Tak lama setelah pengunjung Singapura itu berlalu, giliran pengusaha ikan hias Jepang, Cina, Malaysia, Amerika Serikat, dan Jerman yang datang meminta kedua goldfi sh itu. Sambil berjongkok di depan kolam mereka meneliti kualitas ikan asli Jepang itu. “Maaf. Ini sudah terjual. Kalau Anda berminat nanti kita tindaklanjuti. Mohon tinggalkan kartu namanya saja,” ucap Ever sambil menunjuk beberapa ranchu topview berukuran 6—8 cm itu.
Pengunjung itu akhirnya cuma berpesan minta dikirim bila barang sudah ada, sebelum meninggalkan stan Indag Agro Jawa Barat. Awalnya ia tidak menyangka antusiasme para ekshibitor begitu tinggi. “Saya hanya mentargetkan dapat pelanggan 2 perusahaan. Sekarang sudah ada 6 perusahaan besar Singapura yang meminta,” ucap pemilik Weyver Goldfi sh Farm itu. Menurut Ever permintaan masing-masing tidak kurang 500 ekor per bulan untuk ranchu topview kelas single A ukuran 5—6 cm dan tosakin double A berukuran 6—7 cm.
Baru dan berkualitas
Banyaknya permintaan itu lantaran kualitas Carasius auratus asal Indonesia mampu bersaing dengan maskoki asal Th ailand, Malaysia, dan Singapura, seperti corak warna, postur tubuh hingga kesehatan ikan. “Kita akan tindak lanjuti. Sekarang perkenalan dulu agar dikenal dunia sambil meningkatkan kualitas dan kuantitas ikan,” tutur pria kelahiran Bogor itu.
Pasar maskoki Indonesia di kancah internasional terbuka lebar. Selain kualitas tinggi, juga relatif lebih murah. Harga tosakin yang ditawarkan Ever misalnya, berkisar Rp200-ribu—Rp300-ribu per ekor untuk ukuran 4—6 cm. Harga itu 2 kali lipat lebih rendah dibanding maskoki asal Th ailand yang mencapai Rp500-ribu—Rp700-ribu per ekor. Otomatis, penangkar dan pebisnis luar negeri lari berhamburan ke Indonesia mencari ikan.
Itu setali tiga uang dengan Ir Ignatius Mulyadi. Penangkar ikan di bilangan Serpong, Tangerang, itu menuai omzet tinggi saat Aquarama 2005 berlangsung. Sebanyak 20 Polypterus senegalus longfi n ludes diborong importir Jepang. Padahal harga seekor ikan bersirip panjang itu mencapai Sin$100 setara Rp600.000 per ekor untuk ukuran kecil, 6—7 cm. Sedangkan ukuran besar dihargai Sin$200 atau Rp1,2-juta setiap ekornya. Artinya, Mulyadi mampu meraup omzet puluhan juta untuk penjualan ikan longfi n saja.
Itu belum termasuk 2 ikan baru lain, redfrontosa dan brownghost. “Tetap laku walaupun harganya tinggi,” ucapnya. Sebanyak 20 ikan bergaris lurik merah itu juga diborong penangkar Jepang dengan harga Rp1,3-juta per ekor untuk ukuran 3—4 cm. Banyak mania ikan hias dari negeri Matahari Terbit mengincar ikan-ikan baru dari Indonesia setelah blackghost mencapai popularitas di sana.
Menurut ayah 3 putra itu ikan jenis baru selalu diminati orang. Sayang, ikan asli Indonesia itu belum dikembangkan secara besar-besaran. Prediksi alumnus Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor itu dalam 1—2 tahun ke depan ikanikan baru itu akan tren. “Sekarang masih diperbanyak. Diharapkan permintaan bisa mencapai ratusan hingga ribuan ekor per bulan nantinya,” ujarnya.
Tanaman hias air
Tak melulu ikan hias yang dicari pengunjung dan pemain ornamental aquatic. Tanaman hias air tawar dan beragam koral diminati pebisnis Singapura, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, Jepang, Amerika Serikat, dan Jerman. “Permintaan tanaman hias air tawar dari Singapura mencapai 20—40 boks per minggu,” ujar Sansan asisten manager PT Intenental PRI. Malahan permintaan itu diperkirakan meningkat 20—30% usai Aquarama 2005.
Koral dan beragam ornamen laut juga diminta Amerika Serikat dan Jerman, sebanyak 1.000 boks atau 2 ton per minggu. M e n u r ut Sansan pemain baru bisnis aquatic plant meningkat sekitar 10—20% dibanding 2 tahun silam seperti dari Uni Emirat Arab, Australia, dan Jepang.
Itu diamini John Duff y, praktisi akuarium air laut di kawasan Kebonjeruk, Jakarta Barat yang sengaja datang ke Aquarama. “Tren akuarium air laut pasti naik. Lihat saja, di Aquarama setiap stan memajang peranti akuarium air laut,” kata John. Mulai dari lampu, akuarium, terumbu karang, koral, batu, bahkan kontes akuarium air laut pun dilaksanakan. Menurutnya semua itu akan memicu tren akuarium air laut di Indonesia.
