Trubus.id — Pemanfaatan bahan pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga bagaimana mengolahnya menjadi produk yang sesuai dengan selera dan kebutuhan konsumen. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sejumlah inovasi pangan berbasis bahan lokal, mulai dari temulawak, kelor, sagu, hingga kacang hijau.
Salah satu inovasi dikembangkan Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PR BBOOT) BRIN, Sofa Farida. Ia mengolah temulawak dan kelor menjadi jelly stick yang praktis dikonsumsi.
Pengembangan tersebut dilatarbelakangi karakteristik bahan baku yang berpotensi memengaruhi penerimaan konsumen. Temulawak memiliki rasa pahit dan getir, sedangkan daun kelor memiliki aroma hijau menyerupai sayuran daun dan agak langu. Karakter tersebut dapat menjadi tantangan, terutama ketika produk ditujukan untuk anak-anak.
Melalui pengolahan menjadi jelly stick, ekstrak temulawak dan kelor dibuat dalam bentuk yang lebih praktis. Prototipe tersebut diberi nama Jelicious Kids dan dirancang sebagai pangan fungsional berbasis bahan alam lokal.
Produk itu masih dalam tahap pengembangan menuju produksi dalam skala lebih besar.
“Target akhirnya dari perjalanan riset ini adalah mengubah kekayaan lokal Indonesia menjadi formulasi inovatif, prototipe tervalidasi, skala industri, dan akhirnya produk komersial,” ujar Sofa.
Sagu Diolah Menjadi Pasta Kaya Zat Besi
Inovasi pangan lokal juga dikembangkan melalui komoditas sagu. Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Alit Pangestu, mengembangkan pasta berbahan sagu yang diperkaya zat besi.
Sagu merupakan salah satu pangan pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia Timur. Namun, pemanfaatannya dalam produk pangan yang dikenal secara luas masih terbatas.
Melalui riset tersebut, sagu dikembangkan menjadi produk seperti spageti dan makaroni. Pengolahan itu tidak hanya memberikan bentuk konsumsi yang lebih beragam, tetapi juga meningkatkan nilai gizi melalui pengayaan zat besi.
Teknologi produksi dirancang agar dapat diterapkan pada skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menggunakan mesin berkapasitas sekitar 10–50 kilogram.
Meski demikian, riset tersebut masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut, termasuk pengujian keamanan dan efektivitas sebelum dapat menuju tahap komersial.
“Fokus riset saya saat ini adalah sagu karena potensinya cukup besar, tetapi untuk produk-produk komersial dan dikenal secara nasional masih dirasa kurang,” kata Alit.
Kefir dan Kacang Hijau Jadi Bubuk
Teknologi pengolahan pangan juga dimanfaatkan untuk meningkatkan daya simpan produk fermentasi. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Andi Febrisiantosa, mengembangkan produk berbasis kefir dan kacang hijau.
Keduanya diformulasikan bersama kemudian diubah dari bentuk cair menjadi bubuk. Pengolahan tersebut bertujuan menghasilkan produk yang lebih stabil, memiliki daya simpan lebih panjang, serta lebih mudah disimpan dan didistribusikan.
Produk bubuk itu tetap ditujukan untuk mempertahankan mikroorganisme hidup dari kefir dan kandungan antioksidan dari kacang hijau.
Hasil riset tersebut telah didaftarkan paten dan berpotensi diaplikasikan pada berbagai produk pangan, seperti minuman, produk olahan susu, roti, makanan ringan, maupun pangan dengan tambahan zat gizi.
“Produk ini memiliki nilai tambah karena memiliki dua manfaat sekaligus, yaitu antioksidan dan mikroorganisme hidup,” ujar Andi.
Berbagai inovasi tersebut menunjukkan potensi peningkatan nilai tambah bahan pangan lokal melalui teknologi pengolahan. Temulawak dan kelor dikembangkan menjadi pangan fungsional berbentuk jelly, sagu diolah menjadi pasta yang diperkaya zat besi, sedangkan kefir dan kacang hijau dikembangkan menjadi produk bubuk yang lebih stabil dan memiliki daya simpan lebih panjang.
Namun, pengembangan prototipe bukan merupakan tahap akhir. Setiap inovasi masih membutuhkan tahapan lanjutan, mulai dari pengujian, validasi, peningkatan skala produksi, hingga penyesuaian dengan kebutuhan industri sebelum dapat dikembangkan menjadi produk komersial.
BRIN memandang teknologi sebagai penghubung antara potensi bahan lokal dan kebutuhan pangan masa kini. Melalui inovasi pengolahan, bahan pangan yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam bentuk, rasa, daya simpan, maupun pemanfaatan dapat dikembangkan menjadi produk dengan fungsi dan nilai tambah yang lebih beragam.
Sumber: https://www.brin.go.id/news/130464/brin-angkat-nilai-tambah-pangan-lokal-lewat-teknologi-inovatif
