Saturday, December 3, 2022

Radio Kayu dan Sepeda Bambu Kreasi Alumni ITB

Rekomendasi

Trubus.id — Singgih Susilo, alumni Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB 86) membuat kreasi unik berbahan dasar kayu dan bambu. Kreasi pria asal Temanggung itu antara lain Magno (radio kayu) dan Spedagi (sepeda bambu).

Magno sebenarnya adalah bentuk tugas akhirnya selama menjadi mahasiswa yang tidak disangka sekarang mendunia. Magno berawal dari produk radio kayu. Magno berarti ‘membesar’, mengacu pada kaca pembesar.

Ia memanfaatkan sumber daya dan manusia langsung dari daerahnya. Dalam proses produksinya, Singgih menemui banyak lika-liku. Ia baru bisa merealisasi desainnya pada 2005 karena kendala vendor elektronik kit radio.

Hingga pada akhirnya berkat kerja keras Singgih, salah satu purwarupa radio Magno berhasil dilirik Panasonic Gobel Group sampai menarik minat Presiden Joko Widodo. Kabarnya, saat ini pasarnya berhasil merambah internasional dengan dimulainya publikasi seorang profesor di Jepang yang terkagum-kagum dengan desain yang “eye-catching” ini.

Magno dibuat dengan tangan yang sangat cermat serta menggabungkan unsur keindahan dari bahan-bahan kualitas tinggi. Magno bukan sekadar radio belaka, ada filosofi yang terkandung di baliknya.

Dikutip dari laman Institut Teknologi Bandung, Magno merepresentasikan bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Pasalnya, sejak 2008, Singgih mendistribusikan 1.000 pohon setiap tahun kepada warga desa untuk meningkatkan populasi pohon sampai 15 hektare. Sementara itu, kebutuhan produksi hanya kurang dari 0,5 hektare hutan sejak beroperasi.

Magno berhasil menyabet berbagai penghargaan. Penghargaan itu di antaranya Japan Good Design Award G-Mark 2008, London Design Museum’s Brit Insurance Design Awards 2009.

Spedagi

Spedagi merupakan produk sepeda yang kerangkanya terbuat dari bambu. Bambu dipilih karena materialnya yang ringan sekaligus kuat. Kekuatannya telah diuji laboratorium di Jepang serta uji jarak jauh dari Aceh ke Denpasar.

Bambu juga dipilih karena umurnya panjang, supaya orang memiliki tanggung jawab moral untuk merawat, dan supaya bisa merasakan kedekatan dengan alam. Spedagi juga hasil dari apa yang Singgih manfaatkan dari desa. Mulai dari bambu yang melimpah hingga orang-orang di baliknya.

Spedagi membuktikan bahwa lokalitas mampu menghasilkan originalitas. Spedagi bak sebuah magnet yang menarik mata banyak orang untuk datang langsung ke tempat produksinya. Uniknya, spedagi ini tidak ia ekspor sebagai bentuk ketidakterlibatan dalam sumbangsih emisi gas pesawat.

Presiden Joko Widodo pernah menggunakan produk tersebut saat menyambut Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dengan berkeliling Kebun Raya Bogor pada beberapa bulan yang lalu.

Pada kancah internasional, Spedagi memperoleh predikat Gold Award pada Good Design Award 2018 di Tokyo. Penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan salah satu desain yang paling berpengaruh di dunia.

Karya-karya yang Singgih ciptakan terbukti mampu menorehkan prestasi yang nyata. Singgih mengangkat potensi kayu dan bambu dari desanya menjadi hal yang bermakna besar.

Ia mampu membuktikan bahwa memajukan daerah sendiri adalah hal yang tidak kalah membanggakan dari profesi lainnya. Sikap ingin memajukan daerah seperti inilah yang ia harapkan dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswi saat ini.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img