“Harusnya Indonesia yang menjadi trend centre untuk aquascaping karena sudah dimulai 1—2 tahun lalu,” ujar Achmad Rahardjo, manajer Raiser Ikan Hias Cibinong yang bertandang ke sana. Menurutnya tren aquascaping mulai merambah dunia internasional. Otomatis semua peranti dan ornamen penunjang selain tanaman air seperti ikan, chiller, pupuk, hingga lampu juga dibutuhkan.
Mendunia
Tren ikan hias saat ini semakin mendunia. Industri ikan hias berkembang sangat cepat di seluruh dunia. “Saat ini perdagangan industri ikan hias dunia mencapai US$190-juta. Ini menunjukkan tren ikan hias tetap baik bagi industri dan hobiis,” ucap Dr Vivian Balakrishnan, Menteri Kedua Perdagangan dan Industri Singapura saat pembukaan Aquarama 2005.
Tren ikan hias tak hanya terjadi di negara maju, tapi juga di negara berkembang seperti Sri Lanka. “Singapura dan Malaysia kini meminta rutin guppy.” ucap Rahumathullah Wazir, eksportir ikan hias Sri Lanka. Menurut pemilik Wazir&Company, Sri Lanka baru mengisi 4% pasar dunia untuk guppy, swordtail, molly, dan beberapa jenis ikan hias lain. Volume ekspor rata-rata 1-juta pasang/jenis ikan per tahun dengan harga Sin $10/pasang. Artinya, masih terbuka peluang pasar 96%. Apalagi kualitas ikan mulai diperhitungkan oleh negara lain.
Tak heran bila negara penghasil teh terbesar kedua dunia itu kini mengembangkan guppy dan swordtail secara besar-besaran. Sebagai negara tropis, wajar bila Sri Lanka dikenal sebagai surganya Poecilia reticulate dan Xiphophorus helleri. “Di sana (Sri Lanka, red) kini terdapat 20 eksportir dan 300 perusahaan besar yang terkait dengan ikan hias,” ucap MS AGC Kiriella, wakil direktur Sri Lanka Export Development Board (EDB).
Tak hanya ikan hias yang banyak diminta pengusaha ornamental aquatic. Bebatuan seperti jenis batu zambizi, snow, fi re, leper mix, dan volcano banyak diminta untuk aksesori akuarium. “Banyak yang memesan dari Belanda, Italia, dan Amerika Serikat,” kata Tania Du Perez, pengelola stan Aquagravel International South Africa asal Afrika Selatan.
Berbagai produk pendukung kehidupan ikan hias juga menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Buktinya sebanyak 226 perusahaan terkemuka dari 26 negara memamerkan aneka produk terbaru seperti pakan, fi lter, pompa, lampu, hingga alat pengemasan. “Namun, produk terbaru itu harus bermanfaat bagi konsumen,” ujar Svein A Fossa, presiden Ornamental Fish International (OFI) saat diwawancarai Trubus.
Perusahaan-perusahaan ternama seperti EHEIM, OASE, BOYU, ENKEV BV, sudah sejak lama terjun di bisnis peranti itu. Tak heran bila mereka berlomba mengeluarkan produk terbaru. ENKEV BV misalnya. Perusahaan ternama asal Belanda itu mengeluarkan produk biological fi ltermats untuk koi. Berbahan halus dan berteknologi tinggi, koi dapat tinggal nyaman di sana karena bebas bakteri dan kuman. “Koi ikan nomor satu di Belanda. Ia sangat tren di sana,” ucap Pim van Doesburg, pemilik perusahaan.
Bersua
Indonesia hanya menghadirkan 3 perusahaan yaitu Indag Agro Jawa Barat, PT Harapan Maju Indah, dan PT Intenental PRI. Namun di luar itu hampir semua eksportir kawakan Indonesia berdatangan. Sebut saja Herman Oei, Susanto Herlambang, Iwan Dermawan, dan Jap Khiat Bun. “Saya ingin melihat jenis ikan hias yang diminta pasar dunia,” ujar Herman Oei, eksportir ikan-ikan eksotis asal BSD, Serpong.
Begitu pun Achmad Raharjo, manajer Raiser Ikan Hias Cibinong. “Di sini kita bisa memantau isu global ikan hias,” ujarnya. Berkunjung ke farm-farm ikan untuk melihat potensi pasar yang bisa dikembangkan di Indonesia tak lupa diagendakan. Berbeda dengan Herman dan Raharjo, Susanto Herlambang, pemilik PT Aneka Tirta Surya di bilangan Kebayoranlama, sengaja meluangkan waktu untuk bersua dengan rekan bisnis lama di Aquarama. “Jalan-jalan sekalian bertemu rekan bisnis lain,” ucapnya.
Selama Aquarama berlangsung tidak kurang 25.000 pengunjung memadati areal 10.000 m2 itu. Seperti halnya pengunjung dari Indonesia, mereka selain mencari peluang usaha ada juga yang sekadar menyaksikan kemolekan lebih dari 300 jenis ikan hias dari berbagai penjuru dunia. (Rahmansyah Dermawan)
