuh terluka segera dipisahkan untuk mencegah serangan lanjutan.
Rifky merawat puyuh yang luka menggunakan cairan antiseptik agar cepat kering dan tidak infeksi. Setelah pulih, puyuh yang sempat dipisahkan dapat kembali dicampurkan ke dalam kandang.
