Trubus.id— Budidaya intensif menggunakan bibit unggul dan menggunakan pakan alternatif mempercepat panen ayam. Itulah yang dirasakan Yuniar Siswandono. Ia memanen 294 kg ayam kampung hidup pada Februari 2024.
Masa budidaya 70 hari dengan bobot rata-rata mencapai 1 kg per ekor. Saat itu harga ayam di tingkat peternak Rp35.000 per kg sehingga Wawan—sapaan akrab Yuniar Siswandono— mengantongi omzet Rp10,2 juta.
“Sistem budidaya biasa memerlukan waktu 120—140 hari untuk siap panen 1 kg,” kata Wawan. Apa rahasia ayam kampung milik peternak di Dusun Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, itu panen lebih cepat?
Rahasianya ia membudidayakan 300—600 ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB)-1 secara intensif. Wawan tidak mengumbar ayam miliknya. Ia memelihara ayam kampung secara bertahap di kandang tertutup (closed house).
Kandang itu mengoptimalkan kondisi lingkungan seperti ventilasi, suhu, dan kelembapan. Menurut Wawan kebutuhan suhu sesuai umur ayam. Suhu saat ayam berumur 0—7 hari (dalam inkubator) mencapai 33—35oC. Sementara suhu saat umur ayam 7—21 hari 30—31o C dan ayam 22—70 hari (pascainkubator) 24— 28o C.
Ia menggunakan ventilasi untuk mengatur sirkulasi udara. Adapun tipe kandang yakni jenis postal—kandang sistem litter, ayam tidak lepas dan selalu terkurung.
Kandang berukuran 4 m x 6 m itu berkapasitas 600 ekor. Populasi ayam 25 ekor per m2. “Lebih padat. Biasanya 15—20 ekor per m2. Tetap aman karena pakan dari limbah organik. Penggantian sekam setiap 2—3 kali panen saja,” kata peternak ayam sejak 2017 itu.
Kandang juga rendah amonia. Salah satu cirinya radius 2—3 km tidak tercium bau kotoran di kandang. Ia menduga hal itu karena penggunaan pakan alami. Harap mafhum Wawan meracik pakan alami sendiri.
Ia menggunakan bahan yang terdiri dari magot segar sebagai sumber protein, bekatul sumber karbohidrat, serta ampas kecap dan ampas jagung manis untuk energi metabolisme. Kebutuhan setiap bahan sesuai umur ternak.
Misal protein 23—25% untuk ayam berumur 0—21 hari dan protein 20—22% saat umur ayam 22—70 hari. Ia mencampurkan semua bahan dan mengolah menjadi pur dengan mesin pelet hasil modifikasi sendiri yang berkapasitas 50 kg per jam.
Kadar air pakan itu mencapai 12—14% dengan penjemuran di bawah sinar matahari selama 6 jam. Wawan memberikan pakan dan minum secara terus menerus (ad-libitum). “Pakan harus sekali habis dalam 24 jam,” kata pria berumur 49 tahun itu.
Dengan pakan alami itu, rasio konversi pakan atau feed conversion ratio (FCR) 2,2—2,5. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging membutuhkan 2,2—2,5 kg pakan. Menurut Wawan FCR ayam kampung biasanya 2,5—2,7.
Selain itu Wawan menghemat biaya pakan hingga 201,6%. Ia memerlukan 250 kg pelet magot per 100 ekor untuk satu siklus. Harga pakan untuk pemakaian sendiri Rp5.000 per kg. Dengan kata lain ia mengeluarkan biaya pakan Rp1,25 juta per 100 ekor.
Bandingkan dengan pakan pabrikan membutuhkan 280—290 kg per 100 ekor. Harga pakan pabrikan saat ini Rp13.000 per kg sehingga biaya pakan selama budidaya Rp3,77 juta per 100 ekor.
“Namun ayam KUB dengan pakan pabrikan bisa panen 68 hari,” kata Wawan. Lebih lanjut ia menuturkan, dengan pakan racikan sendiri ayam menjadi lebih tahan penyakit.
Ia juga memberi vaksin pada day old chick (DOC) atau piyik berupa vaksin tetelo atau Newcastle Disease (ND). Sementara vaksin gumboro pada usia 21 hari. “Magot mengandung asam amino dan antioksidan sehingga baik untuk imunitas ayam. Mortalitas 2—5%,” kata Wawan.
